
Gemuruh ombak memecah batu karang, suasana di pulau terpencil itu begitu sunyi, sisa hujan semalam meninggalkan jejak basah di dedaunan. Matahari masih bersembunyi dibalik cakrawala, langit terlihat gelap padahal fajar mulai menyingsing.
Seperti sepasang anak manusia yang masih memeluk satu sama lain, lebih tepatnya sang gadis lah yang tengah mendekap tubuh kekar tanpa atasan yang masih terlelap di sisinya.
Gadis itu mendekap layaknya tengah mendekap sebuah guling, kakinya membelit begitu pun dengan kedua tangannya. Sang gadis menyerukan wajahnya di dada bidang itu, sesekali bergerak kecil guna mencari kenyamanan.
Hingga akhirnya perlahan kedua mata itu terbuka, pemandangan pertama yang dia lihat adalah dada bidang bertato. Cukup mengejutkannya, tapi gadis itu berusaha tenang sebab dia tahu siapa yang tengah dia dekap saat ini.
Entah kenapa pula dia tidak ingin menjauh, kedua matanya terus saja tertuju pada tubuh setengah telanjang yang ada didekatnya saat ini.
Perlahan gadis itu mengangkat satu tangannya, jari jemari lentiknya mulai meraba gambar yang dia lihat. Walaupun remang dan tidak begitu jelas, tapi kedua matanya masih bisa melihatnya.
Gerakan halus yang sang gadis berikan tidak mampu membuat pemilik tubuh itu terusik, hingga akhirnya jari jemari lentik itu terus saja bermain ke arah leher yang juga memiliki ukiran seekor ular, bahu dan kembali lagi arah dada.
Gerakannya sempat terhenti sejenak, ada rasa ragu saat ingin menyentuh area yang lebih dalam. Bola matanya tertuju ke area perut, sang gadis menelan salivanya kasar.
Entah keberanian dari mana, perlahan jari jemarinya kembali bergerak- menyusuri lekukan otot perut yang dimiliki oleh pria yang masih terlelap itu.
Detak jantung gadis itu kian menggila, tapi entah mengapa dia enggan menghentikan perbuatannya. Jari jemari lentiknya semakin nakal, bahkan kini sudah mencapai area bawah pusar dan hendak meraih V line yang dimiliki sang pria.
Hingga akhirnya gerakan jarinya terhenti kala mendengar suara gumaman yang keluar dari bibir pria itu.
"Kalau kau tetap nekat, aku tidak yakin tempat ini masih tertata rapih dan masih bisa menghangatkan kita berdua, Princess." gumamnya pelan dan serak.
Sang gadis reflek menarik tangannya, menyembunyikannya di depan dada dan kembali memejamkan kedua matanya. Walaupun terpaksa dia tetap melakukannya, dan disaat gadis itu kembali tenang kini giliran pria itu yang membuka kedua matanya secara perlahan.
Dia menunduk menatap wajah gadis yang kembali tenang setelah menggerayangi tanpa izin. Tidak ada suara yang dikeluarkan, pria bertubuh sempurna itu malah merapatkan tubuh mereka berdua dan mendekap sang gadis semakin erat.
Keduanya kembali terlelap, hari masih begitu pagi dan gelap. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain tidur, dan akan terbangun saat matahari sudah benar benar keluar dari peraduannya.
__ADS_1
🦁
🦁
🦁
Liara menggeliat pelan, gadis itu merentangkan kedua tangannya saat merasakan pegal disekujur tubuhnya. Perlahan kedua matanya terbuka, kepalanya menoleh saat tidak lagi merasakan dekapan hangat yang dia rasakan sepanjang malam.
Tempat di sisinya sudah kosong, Liara perlahan bangkit- dia menguap kecil dan semakin meregangkan tangan dan menggoyangkan kepalanya.
Kedua matanya tertuju ke arah luar pondok, deburan ombak membuat Liara ingin segera berlari keluar. Tapi tubuhnya yang masih kaku tidak mampu mewujudkan keinginan sederhananya. Terlebih dia tidak mendapati Lionel disisinya, itu membuat Liara kian ingin keluar.
"Simba!" panggilnya dengan suara serak.
Liara bangun, kedua matanya menyipit saat matahari sudah menampakan sinarnya. Hari belum terlalu siang, Liara yakin pagi ini jam masih berada diangka 7.
Dia keluar, berjalan diatas pasir putih dengan kedua kaki telanjangnya. Kedua matanya mengedar, mencari seseorang yang sudah terlebih dahulu bangun dan meninggalkannya sendiri.
Suara Liara tertelan deburan ombak menghantam karang, gadis itu menghela napas kasar, rasa khawatir mulai menggelayuti hatinya kala tidak melihat dan menemukan Lionel dimana pun.
"Dia gak mungkin ninggalin gue sendiri disinikan?" gumamnya resah.
"Simba, kamu dimana?" lanjutnya lagi.
Liara kian melebarkan langkahnya, dia semakin menjauh dari pondok dan berjalan menuju area batu karang. Kedua matanya mengedar liar, detak jantungnya semakin berpacu cepat dan menggila.
"SIMBAAAAA! KAMU DIMA-,"
Teriakan Liara terputus kala kedua matanya melihat siluet seseorang tengah berada diatas batu karang, gadis itu menghela napas lega dan bergegas menuju kesana. Dengan susah payah Liara berjalan menaiki batu karang yang terjal, kedua matanya tertuju pada pria yang tidak memakai atasan di depannya.
__ADS_1
Pria itu tengah membelakanginya sembari memegangi sebuah kayu panjang yang tertuju ke lautan. Liara menebak kalau pria itu tengah memancing atau-
"Kau sudah bangun?"
Sang pria menoleh, dia menatap gadis yang tidak jauh dibelakangnya. Liara tersenyum masam, ternyata pria itu menyadari keberadaannya padahal niatnya tadi ingin mengagetkan.
"Aku kira kamu ninggalin aku disini!" cetusnya terdengar kesal.
Liara mendekat, dia mendudukkan dirinya didekat Lionel yang tengah sibuk melempar joran yang entah terbuat dari apa.
Apa mungkin pria ini bisa dapat ikan? pikirnya.
"Aku sedang mencari nafkah untuk istriku, aku takut dia dan bayi kami kelaparan. Lihat, aku sudah dapat satu, tidak besar tapi cukup untukmu dan bayi ki-,"
"Bayi apa? bayi Singa?" potong Liara cepat.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, pipi putih mulusnya merona karena terkena panas dan malu tentunya.
Liara mencebik, dia enggan menatap pada Lionel yang masih menipiskan bibirnya dan menatap lekat ke arahnya.
"Hm- sepertinya bayi Singa juga tidak masalah, asalkan itu bayiku sendi-,"
"Simba!" rengeknya, Liara tidak suka di goda seperti ini walaupun dia mengakui kalau dirinya suka menggoda.
"Baiklah, aku diam. Tapi nanti kita bahas lagi soal bayi Singa yang tertunda." cetusnya lagi.
Liara yang sudah tenang kembali mendelik, kedua matanya menatap horor pada Lionel yang terkekeh pelan melihat ekspresi Sang Bunga Albarack saat ini.
Ibu Singa sangat menggemaskan di matanya.
__ADS_1
AKU TIDAK BISA MEMBAYANGKAN SAAT BAPAK SINGA NERKAM IBU SINGA 🏃🏃🏃