
Lionel segera meraih tubuh Liara dan membawanya ke daratan, kedua mata pria itu menatap tajam ke arah Ayah mertuanya yang masih mematung menghadap lautan.
Pria keturunan Arab itu terlihat mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengetat, urat di area leher serta dahinya begitu terlihat menandakan kalau pria itu tengah emosi.
"Daddy!" panggil Liara.
Gadis itu berlari mendekat pada Elvier, tanpa menunggu izin Liara mendekap tubuh tinggi yang dia rindukan selama ini. Pria pertama yang mengisi relung hatinya sebelum digeser oleh seseorang.
"Daddy tau kita disini?" tanyanya.
Liara mendongak, gadis itu menatap lekat wajah pria yang katanya sudah menikahkannya tanpa izin setahun yang lalu. Jujur bibir Liara sudah gatal di buatnya, dia ingin kembali berbicara tapi kata katanya kembali tertelan kala Elvier dengan cepat menyelanya.
"Bawa Liara menjauh!" titahnya pada Murad.
Liara menggeleng, dia hendak menolak tapi tatapan yang Sang Daddy berikan membuatnya tidak berani membantah.
"Aku mau disini sama Daddy, sama Simba juga. Aku gak mau ikut Paman Murad!"
"Princess!" suara Elvier terdengar rendah, pria itu melirik pada Murad. Entah kode apa yang dia berikan, yang jelas Murad terlihat mengangguk dan mendekat ke arah Liara.
"Aku mau sama Simba aja!" Liara menjauh dari Elvier dan mendekat pada Lionel.
__ADS_1
Gadis itu mendekap tubuh setengah telanjang pria itu tanpa ragu di hadapan Daddynya, dan itu berhasil membuat Elvier mendelik. Dia menatap tidak percaya kalau putri kecilnya sudah berani mendekap tubuh telanjang pria lain di hadapan Ayahnya sendiri.
"Princess, apa yang Tuan Besar katakan benar. Kau lebih baik ikut dengan Paman Murad, itu akan lebih aman. Lihat, kapal orang orang itu kian mendekat- jadi tolong menurutlah kali ini oke. Aku berjanji akan segera menyusulmu kesana setelah menyelesaikan urusan ini." Lionel berusaha membujuk, dia mengusap pucuk kepala Liara namun kedua matanya terarah pada Elvier.
Pria yang usianya tidak lagi muda itu terlihat mencebik saat melihat Lionel berhasil membujuk putrinya, padahal dulu setelah Singa Tua itu pergi dari kediamannya dirinya lah yang paling bisa membujuk Sang Bunga Albarack selain Sang Lord Erkan.
"Janji!"
Lionel menipiskan bibirnya, dia mengangguk yakin- lewat tatapannya dia berkomukasi dengan mantan seniornya dulu. Murad mendekat, dia segera membawa Liara menjauh dari Elvier dan Lionel.
Sekarang tinggalah keduanya, Lionel mendekat pada Ayah mertuanya. Tatapannya terlihat datar begitu pun dengan Elvier.
Pria bertubuh jangkung itu menghela napas kasar, ekor matanya melirik kearah lautan yang mana disana sudah banyak orang turun dari speedboat.
Pria itu sudah menghadap ke arah laut, dia mengabaikan tatapan Elvier yang masih tertuju ke arahnya. Tapi tatapan itu tidak berlangsung lama, karena Si Menara Sutet juga terlihat memfokuskan diri ke arah orang orang yang sudah sampai di tepi pantai.
"Serahkan pria itu padaku, dengan begitu kau dan putri mu akan aku lepaskan, Tuan."
Sudut bibir Elvier terangkat mendengarnya, ekor matanya melirik pada Lionel yang masih terlihat tenang tapi salah satu tangannya terlihat tengah merogoh sesuatu dari balik celananya.
"Kau menginginkan bocah ini?" tanya Elvier, dia mendekat pada Lionel dan merangkul menantunya.
__ADS_1
Pria itu terkekeh, bahkan menepuk kecil pipi Lionel sebelum kembali menatap ke arah pria bertopi koboi yang tengah menatap tidak suka ke arahnya.
"Sayangnya aku tidak bisa memberikan dia padamu. Kau tahu kenapa? karena dia sudah menjadi milik putriku. Aku saja sudah tidak memiliki hak apa pun, jadi kalau kau memang menginginkannya- mintalah pada pemiliknya. Itu pun kalau diizinkan, karena aku yakin sebelum kau meminta izin sesuatu akan segera menimpamu!" Elvier kembali terkekeh, kini tangan besarnya sudah menepuk punggung serta pundak Lionel cukup keras, membuat pria itu meringis.
Sepertinya tepukan yang Elvier berikan bukan tepukan persahabatan, melainkan balas dendam.
"Aku tidak ada urusan dengan mu, Tuan. Jadi silahkan bawa putrimu pergi dan serahkan Lee padaku. Aku hanya ingin mengingatkan dia saat masih di Macau dulu, bagaimana cara dia menghancurkan bisnis dan kehidupan mewahku!" desisnya.
Bukannya takut dan menurut, Elvier justru semakin dibuat tertarik. Senyuman pria itu kian melebar, bahkan saat ini dia terlihat menatap menantunya dengan tatapan berbinar.
"Oh begitukah? wow! aku tidak menyangka kalau Singa Kecil ini sudah membuat seorang cukong Macau bangkrut dan sengsara. Bagus bagus, sekarang selesaikan dia secepatnya jangan sampai putriku menunggu lama!" bukannya membantu Elvier malah menyuruh Lionel menghadapi Scar sendirian.
Senyuman smirk Elvier terbit kala melihat wajah datar yang Lionel perlihatkan saat ini.
"Jangan kira aku tidak tahu saat kau berniat mengorbankan Ayah mertuamu ini pada mereka. 'Langkahi dulu Ayah mertuaku' apa kau masih ingat itu, Nak." imbuh Elvier, masih bersama tepukan yang dia berikan bahu Lionel sebelum sedikit menjauh dari menantunya.
Sedangkan Lionel terlihat menghela napasnya, dia ingat- tidak bukan hanya ingat tapi sangat ingat. Sialnya saat itu Lionel tidak mematikan perekam suara yang dia kirimkan pada Elvier lewat gelang kaki yang Liara pakai.
Pria tua itu ingin balas dendam rupanya.
"Kau lihat bukan, pria itu sudah menyerahkan mu padaku. Jadi mari kita selesaikan ini, Hunter!" desis Scar penuh ancaman.
__ADS_1
TUTUP AUROT DULU YE BANGππππ