Guardian Flower

Guardian Flower
Yang Kedua, Bukan Yang Pertama


__ADS_3

'Simba, nyium bibir aku?!' jerit Liara dalam hati.


Bukan hanya bibirnya saja yang menjerit tapi juga kedua matanya ikut membulat sempurna. Napasnya yang sudah ada di kerongkongan masuk lagi kedalam paru paru, dia tidak dapat bernapas untuk beberapa saat sebelum Lionel menjauhkan bibir mereka berdua.


"Maaf," ujar Lionel dengan nada bersalah.


Pria itu menegakan kepalanya, kedua matanya menatap ke arah luar- memastikan kalau orang orang itu sudah tidak ada lagi.


Lionel belum memperhatikan perubahan raut wajah Liara saat ini, ruam merah mulai menghiasi wajah ayunya, bukan hanya itu bahkan Liara hampir mimisan di buatnya. Ini adalah hal yang sama sekali belum pernah dia rasakan dan lakukan selama hidup hampir 21 tahun.


"Ka-kamu cium aku tanpa izin, di bibir? kamu udah nyuri ciuman pertama a-,"


"Kedua!" sahut Lionel enteng.


Liara yang masih tidak percaya semakin dibuat ternganga, gadis itu sudah tidak dapat bernapas dengan baik sekarang.


'Kedua katanya, kapan?'


"Kedua? ma-maksudnya-,"


"Saat kau tidak sadarkan diri di perkemahan. Maaf, aku harus memberikan napas buatan untuk mu karena kau tenggelam di sungai waktu itu." Lionel tidak dapat menutupinya lagi. Ya mau bagaimana lagi, ini memang kedua kalinya dia menyentuh bibir tipis, merah, manis dan cerewet itu.


"SIMBA KAMU!"


"Sorry," ujarnya meminta di belas kasihani.


"Bohong! Simba bohong!" pekiknya lagi.


Lionel bangkit dari atas tubuh Liara, pria itu mengusap kepala bagian belakangnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, Liara pasti akan mengamuk saat tahu kalau dirinya sudah mencuri ciuman di lokasi kemah.


"Aku akan bertanggung jawab!" ucap Lionel penuh kesungguhan. Entah tanggung jawab yang seperti apa, yang pasti dia akan bertanggung jawab. Apa Lionel berharap kalau Liara akan hamil setelah bersentuhan bibir dengannya? dasar Singa Tua gila.

__ADS_1


"Tanggung jawab! tanggung jawab apa?!" suara Liara semakin menjadi, bersyukurlah mobil ini cukup baik untuk meredam amarah Liara agar tidak sampai ke luar.


"Apa saja, kalau kau mau- kau boleh membalasku. Kau bisa mencuri ciuman pertama ku juga sebagai gan-,"


"DADDYYYYY!" bukannya tenang mendengar ucapan mantan ajudannya, Liara malah makin histeris.


Dia segera bangkit dan hendak membuka pintu mobil namun Lionel dengan cepat menghalanginya.


"Sssttt- kenapa berteriak memanggil Tuan Besar. Oke, aku minta maaf karena sudah-,"


"Simba bohong!" pekiknya lagi.


Lionel menghirup napasnya dalam, pria yang tidak memakai pakaian bagian atas itu menatap lekat pada gadis yang sudah mulai menangis.


"Aku tidak berbohong Princess. Ini memang ciuman kita yang kedua walaupun dengan tidak kesengajaan, sorry. Kau bisa membalasku dengan-,"


Ucapan Lionel terhenti saat melihat tatapan Liara tertuju ke arah lain. Tepatnya pada Simba Kecil yang masih terselimuti celana jeans berwarna pudar yang di pakainya.


"Tolong jangan lagi." pintanya.


"Kau bisa memukul ku di bagian lain. Kepala, dada, punggung, tangan, kaki, atau kau bisa menggigitku hingga puas, tapi please jangan disana lagi. Kalau kau melakukannya, aku yakin tidak akan ada Simba Junior yang hadir nanti." Lionel semakin di buat tidak berdaya kala melihat ekspresi yang di tunjukan oleh Liara.


Terlebih gadis itu terus saja memusatkan pandangannya ke area yang rawan terkena goncangan. Lionel meringis sendiri, dia masih bisa merasakan bagaimana ngilu sakit berdenyut Si Simba Kecil kesayangannya itu, saat Liara menendangnya.


"My Flower, aku tahu kau marah tapi aku mohon- AAKKHHH!"


Lionel memekik kala Liara menyerangnya secara tiba tiba, gadis itu memang tidak menyerang bagian yang rawan goncangan, melainkan menggigit ganas dan keras di area dada hingga pundaknya.


Bahkan tanpa ampun Liara memukuli Lionel dengan kedua tangannya. Tanpa sadar dia sudah berada di atas pangkuan sang mantan ajudan, Lionel tak bergeming- dia membiarkan Liara melakukan apa pun asal masa depannya yang dibawah sana selamat dunia akhirat.


"Aku gak peduli kamu mau punya anak apa enggak! pokoknya aku marah, aku mau cekik kamu, aku mau laporin kamu ke Daddy, pokoknya aku maraaaaahhhh!"

__ADS_1


Liara terus meracau, dia semakin brutal- air matanya mulai keluar. Entah air mata apa yang di keluarkan, dirinya saja tidak tahu.


"Oke, lakukan apa pun yang kau mau. Tapi sekarang kita harus pergi dari sini, keluarlah terlebih dahulu nanti aku menyusul!" Lionel berucap dengan tenang, padahal Singa Betina masih menggigit bahu telanjangnya.


Tapi setelah mendengar ucapan Lionel, gigitan Liara mengendur. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Lionel dengan tidak bersahabat. Tanpa di perintah dua kali Liara turun dari pangkuan Lionel dan segera keluar dari mobil.


Braak!


Dengan napas naik turun Liara membanting pintu mobil sangat kencang, kedua kakinya kembali melangkah- namum langkahnya terhenti kala kedua telinganya mendengar hembusan angin dari arah belakang tubuhnya.


Liara berbalik, kedua matanya kembali mendelik saat melihat apa yang sedang Lionel lakukan pada ban mobilnya.


Si Singa Tua mengempesi ban mobil depan dan belakang, menggunakan sebuah pisau.


Astaga Dragon Ball!


"Kamu ngapain ngempesin mobil a-,"


"Agar mereka tidak curiga kenapa pemiliknya tidak membawa mobil ini saat pulang nanti. Aku akan menyuruh bengkel mendereknya nanti, sekarang kita pergi dari sini!"


Lionel mendekat pada Liara setelah pria itu memasukan belati kecil miliknya kedalam saku celana, tubuh yang hanya berbalut jaket itu dia biarkan terbuka begitu saja di bagian depan.


"Kamu bawa pisau?" tanya Liara sedikit ngeri.


Lionel menoleh, "Ya, aku menyimpannya di-,"


"Aku tau dimana, gak usah di lanjutin!" potong Liara cepat sembari menutupi kedua telinganya, dia mendahului Lionel yang masih mengernyit heran melihat ekspresi sang Princess.


"Ya, aku menyimpannya di saku celana." cetusnya lagi setelah Liara menjauh darinya.


__ADS_1


**KUATIN IMAN BANG 😆😆😆


SEE YOU MUUUAAACCHH😘😘**


__ADS_2