
Sudah beberapa hari ini Liara terlihat kesal. Hampir satu pekan Lionel sama sekali tidak menampakan rambut gondrong bak Singa miliknya, atau pun batang hidung nan mancungnya.
Bahkan setiap malam Liara berpura pura untuk tidur, tapi dia tidak kunjung mendapati Lionel masuk kedalam kamarnya atau sekedar melihatnya dari balkon.
Malam makin larut, kedua mata Liara enggan terpejam- netra tajamnya terus saja tertuju pada langit malam. Gelap, suram, tidak ada sedikit cahaya pun, sama seperti suasana hatinya sekarang. Helaan napasnya kembali terdengar, gadis itu berbalik- meninggalkan balkon kamarnya yang sepi.
Kedua kaki telanjangnya melangkah pelan, terasa berat dan tidak rela. Liara masih berharap kalau pria bertato ular itu akan datang dari balkon seperti yang pernah dilakukannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi karena sekian lama dirinya menunggu hanya ada suara burung hantu serta hewan malam lainnya yang menyapa.
Dengan perlahan Liara membuka kaca pembatas balkon, tapi belum sempat pembatas kaca itu terbuka lebar suara hentakan sepatu berhasil membuat tubuh Liara menegang. Gadis itu terpaku sejenak sebelum menoleh untuk memastikan sesuatu.
Kosong
Tidak ada siapa pun dibelakangnya. Dahi Liara mengernyit, dia menatap heran ke arah ruang kosong dan remang yang tidak jauh darinya. Tidak ada apa pun disana, padahal dia mendengar dengan jelas kalau ada sesuatu dibelakangnya.
"Apa cuma perasaan aku aja ya?" gumamnya.
Liara kembali mende**sah, dia menunduk dan kembali membalikan tubuhnya menghadap kaca pembatas balkon. Namun tubuhnya tersentak hebat saat kedua matanya melihat seseorang sudah duduk santai diatas tempat tidurnya.
Gadis itu mengerjap beberapa kali, bahkan menggosok kedua matanya berulang kali untuk memastikan apa yang dia lihat sekarang bukanlah fatamorgana.
"Nih mata kayaknya mulai bermasalah deh." gumamnya lagi.
Liara menggeleng, bahkan menepuk pipinya sebelum masuk kedalam kamarnya. Dia masih belum percaya kalau yang dilihatnya saat ini asli atau hanya bayangan saja.
"Kau akan tetap disana, Tuan Putri?"
Tubuh Liara kembali tersentak, gadis itu reflek menoleh setelah menutup rapat kaca balkon dan tirai besar di kamarnya. Kedua mata Liara semakin membeliak, bahkan terkesan melotot kala melihat orang yang tengah duduk santai diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Kamu? kamu ngapain disini? kenapa bisa masuk, lewat mana huh?"
Liara terlihat shock, kedua kakinya melangkah cepat menuju tempat tidur. Wajahnya panik setengah mati, dengan cepat dia berlari menuju pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
"Kenapa? bukankah kau merindukan ku. Aku lihat sedari tadi kau melamun di balkon, apa yang sedang kau pikirkan?" orang itu bangkit, tubuh kekar tingginya perlahan mendekat pada Liara. Kedua mata tajamnya menyorot dalam dan lekat pada gadis yang terlihat galau dan shock secara bersamaan.
"Kata siapa? orang aku lagi liatin bintang, sok tau kamu!" cetusnya.
Suara Liara terkesan ragu dan tersendat, bahkan dengan kasar dia menabrak tubuh Lionel agar segera dapat berbaring di peraduannya. Namun langkahnya terhenti saat salah satu lengannya ditarik paksa, hingga membuat tubuhnya kembali mundur dan mendarat sempurna di dalam dekapan seseorang.
"Aku merindukan mu." bisiknya.
Napas Liara tersengal, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kedua tangannya masih terpaku di sisi, dia tidak bergerak sedikit pun. Tubuhnya lambat untuk merespon, namun tidak dapat Liara pungkiri kalau ada rasa berbeda yang sedang dia rasakan dalam hatinya sekarang.
"Jangan pernah keluar dari kamar mu saat malam hari, walaupun hanya di balkon!" ucapnya lagi, kali ini penuh dengan keseriusan.
Selepas kejadian di apartemen, Lionel hanya mengantarkannya kekediaman Gentala lalu setelah itu menghilang entah kemana.
Tanpa pamit, tanpa memberitahu kemana dan dimana. Bahkan nomor ponsel yang Liara miliki sudah tidak dapat di hubungi lagi.
"Kamu kemana? udah seminggu ini gak ada kabar." lirihnya.
Salah satu sudut bibir Lionel terangkat, pria itu menumpukan dagunya di pucuk kepala Liara. Kedua matanya terpejam, dekapannya masih erat seakan enggan untuk melepaskannya. Entah apa yang sedang terjadi pada mereka, yang jelas tidak dapat di pungkiri kalau banyak kata rindu di mata keduanya.
"Aku selalu ada di sekitar mu. Kau saja yang tidak tahu, aku tidak terlihat bukan berarti aku pergi kau harus tahu itu, My Flower." balasnya.
Liara tidak menyahut, gadis itu malah semakin mengeratkan dekapannya. Dia hanya mengangguk, dan mengiyakan apa pun yang Lionel ucapkan.
__ADS_1
Hingga...
Tok
Tok
Tok
"ARA, BUKA PINTU! INI GRANDPA. KATA MANG USMAN TADI ADA TIKUS MASUK KE KAMAR KAMU LEWAT BALKON, GRANDPA SAMA MANG USMAN MAU BURU DIA BUAT MAKANAN SI KOJEK!"
Liara tersentak, kedua matanya yang terpejam kembali membelalak. Dia mendongak dan menatap lekat pada Lionel yang masih santai sembari mendekap tubuhnya.
"Grandpa! kamu ngumpet ih, kenapa malah diem aja sih!" Liara panik bukan main, tapi pria yang mendekapnya ini malah terlihat santai seakan tidak terjadi apa pun.
"ARA BUKA PINTINYA! KALO GAK GRANDPA PANGGILIN TUKANG SEMPROT HAMA BUAT BERSIHIN KAMAR KAMU!" suara Gentala kembali terdengar, dan itu semakin membuat Liara panik setengah mati.
'Astaga Dragon Ball, aku kudu gimana ini?' paniknya.
SI ENENG GALAU
ABANG SAPI DERMEN DATANG
__ADS_1
BODO AMAT DIKAWININ JUGA MUEHEHEHE