
Liara berjalan mengikuti hospital bad yang tengah membawa Lionel ke ruang rawat. Beberapa puluh menit yang lalu kapal pesiar mereka akhirnya bersandar di pelabuhan, dan Elvier segera membawa menantunya ke rumah sakit agar bisa dirawat secara intensif. Luka yang Lionel alami memang tidak besar, tapi cukup dalam dan butuh perawatan lebih lanjut.
Saat Liara terus mendekapnya selama perjalanan pulang saja Lionel sebenarnya mati matian menahan rasa sakit, tapi dia juga tidak bisa mencegah gadis itu saat mendekap dan terus saja meracau sendiri.
Dan kini mereka akhirnya sampai disalah satu ruang rawat kelas VVIP yang sudah dipersiapkan oleh Elvier. Para perawat memasukan hospital bad yang ditempati oleh Lionel, Liara bahkan harus menghindar agar memudahkan mereka membawanya.
Di kejauhan Elvier dan Murad berjalan beriringan menyusul Liara. Sementara Liara, gadis itu sudah terlebih dahulu masuk kedalam ruang rawat. Tapi langkah gadis itu sontak terhenti kala melihat seorang wanita paruh baya tengah duduk diatas sofa diruang rawat Lionel.
"Mommy," cicitnya.
Liara segera mendekat, dia memeluk tubuh wanita yang beberapa bulan ini bahkan mungkin tahun tidak ditemuinya. Rasa rindunya membuncah, Liara bahkan menangis didalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya.
"Udah, Simba kamu pasti baik baik aja. Jangan nangis lagi, nanti kalo Simba tau kamu nangis dia bisa marah sama Mommy." Yasmine terus saja memberikan tepukan di punggung putrinya, ekor mata wanita itu mengarah ke arah ranjang- Yasmine menghela napas pelan saat melihat menantunya masih memejamkan kedua matanya.
Yasmine yakin kalau luka yang Lionel alami saat ini cukup parah, tapi Liara tidak mengetahui yang sebenarnya dan itu ulah suaminya.
"Temenin Simba disini, Mommy mau keluar sebentar." Yasmine mengecup kedua pipi Liara dan segera bangkit, dia berjalan menuju pintu keluar dengan raut wajah flat.
Hingga akhirnya saat dia melirik, kedua matanya melihat dua orang pria tengah berbincang dan semakin mendekat ke arah ruang rawat menantunya. Yasmine melipat kedua tangannya di dada, kedua matanya menatap lurus ke arah seorang pria bertubuh tinggi tegap yang sejak tadi di tunggunya.
Pria itu terlihat begitu serius saat berbicara dengan bawahannya sampai tidak menyadari kehadiran Yasmine. Dan akhirnya ketika jarak diantara mereka mulai menipis, sang pria menyudahi ocehannya lalu kembali menatap lurus ke depan.
Tubuhnya menegang, kedua kaki panjang dan kokohnya reflek berhenti saat kedua matanya melihat seorang wanita tengah bersidekap dada didepan pintu masuk.
__ADS_1
"Mine," gumamnya.
Jakunnya naik turun, kedua matanya terus saja berkedip pelan saat melihat wanita itu mulai berjalan ke arahnya dengan langkah anggun.
"Kalau begitu aku permisi Tuan Besar, ada hal yang harus aku selesaikan." Murad segera menghindar, dia tidak ingin terlibat masalah dengan suami istri itu. Murad lebih memilih untuk menghubungi istrinya di Dubai dari pada menjadi wasit pasangan tua itu nantinya.
"Mine, kau sudah ada disini? dengan siapa kau kesini, hm?" Elvier berusaha menampilkan wajah tenangnya, dia kembali melangkah mendekat pada Yasmine sembari merentangkan kedua tangannya.
Elvier berharap kalau wanita yang sudah memberikan sepasang anak itu akan membalas dekapannya, dan semua yang nantinya akan terjadi hilang begitu saja. Dan benar saja apa yang diharapkan oleh Elvier terjadi, Yasmine segera masuk kedalam dekapannya.
Senyuman Sang Sultan Dubai mengembang, bahkan Elvier terlihat banyak memberikan kecupan ringan di pucuk kepala istrinya.
Tapi sayang, senyuman itu perlahan memudar saat kedua telinganya mendengar bisikan halus yang mampu membuat bulu kuduk dan bulu lainnya berdiri.
"Kamu apain menantu kamu, El? kan udah aku bilang jangan salahin Simba, tapi kamu tetep ngeyel. Apa kamu mau aku hukum, hm?" bisiknya penuh perhitungan.
Ada hal yang harus mereka selesaikan dengan cepat sekarang.
π¦
π¦
π¦
__ADS_1
Liara terus saja memainkan jari jemari besar milik Lionel, kedua matanya menatap sendu pada pria yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri akibat efek obat yang dokter berikan.
Gadis cantik itu merebahkan kepalanya di telapak tangan Lionel yang tidak memakai jarum infus. Kedua matanya perlahan terpejam, rasa lelah masih menguasai dirinya sebisa mungkin Liara bertahan agar tetap terjaga, tapi pada akhirnya tubuhnya tidak mampu melawan.
Tapi saat Liara mulai memasuki gerbang mimpi, tangan itu bergerak menjauh darinya- dan membelai pucuk kepalanya lembut hingga membuat kedua mata Liara kembali terbuka.
Gadis itu mengangkat kepalanya, kedua matanya mengerjap- sudut bibirnya terangkat saat melihat Lionel sudah sadarkan diri.
"Kemarilah! tidur didekatku. Peluk aku lagi, tubuhku terasa dingin saat kau tidak ada." lirihnya.
Liara masih terdiam kala mendengarnya, dia mengigit bibir bawahnya dan perlahan mendekat lalu naik ke atas ranjang rumah sakit yang Lionel tempati saat ini. Gadis itu kembali mendekap tubuh besar itu, menyembunyikan wajahnya di salah satu ketiak Lionel tanpa risih.
"Besok aku akan menunjukan bukti kalau kita memang sudah menikah. Aku harap kau sudah siap," ujarnya lagi.
Liara mendongak, kedua mata gadis itu mengerjap pelan dan menatap lekat pada pria yang tengah didekapnya.
"Dan aku harap kau juga siap menerima banyak Bayi Singa dariku." lanjutnya dengan senyuman jahil. Sementara Liara merona di buatnya, dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu arti kalimat yang Lionel ucapkan.
Sialan, sedang sakit seperti ini Si Singa Tua tetap saja mesum!
MASIH GANTENG KOK BIARPUN UDAH POTONG RAMBUTπππ
__ADS_1
HM MAU DISENTIL LATO LATONYA