Guardian Flower

Guardian Flower
Khawatir


__ADS_3

Mereka beristirahat hanya beberapa menit. Karena waktu dan matahari mulai condong ke ufuk barat- yang menandakan kalau perjalanan mereka tidak lama lagi sampai di garis finis.


Liara yang juga menjadi pemegang kompas terlihat begitu serius. Dia tidak sabar ingin segera sampai di garis akhir, kedua matanya menatap ke arah depan. Di depan sana tidak ada lagi punggung lebar yang tadi dia lihat. Mungkin pemilik punggung kokoh itu sudah sampai di lokasi dan tengah beristirahat.


Banyak langkah yang Liara dan rekannya ambil, hingga tidak sadar matahari mulai menguning, angin berhembus cukup kencang, langit menggelap sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.


Liara semakin melebarkan langkahnya, Sigit pun sudah memberi instruksi untuk mereka agar bergegas. Angin yang berhembus dan cuaca yang menggelap ditambah lagi rimbunnya pepohonan membuat suasana disekitar mereka butuh cahaya.


Tanpa berpikir lagi salah satu dari mereka menyakan senter yang sudah dipersiapkan. Keadaan perlahan membaik, langkah yang mereka ambil semakin cepat karena rintik hujan mulai turun.


Namun sayang tidak lama butiran air langit menyerbu mereka berempat, begitu deras hingga tidak ada tempat yang bisa mereka jadikan perlindungan. Jalanan menanjak dan terjal menjadi kendala, selain licin susananya pun perlahan gelap membuat mereka harus berhati hati agar tidak terjatuh.


Disisi lain, sebagian kelompok sudah sampai digaris finis- termasuk kelompok Delila dan Hyena. Lionel pun sudah duduk di bawah tenda kecil yang sudah tersedia disana, kedua matanya memindai setiap orang yang baru sampai, tapi orang yang dia cari tidak kunjung tiba. Hujan pun makin deras, bahkan sesekali kilat menyambar, ekor mata Lionel melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore lewat 58 menit. Cukup sore dan sebentar lagi senja, rasa cemas mulai menguasai hatinya.


"Apa semua kelompok sudah sampai?"


Semua orang saling melirik dan memindai. Mereka tengah memastikan kalau tidak kelompok yang terjebak hujan di luaran sana apa lagi di hutan.

__ADS_1


"Sepertinya su-,"


"Pak, kelompok Sigit belum kembali. Raida, Tasya, Mala dan Dahliara, mereka berempat belum sampai!"


Pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu dosen wanita membuat kedua mata Lionel mendelik. Kedua tangannya terkepal, rahangnya mengetat dan kedua matanya menajam.


"Sialan!" umpatnya.


Tanpa menunggu lama Lionel segera keluar dari tenda, pria itu berbalik kembali berlari menuju area hutan tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Hyena yang tengah sibuk mengoceh pada gengnya.


Jiwa pemburunya bangkit seketika, dia tidak ingin membuang waktu lagi. Dia harus segera menemukan kelima orang itu terlebih Sang Bunga.


dan tidak mengikuti ucapan gadis bangkai itu. Aku tidak akan melepaskan Hyena kalau sampai sesuatu terjadi padamu," desisnya.


Lionel semakin kencang berlari, ponsel yang ada di tangannya menjadi salah satu penerangan yang dia jadikan teman.


Dadanya berdetak lebih kencang, dari jauh dia dapat melihat sebuah cahaya namun Lionel tidak tahu cahaya apa itu.


"Tolong! salah satu teman kami terpeleset dan terjatuh. Dia hilang di sungai, dia-,"

__ADS_1


Lionel tidak dapat mendengar dengan jelas, pria itu semakin berlari kala mendengar suara wanita yang tidak dia kenali.


"Kau rekan kelompoknya Liara, Nona?" tanyanya cepat.


Gadis itu mengangguk, pakainya basah kuyup, napasnya terengah, raut lelahnya amat ketara.


"Katakan dimana sisa kelompok mu!"


"Mereka sedang membantu Liara yang terpeleset dan terguling, lalu hilang di sung-,"


Belum sempat gadis itu mengatakan semuanya, Lionel sudah terlebih dahulu berlari kencang. Hujan deras yang mengguyur tubuhnya tidak lagi dia pedulikan, bahkan beberapa kali dia juga terjerembab ke tanah yang basah dan becek.


"Aku akan membunuh mu Hyena, aku akan melenyapkan mu kalau sampai terjadi sesuatu pada gadis bunga ku!" geramnya.



**PUSING BANG, DI JEDOTIN AJA 🏃🏃


SEE YOU TOMORROW MUUUUAAACCHH😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2