
Cumbuan yang Lionel lakukan pada Liara terhenti, kedua telinganya berkedut kecil saat mendengar deru mesin semakin mendekat ke arah mereka. Lionel melepaskan pagutannya di area bibir Liara, kedua matanya menatap lurus ke arah depan.
Tanpa berbicara apa pun Lionel segera merengkuh tubuh lemas Liara dan membawa gadis itu menuju salah satu batu karang. Sedikit tergesa agar mereka cepat sampai dibalik batu, Liara yang belum sadar sepenuhnya hanya menurut dengan napas terengah.
Kedua mata sayunya menatap lekat pada wajah Lionel, tanpa berkedip dan beralih ke lain tempat. Bahkan saat pria itu terus menarik tubuhnya Liara terlihat pasrah.
Kapal besar kian mendekat setelah Lionel dan Liara bersembunyi dibalik batu karang. Posisi keduanya saling berhadapan, Lionel menempatkan Liara di hadapannya, bersandar dibatu karang yang cukup besar dan tinggi.
Kedua mata Lionel terus saja terarah ke satu titik dimana kapal berada, sedangkan Liara- gadis itu tidak berkedip sama sekali kala menatap wajah Lionel yang terlihat khawatir.
"Kita harus pergi ke arah pulau, aku takut kalau kapal itu adalah-,"
Ucapan Lionel terhenti saat ekor matanya melihat Liara terus saja menatap ke arahnya tanpa berkedip. Dahi pria itu berkerut dalam, terlihat heran- tapi tidak lama Lionel menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Astaga!" serunya tertahan.
Lionel mengusap wajahnya kasar, dia baru menyadari kalau Liara terlihat seperti orang yang tengah terkena hipnotis. Apa memang sebegitu panasnya ciuman mereka tadi hingga membuat sang gadis seperti orang linglung?
"Princess!" panggilnya.
Lionel menepuk wajah Liara, dia mencoba menyadarkan gadis itu. Kalau dibiarkan seperti ini terus mereka akan susah untuk menghindar dan pasti akan ketahuan.
"Prin-,"
Ucapan Lionel terhenti saat Liara tiba tiba menabrak tubuhnya, gadis itu tidak sadarkan diri setelah terdiam beberapa saat. Lionel memejamkan kedua matanya, pria itu mengumpat dalam hati dan segera menggendong tubuh Liara.
Tapi dia tidak membawa gadis itu kearah pulau, melainkan bergerak menyusuri batu karang besar yang menjadi tempat persembunyian mereka sekarang.
Lionel berusaha menopang tubuh Liara agar tetap berada didalam dekapannya, dia membelitkan kedua tangan gadis itu di lehernya dan tanpa izin memberikan kecupan lembut di dagu Liara.
"Kau bahkan sampai tidak sadarkan diri hanya karena aku cium, lalu bagaimana caranya kita membuat Bayi Singany, hm?" gumam Lionel.
__ADS_1
Dia terkekeh pelan sembari mengusap punggung Liara yang masih basah, Lionel menghela napasnya kasar, dia berusaha mempertahankan posisinya agar Liara merasa nyaman. Dia yakin kalau gadis Albarack ini akan tersadar sebentar lagi.
Deru mesin kapal kian mendekat, Lionel kembali mengalihkan pandangannya ke arah lautan. Kapal itu terlihat berhenti, dan tidak lama turun beberapa sekoci dari atas kapal berserta penumpangnya.
Masih samar samar karena jarak cukup jauh dari jangkauan Lionel, tapi dia tahu kalau diatas sekoci itu ada banyak orang yang mulai mendekat ke arah pantai.
Dan sialnya sekoci miliknya serta Liara terparkir tidak jauh dari pondok.
Sialan! mereka pasti mengetahui keberadaan dirinya dan Liara ditempat ini.
Deru mesin sekoci itu terhenti, beberapa orang yang berada cukup jauh dari Lionel dan Liara mulai turun dan melompat ke air. Mereka terlihat bergegas berlari menuju arah pulau, dahi Lionel mengernyit matanya menyipit guna memastikan apa yang dia lihat jelas dan benar.
"ADA SEKOCI DISINI!" seru salah satu dari mereka.
Lionel panik, dia semakin menyembunyikan tubuhnya dan Liara dibalik batu karang. Ekor matanya terus saja memastikan kalau orang orang itu tidak terarah ke tempatnya.
"Kau benar, mereka pasti ada di pulau ini!" sahut rekannya.
Beberapa dari orang orang itu menyebar, sedangkan dua orang yang ada di dekat sekoci terlihat mengedarkan pandangannya. Kedua mata mereka tertuju pada pondok yang dibuat oleh Lionel.
"Mereka ada disini," desisnya.
Salah satu dari mereka berjalan menjauh dari sekoci, mendekat ke arah sekoci guna memastikan sesuatu.
"DAHLIARAAAA, KALIAN DIMANA?!INI DADDY!"
Suara itu menggema membelah pulau, bahkan sangat terdengar jelas oleh orang orang yang tengah menyusuri pulau dan pantai. Bukan hanya orang orang itu, tapi juga Liara yang masih tidak sadarkan diri didalam dekapan Lionel.
Gadis itu reflek membuka kedua matanya, terlihat berkedip cepat dan meronta meminta turun.
"PRINCESSS, INI DADDY SAYANG!" teriaknya lagi.
__ADS_1
Kedua mata Liara kian membulat, gadis itu turun dari gendongan Lionel dengan cepat. Bahkan saat Lionel menahan lengannya, Sang Bunga Albarak tidak menurut.
"Liara, kau tidak boleh-,"
"DADYYYYYY!" panggilnya kencang.
Lionel hanya menggelengkan kepalanya, pria itu menghela napas kasar dan segera menyusul langkah Liara.
"DADDYYYY AKU DISI-,"
BOOMM!
"AAAKKKHHH!"
Liara terduduk dan menutup kedua telinganya saat mendengar sebuah ledakan mengarah ke pulau, bersyukur tubuhnya tidak mengalami luka apa pun.
"LIARA!" pria yang memanggil Liara tadi terlihat panik, bukan hanya pria itu tapi juga Lionel yang berada di belakang.
"Mereka mengikuti kita Tuan, ternyata pria jelek itu berhasil kabur." cetus salah satu bawahan Elvier yang tidak lain adalah Murad.
Elvier terdiam, dia menatap ke arah sebuah kapal motor yang semakin mendekat ke arah mereka.
"Bawa Liara ke kapal!" titahnya.
PANTESAN JADI KANG SOSORππ
HAK PATENNYA KEMBANG KUNTI NIHπππ DADDY ELVIER
__ADS_1