Guardian Flower

Guardian Flower
Simulasi


__ADS_3

Lionel meringis saat salah satu perawat membuka perban di dadanya, hari ini perban diluka bekas operasinya harus diganti. Lionel terlihat memejamkan kedua matanya, dia mencoba tenang walaupun luka di dadanya masih sedikit sakit.


"Anda mau berbaring, atau duduk seperti ini, Tuan Lionel?" tanya sang perawat.


Lionel yang tadinya tengah memejamkan mata tidak menyahut, dia tidak peduli dengan posisinya sekarang, lain dengan gadis yang sedari tadi memperhatikan interaksi sang perawat dengan singa tua itu.


Sang gadis melirik sinis ke arah tempat tidur, bibirnya tersungging sinis dan mencebik kecil saat menyadari kalau wanita berpakaian putih itu diam diam memperhatikan wajah Lionel yang tengah memejamkan kedua matanya.


"Bisa cepet gak sih Sus ganti perbannya? perasaan kemaren cepet banget pas ada dokter. Suami saya mau sarapan nih, nanti makanannya keburu dingin!" cetusnya dengan nada ketus.


Sang perawat tersentak, wanita itu mengangguk dan segera mengganti perban pada luka Lionel setelah mengeceknya. Luka jahitannya sudah cukup kering, mungkin hanya butuh beberapa hari lagi akan kering sepenuhnya, asal Lionel bisa mematuhi apa yang dilarang oleh dokter.


"Lukanya sudah cukup kering, kami harap lukanya jangan terkena air dulu. Kalau mau membersihkan diri dilap saja dulu, kalau anda butuh bantuan saya bisa-,"


"EKHEM!" Liara berdehem cukup keras, gadis itu terlihat melipat kedua tangannya di dada dan sudah berdiri dibelakang tubuh sang perawat.


"Kalau ada yang di butuhkan lagi, silahkan panggil kami. Kalau begitu saya permisi."


Liara menggerakkan bola matanya mengikuti langkah wanita itu, tatapannya begitu datar dan dingin. Dia benar benar tidak suka dengan wanita itu, kenapa bukan perawat senior saja yang merawat Lionel? kenapa harus anak magang?


Liara ingin sekali melemparkan sandal bulu yang dia pakai ke kepala wanita itu.


"Kemarilah! kenapa kau malah berdiri seperti itu? kenapa lagi dengan wajahmu, Princess?"


Suara Lionel berhasil membuat Liara menoleh, gadis itu menurunkan kedua tangannya yang terlipat di dada. Bibirnya mencebik, terlihat sekali wajah kesalnya setelah sang perawat itu pergi.

__ADS_1


Liara mendekat ke arah tempat tidur, dia mendudukkan dirinya disisi Lionel dan menatap datar pada pria itu.


"Kenapa, hm? wajahmu terlihat-,"


"Makan! gak usah banyak omong. Udah makan lap badannya, nih disini pasti banyak kuman sama bakteri orang gatal." Liara meraih mangkuk berisikan bubur ayam untuk sarapan Lionel. Satu jari telunjuknya yang menganggur menunjuk ke arah dada terbuka pria berambut ikal itu, menyoleknya pelan lalu mengelapkan telunjuknya pada sprei seakan disana memang sarang kuman.


Bibirnya tidak berhenti komat kamit, entah apa yang sedang Liara lakukan- yang jelas Lionel malah tersenyum dibuatnya.


Pria itu menikmati sarapannya, sedikit membuatnya mual karena Lionel tidak terbiasa memakan nasi lembek seperti ini. Saat sarapan cukup menikmati buah atau roti, dan segelas kopi hitam.


"Aku mual," lirihnya.


Lionel menahan gerakan tangan Liara, saat gadis itu hendak kembali menyuapinya. Perutnya terasa diaduk tapi dia berusaha menahannya, Lionel tidak ingin melihat Liara kembali menekuk wajahnya saat dia muntah nanti.


Belum sempat Liara menyelesaikan ucapannya, Lionel kembali melahap sisa bubur yang ada di sendok. Dia berusaha menelannya walaupun terasa semakin menyiksanya.


"Anak pinter, anak siapa sih ini? makannya abis, nanti makan lagi ya kalo udah mandi." Liara menepuk pipi Lionel, mengusap rahang tegasnya dengan senyuman mengembang. Dengan cepat dia memberikan satu gelas air putih, bukannya Liara tidak tahu kalau pria itu tengah mual, tapi dia sengaja agar Lionel menghabiskan sarapannya sebelum tubuhnya dilap nanti.


Helaan napas Lionel terdengar berat, dia merasa terbebas dari tali yang tadi membelit lehernya. Kedua matanya kembali terpejam dan terlihat merebahkan tubuhnya secara perlahan.


Bahkan saat Liara kembali ke arahnya dengan membawa wash lap dan air untuk membersihkan tubuhnya, Lionel sama sekali belum menyadarinya. Sampai akhirnya dia merasakan sapuan di wajah dan lengannya, seketika kedua matanya terbuka lebar.


"Badannya di lap dulu!"


Lionel tidak menyahut, dia perlahan kembali bangkit dan membiarkan Liara melakukan apa pun yang di kehendakinya. Tangan halus itu mulai membelai setiap lekuk tubuh otot yang Lionel miliki, tanpa ragu dan canggung.

__ADS_1


Entah kenapa Liara juga tidak tahu, mungkin dia sudah terbiasa melihat tubuh Lionel jadi baginya ini adalah hal yang biasa.


Usapannya berpindah kebelakang, gerakan tangan Liara memelan saat melihat sebuah tatto bergambar pria bersayap yang ada punggung Lionel. Gadis itu seakan terhipnotis, jari jemari lentiknya menyusuri setiap garis hingga membuat Lionel memejamkan kedua matanya.


Gerakan yang Liara berikan kian membuatnya terbakar, pria itu menggeram- dan tanpa permisi menarik lengan Liara hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.


Lionel menerkam Liara tanpa ampun, dia memagut bibir cerewet yang sering membuatnya pusing tujuh keliling. Satu tangannya meraih tengkuk sang gadis untuk memperdalam ciuman mereka.


Liara yang tadinya terkejut perlahan rileks, bahkan sekarang dia sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Lionel. Membiarkan pria itu memporak porandakan semua pertahanannya, deru napas keduanya terdengar bahkan Lionel tidak membiarkan Liara menghirup udara dengan bebas.


"Aku mencintaimu, Princess." bisik Lionel disela sela cumbuannya.


Liara tidak menyahut, dia hanya membalas setiap pagutan yang Lionel berikan dengan kaku. Keduanya kembali terbakar, ruang rawat yang menjadi saksi bisu kian memanas hingga saat pintu terbuka keduanya sama sekali tidak menyadarinya.


Disana, diambang pintu ada Yasmine dan Elvier. Keduanya mematung melhat adegan dewasa yang tengah dilakukan oleh putri dan menantunya.


"SIALAN KAU SIMBA! NIKAHI PUTRIKU SECARA RESMI BESOK KALAU KAU MASIH INGIN MELIHAT SINGA TUA MU BERKEMBANG BIAK!" raung Elvier dengan wajah memerah dan suara menggelegar membuat Lionel dan Liara melepaskan pagutan bibir mereka.


"Daddy?" ringisnya pelan.


"Tidak usah dipikirkan, Sayang. Ayo kita lanjutkan, anggap saja ini simulasi pembuatan bayi Singa." bisiknya nakal.



BAGAIMANA PUN POSISIMU, KAU TETAP MENGGODA BWAAANGGG😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2