Guardian Flower

Guardian Flower
Pertahanan Liara


__ADS_3

Tubuh Liara sedikit bergetar saat penjaga sudah berhasil membawa didepan salah satu kamar di kapal ini. Liara berulang kali menelan salivanya, jari jemarinya saling bertaut- sesekali terulur membenarkan tali gaun yang terlampir di bahunya.


Saat ini penampilan Liara sudah berubah, dia terlihat seperti seorang putri dari timur tengah. Liara memakai pakaian khas penari perut, menampilkan pusar dengan sebagian wajah tertutup. Rambut panjangnya di tata sedemikian rupa, kedua mata indahnya terlihat berkaca kaca.


Ingin rasanya Liara berteriak sekuat mungkin, tapi tenggorokannya terasa kering hingga hal itu tidak mungkin dilakukannya saat ini. Terlebih penjaga yang tengah memanggil pemilik kamar didepannya saat ini terus saja melirik tajam.


'Simbaaaa kamu dimana? aku takut. Lihat, aku udah kayak penari erotis, kamu dimana sih?' Liara berteriak dalam hati.


Jantungnya kian berdegup kencang saat ketukan penjaga itu kembali mendengar.


"Tuan Salim, aku membawa barang lelang yang kau dapatkan!" seru sang penjaga dalam bahasa asing.


Liara yang memang lahir di tanah Arab sangat mengerti apa yang dikatakan oleh pria didekatnya. Wajahnya gadis itu mendatar saat mendengar kata barang lelang yang keluar dari mulut pria sialan ini.


'Onta Arab! awas aja ku buat kamu lumpuh kalo berani macam macam!' ancannya dalam hati.


"`Adkhaluhu!" [Suruh dia masuk!]


Penjaga itu tidak menyahut, dia hanya membuka pintu lalu menarik lengan Liara cukup kencang dan mendorongnya masuk.


Braaak!


Pintu kembali tertutup dan otomatis terkunci, Liara yang memang tidak tahu harus berbuat apa lagi hanya pasrah dan kini sudah berdiri mematung di depan pintu. Jari jemarinya saling memilin, kepalanya tertunduk- Liara sama sekali tidak mau melihat apa pun, termasuk orang yang saat ini tengah duduk di kursi dan membelakanginya.


Suasana temaram membuat ruangan ini begitu remang, Liara tidak dapat melihat apa pun dengan jelas. Bahkan dia juga tidak tahu rupa orang yang menawar harga tinggi untuknya, karena wajah orang itu hanya terlihat sebagaian itu pun dari kejauhan.


'Simba, aku takut,' lirihnya dalam hati.


Pikiran buruk kian menghantuinya, Liara bukan gadis bodoh yang tidak paham situasi ini. Dia yakin kalau harga 500 juta dolar itu bukan hanya ingin membeli kebebasannya, tapi juga harga dirinya.


Apa yang akan dilakukan Onta Arab itu padanya setelah ini?


"`Aiqtaraba!" [Mendekatlah!]

__ADS_1


Liara kembali tersentak saat mendengar suara orang yang masih membelakanginya, bahasa asing yang digunakan orang itu membuat Liara tidak dapat menebak apakah Onta Arab ini tampan atau malah buruk rupa?


Sang gadis tidak menurut, Liara tetap pada posisinya. Dia mempertahankan apa yang ingin dipertahankan, tidak peduli dengan harga 500 juta dolar yang sudah pria itu gelontorkan tadi.


Salah siapa coba?!


"Kau tidak mau menurut padaku-,"


Pria itu memutar kursi yang di dudukinya, namun kata kata yang hendak dia lontarkan kembali tertelan kala kedua matanya melihat pemandangan langka yang jarang atau bahkan tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Liara yang mendapat tatapan itu sedikit risih, dia berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka. Tidak terlalu besar, tapi cukup membuat jakun pria sialan yang tengah menatapnya naik turun.


Dan sesuai dengan dugaan Liara, pria itu bangkit- wajahnya yang tertutup sebagian membuat Liara tidak dapat mengenalinya, dan juga pakaian khas timur tengah yang menutupi seluruh tubuhnya, membuat Liara sulit untuk memastikan bagaimana kondisi orang yang ada dibalik pakaian itu.


Muluskah? atau malah burik dan kudisan?


Liara bergidik memikirkannya, reflek kedua kaki telanjangnya mundur hingga punggungnya menyentuh daun pintu.


"Jangan mendekat!" seru Liara dalam bahasa asing.


Braakk!


Tanpa peduli harga barang itu, Liara melemparkannya ke arah si Onta Arab. Tapi sayangnya pria itu berhasil menghindar, dari balik kain yang menutupi mulut hingga hidungnya sebuah senyuman tipis terbit.


Kedua kaki berbalut sepatu khas aladin itu berjalan mendekat pada Liara yang masih terlihat panik. Di tangan gadis itu sudah ada lampu tidur yang siap dia banting ke arah kepala lawannya.


"Kalau berani mendekat, jangan salahkan aku kalau kepala mu akan bo- AAKKHH!"


Liara memekik keras saat pria itu tiba tiba menerjangnya dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Sang gadis memberontak, dia mendendang, menjambak, memukul, melakukan apa pun sebagai bentuk perlawanan diri.


"ONTA SIALAAAN LEPASIN GUE!" Liara sudah hilang kendali, dia tidak peduli bahasa yang di ucapkannya sekarang. Yang jelas dirinya harus bisa melawan dan terbebas dari cengkeraman pria yang ada diatas tubuhnya ini.


"SIMBAAAAAA!" jeritnya lagi.

__ADS_1


Liara terus saja meronta, kedua tangan serta kakinya sudah terkunci rapat, dia tidak bisa lagi bergerak. Tangannya berada diatas kepala, sedangkan kedua kakinya sudah mengang*kang karena dikunci oleh pria yang tengah menatapnya dalam.


Napas Liara memburu, kedua matanya sudah memerah, dadanya naik turun membuat penampilannya kian menantang. Ingin rasanya dia menangis sekarang, Liara merasa harga dirinya terinjak, terlebih saat pria yang tengah mengukungnya ini semakin mendekat ke arah wajahnya.


Walaupun Liara memakai cadar, tapi benda itu sangat tipis dan hembusan napas si pria masih dapat dia rasakan. Liara menutup kedua matanya saat pria itu kian mendekat ke arah bibirnya, dan dengan perlahan menarik cadar yang dirinya pakai menggunakan mulut.


Padahal mulut pria itu masih terhalang, tapi kenapa bisa lihai sekali melakukannya.


"Aku belum pernah melihat mu seperti ini, Princess. Kau tahu, kau terlihat lebih sexy dari sebelumnya," bisiknya pelan tepat didepan bibir Liara.


Bahasa yang digunakan dan suara itu begitu berbeda, kedua mata Liara seketika terbuka dan membulat sempurna.


"Simba?" lirihnya.


Pria yang tengah mengukungnya itu tersenyum tipis dibalik penutup wajahnya.


"Panggil aku Tuan, aku sudah membel-,"


"SIMBAAAAAAAA JANGAN NYARI KESEMPATAN YAAAA!" Liara memekik kencang, dia kembali meronta dan memberontak. Bahkan tanpa segan memberikan gigitan di pundak pria yang masih mengukungnya, hingga pria itu juga memekik keras.


Sementara ditempat lain, tepatnya disebuah lorong- seorang pria berwajah Arab baru saja sadarkan diri. Pria itu berjalan sempoyongan dengan kondisi setengah bugil, membuat orang orang yang melihatnya tertawa.


"Tuan Salim! kenapa anda disini? bukankah anda tadi berada dikamar bersama gadis lelangan yang anda dapatkan?"


Kebetulan sekali penjaga yang mengantar Liara tadi lewat lokasi itu, dan segera menghampiri pria konglomerat bangsat yang masih terlihat linglung.


"Ada orang yang memukul kepala ku. Apa di kapal ini ada pencuri?! kenapa keamanan kalian sangat buruk, huh?! aku sudah membayar mahal tapi ini yang aku dapatkan, sialan kalian semua!" amuknya dengan tubuh yang masih belum pulih sepenuhnya.



SEPERTI INILAH KEADAAN LIARA 🏃🏃🏃


__ADS_1


SINGA NATAP NYA BIASA AJA KALI BANG


__ADS_2