
Ringisan pelan keluar dari bibir Liara, gadis yang saat ini tengah terbaring di atas dedaunan terlihat bergerak- dahinya mengernyit dan tidak lama kelopak matanya berkedut lalu terbuka.
Ringisannya kian terdengar saat dia merasakan sakit di area tengkuk dan lehernya, Liara berusaha bangkit walaupun rasanya berat.
"Simba!" panggilnya serak.
Kedua mata sayu mengedar, dia mencari pria yang tadi bersamanya. Liara terlihat panik saat tidak mendapati siapa pun di sekitarnya. Dadanya naik turun, mata sayunya memerah, tangisannya hampir pecah kalau saja kedua matanya tidak menoleh ke arah belakang.
Cukup jauh darinya seorang pria yang tidak memakai atasan tengah berjalan kian mendekat ke arahnya, di tangan pria itu Liara melihat ada beberapa kayu sebesar lengan orang dewasa dan tiga buah kelapa.
Kelapa? darimana dia mendapatkannya?
"Kau sudah sadar?" tanyanya santai.
Liara tidak menjawab, dia menatap sinis pada pria yang sudah membuatnya tidak sadarkan diri cukup lama. Liara mengabaikannya, gadis itu lebih memilih menjauh dan mendudukkan diri ditempatnya tadi.
Kruuukk
Kedua mata Liara terpejam kala mendengar auman dari dalam perutnya, gadis itu reflek memegangi perut ratanya yang mulai memberontak minta di isi.
Wajahnya kembali meringis, dia lapar tapi tidak ada apa pun yang bisa dijadikan makanan. Ingin rasanya Liara berteriak, atau bahkan menyeberangi lautan yang ada di hadapannya sekarang juga.
"Minumlah, setidaknya itu bisa mengganjal perut mu."
Liara menoleh, dia menatap sebuah kelapa yang sudah di bolongi luarnya dan siap untuk dinikmati. Tapi Liara masih tetap enggan meraihnya, cukup lama dia menatap kelapa dan orang yang memberikannya.
"Kamu dapat dari mana?" tanyanya penasaran, tapi tak urung juga pada akhirnya Liara meraihnya lalu segera menikmatinya.
__ADS_1
Sedikit sulit karena lobang yang ada di kelapa itu tidak terlalu besar, hanya sebesar tutup botol dan itu sangat menyulitkan bahkan mampu membuatnya tidak sabaran.
"Tidak jauh dari sini. Sepertinya ini pulau kosong, aku tadi sudah berkeliling saat kau tidur. Tidak ada tanaman yang bisa kita makan kecuali kelapa ini, sepertinya memancing adalah jalan satu satunya agar kita bisa bertahan hidup." Lionel terus saja menceritakan apa yang dia temukan di tempat ini.
Kedua mata pria itu menatap sekeliling, suasana begitu sepi sunyi hanya ada deburan ombak dan beberapa burung laut yang berterbangan diatas sana. Pria itu terlihat melubangi kelapanya yang terakhir menggunakan pisau belati miliknya.
Kegiatan yang Lionel lakukan saat ini tidak lepas dari mata Liara, gadis itu menghela napas pelan- perlahan dia menggeser tubuhnya mendekat pada pria yang masih memamerkan tubuh bagian atasnya tanpa sungkan.
"Apa kita bakalan gelap gelapan nanti malam?" tanyanya penuh khawatir.
Liara kian merapat, suasana yang mulai senja membuat gadis itu kembali membayangkan hal hal yang ada di luar nalar. Liara menelan salivanya susah payah, rasa lapar yang dia rasakan hilang seketika kala membayangkan kalau di tempat ini ada-
"Aku akan membuat api di dekat pondok yang ku buat tadi. Kau takut dengan gelap? ternyata setelah sekian lama aku tidak disisi mu kau masih saja takut dengan-,"
"Siapa yang takut! aku cuma khawatir kalo ada Singa bangkotan macem macem nanti. Di tempat terang aja main nyosor apa lagi di tempat gelap!" cetusnya penuh sindiran.
Liara melirik sinis pada Lionel, dia kembali menikmati air kelapanya tanpa menghiraukan tatapan lekat yang pria itu arahkan kepadanya.
Setelah dia bersusah payah membuka batok kelapa menggunakan belatinya, Lionel segera memberikannya pada Sang Princess agar mulutnya berhenti mengoceh.
Dimata Lionel saat ini Liara persis seperti anak burung yang tengah lapar, dan setelah dia memberikannya makanan anak burung itu akan berhenti mengoceh.
"Aku mau dua! kalo cuma satu gak kenyang sampe besok pagi." Liara kembali bersuara, dia sudah menikmati kelapa yang Lionel pecahkan tadi. Tapi dia juga masih ingin membuka kelapa miliknya yang sudah tidak terisi airnya.
"Nanti aku pecahkan lagi, sekarang makanlah yang ada aku akan membuat api untuk mu!"
Lionel bangkit, dia sedikit menjauh dari Liara. Pria itu meraih dua batu dan kayu yang sudah di persiapkan, dedaunan kering salah satunya daun kelapa yang mudah terbakar.
__ADS_1
Berulang kali Lionel mencoba menggesekkan dua kayu ditangannya, tapi percikan api tidak kunjung keluar. Pria itu mencoba sabar, hingga akhirnya emosi juga dan menggesekkan kedua benda itu dengan brutal.
Perlahan asap tipis mulai keluar, hingga setelah cukup lama, matahari pun sudah mulai turun ke peraduannya- bara api di kayu yang dia gesekan semakin terlihat. Lionel meniupnya pelan dan mulai mendekatkannya pada tumpukan daun, ranting kering dan kayu kering yang dia dapatkan tadi.
Apa mulai menyala, suasana perlahan terang- Liara pun segera mendekat pada Lionel dan mendudukkan diri di dekat pria itu. Api unggun kecil yang Lionel buat cukup untuk memberikannya kehangatan malam ini, ekor mata Liara melirik ke arah gubuk yang Lionel buat.
Tidak bagus, tapi cukup rapih dan tertutup. Bahkan ada atapnya, entah terbuat dari dedaunan apa Liara pun tidak tahu. Yang jelas kalau pun hujan malam ini dia yakin air hujan minim untuk masuk.
"Sudah merasa hangat?" tanya Lionel.
Pria itu menoleh, tapi tangannya terus saja sibuk menambah ranting pada api unggun yang dia buat.
"Lumayan, tapi katanya kalo tidur di deket laut itu bisa lebih dingin kalo malam," cetus Liara.
Gadis itu menumpukan dagunya di kedua lutut, matanya tertuju pada api unggun yang bergoyang diterpa angin laut. Dia hanya terfokus pada satu titik hingga tidak menyadari kalau saat ini Lionel tengah menatapnya lekat.
"Ya kau benar, suhu disini akan lebih dingin saat malam hari." sahut Lionel tenang.
Liara tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan sembari memainkan ranting yang terbakar oleh api.
"Tapi kau tidak perlu khawatir, My Flower. Aku ada disini, dan akan menghangatkan mu saat kau kedinginan nanti." bisik Lionel tepat di dekat telinga Liara.
Liara yang tadinya tenang mendadak tegang dan terlihat mendelik mendengar bisikan syahdu yang Lionel lakukan.
Menghangatkan? maksudnya menghangatkan dalam versi apa? membakarnya, atau mem-
"Jangan di pikirkan, tidurlah. Aku akan diluar, aku tidak akan kemana pun selagi kau tidak memberikanku izin." lanjutnya.
__ADS_1
TATAPANMU MENGANCAM BANG 🏃🏃😬