Guardian Flower

Guardian Flower
Senam Jantung


__ADS_3

Liara terus saja menatap sinis pada pria yang terlihat sibuk mengotak atik ponselnya. Sudah hampir lima belas menit berlalu tidak ada hal apa pun yang mereka lakukan, Liara hanya bisa duduk bersila diatas tempat tidur. Gadis itu menopang dagu dengan kedua tangannya, terlihat mulai bosan dan jenuh.


Pria yang membawanya tanpa izin itu benar benar mengajaknya ke kamar hotel. Tapi pikiran buruk dan kotor yang ada didalam otak Liara sebelumnya, sama sekali tidak terbukti.


Lionel tidak mengajaknya apa pun saat sampai disana. Tidak ada yang namanya tanam saham, tanam ubi tak perlu di baje, tanam pisang, tanam talas, tanam lobak dan tanam tanamam yang lainnya.


Pria itu hanya menyuruhnya diam, jangan berbuat apa pun, jangan menjauh darinya atau mendekat pada jendela kaca dan balkon.


"Kita mau ngapain sih disini? nanti kalo ada orang yang liat, kenal sama aku atau kamu mereka bisa salah paham. Dikiranya kita habis tanam saham, padahal perusahaannya belum di sah'in!"


Liara mencebik kesal, dia menggeser tubuhnya lebih ketengah agar bisa menggapai bantal dan guling. Gadis itu merebahkan dirinya, tangannya terus saja mencubiti ujung bantal yang di tidurinya dengan gemas.


Bibirnya maju beberapa centi, terlihat kesal, bosan, marah dan masih banyak lagi rasa yang ada di dalam hatinya saat ini. Tapi Liara tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan semuanya secara bersamaan, kalau satu satu pasti akan memakan banyak waktu.


"Kamu tuh aneh tau gak! tiba tiba pergi tanpa pamit, satu minggu gak ada kabar, di telpon gak aktif, di chat gak terkirim, terus tiba tiba datang tanpa di undang. Mau kamu tuh apa sih Sim-,"


Liara tersentak hebat, dia hampir memukul wajah pria yang tiba tiba sudah berada di depan kedua matanya saat dirinya berbalik.


Singa Tua laknat! hampir saja dirinya terkena serangan jantung.


Liara mengusap dadanya dramatis, kedua matanya perlahan terpejam sembari mengatur deru napasnya yang tidak teratur.


"Maaf, tapi bolehkah aku meminta satu hal padamu," Lionel akhirnya bersuara. Pria itu menatap lekat gadis yang tengah berbaring di dekatnya, satu tangannya terulur- menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Sang Bunga Albarack.


Liara terdiam, dia masih mengawasi gerak gerik si Singa Tua yang menyebalkan ini, dari sudut pandangnya Liara dapat melihat betapa lelahnya pancaran kedua mata pria ini. Entah apa yang sudah Lionel lakukan selama satu minggu ini diluaran sana, jujur Liara sangat khawatir sekali.


Walaupun sekarang dirinya bisa melihat dan meraba mantan ajudannya, tapi entah mengapa Liara masih saja tidak tenang seperti satu minggu yang lalu.


"Kalau kau tidak mau mengabulkannya tidak apa apa, aku hanya-,"

__ADS_1


"Kamu mau apa? jangan macem macem ya! aku bisa aja mecahin sesuatu yang pernah aku tendang sebelumnya!" ancamnya. Ekor mata Liara melirik sesuatu yang dibalik celana jeans yang di kenakan oleh Lionel.


Walaupun benda pusaka itu tersembunyi dengan baik, bagi Liara mudah untuk meremukannya. Lionel menghela napas pelan, pria itu makin merekatkan dirinya pada Liara dan menatap dalam kedua mata sang gadis.


"Otak mu terlalu kotor Princess. Aku bukan pria murahan yang suka memaksa seorang gadis untuk bercin-,"


"Cepet bilang mau apa, gak usah kelamaan!" Liara memotong cepat, dia tidak ingin mendengar Lionel menyelesaikan ucapannya. Karena Liara tahu kalau sampai pria itu melanjutkan ucapannya hingga akhir, akan ada kata kata yang makin membuatnya salah tingkah.


"Ayo ngomong! kok malah diem." tambahnya sedikit kesal.


Kedua alis Liara menukik, sudut bibirnya terangkat sinis kala melihat pria yang tengah satu ranjang dengannya ini malah tersenyum. Liara juga tidak tahu kenapa dirinya terlihat dan merasa baik baik saja kala Lionel tidur satu ranjang dengannya.


Tidak ada perasaan risih atau pun takut, malah entah kenapa dia merasakan debaran jantungnya kian menggila, dan Liara sedang berusaha bersikap tenang.


"Kalau terjadi sesuatu padaku, berjanjilah kau akan kembali ke Dubai. Aku rasa disana lebih aman untuk-,"


"Maksud kamu apa?! memangnya apa yang bakalan terjadi huh? apa yang selama ini kamu sembunyiin dari aku, Simba?! bilang sama aku apa yang sedang terjadi. Siapa orang itu dan kenapa terus ngejar aku? aku bahkan gak kenal siapa mereka. Aku udah kayak orang bodoh yang-," Liara berhenti mengoceh, dia melanjutkan kekesalannya dengan cara memberikan pukulan pada Lionel.


"Terserah, pokoknya aku gak mau dengerin apa pun lagi. Gak bakalan terjadi apa pun sama kamu, aku atau siapa pun, pokoknya enggak!"


Liara menutupi kepalanya dengan bantal, kedua matanya terpejam, napasnya tersengal. Bahkan tubuhnya sedikit menegang saat dia merasakan sebuah pelukan dari arah belakang tubuhnya.


"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu, Princess." bisiknya lembut.


🦁


🦁


🦁

__ADS_1


"Ke kiri!" pekik seorang gadis yang tengah sibuk menjadi seorang navigator.


Kedua tangannya terlihat tidak mau diam, mulutnya pun terus saja mengoceh kala pria yang saat ini tengah mengendalikan kemudi terlihat ogah ogahan.


"Ayo lebih cepat! itu motornya udah kelihatan!" pekiknya lagi.


Sang pria berdecak, namun tak urung dia juga menuruti perintah sang gadis yang terlihat antusias dan tidak sabaran.


"Kalo sampe ketangkep, gue injik latto lattonya sampe pecah!" geramnya.


Kedua tangan gadis berwajah imut dan cantik itu terkepal erat, dadanya naik turun- lubang hidungnya kembang kempis. Jari jemarinya sudah mencengkram erat tas yang ada di pangkuannya, kedua matanya menyorot pengendara motor yang sudah berani merampas ponselnya tadi.


Sementara pria yang ada di sebelahnya hanya mengernyit, ekor matanya melirik pada gadis tengil, cerewet dan pandai bermain drama ini. Saking fokusnya, pria itu lupa untuk mengembalikan pandangannya ke arah depan, sampai akhirnya-


BRAAAKKK!!!!


TO BE CONTINUED



EH BANG SIMBA SAMA BANG ALTEZHA SI SUNDA BULE BESTIAN 🏃🏃



GEMEZZZ PINGIN GIGIT



KU INJAK LATO LATONYA!

__ADS_1



MUKANYA KESEL BANGET DAH


__ADS_2