Guardian Flower

Guardian Flower
Tidak Aman Untuk Hati


__ADS_3

Liara duduk dengan tenang di sofa ruang tamu apartemen Lionel, kedua matanya menelisik seluruh sudut ruangan yang menjadi tempat tinggal mantan ajudannya.


Tidak luas tapi cukup rapih untuk ukuran tempat tinggal seorang pria yang hoby keluar masuk kamar seorang gadis.


Liara membasahi bibirnya yang kering, jujur hati serta jantungnya masih belum tenang setelah mendengar penuturan Lionel tadi.


'Satu satunya orang yang berharga dalam hidupku.'


Kalimat itu berhasil membuat bibirnya bungkam, Liara tidak lagi bersuara atau pun menjawab semua pernyataan Lionel. Jujur dia sempat terkejut mendengar ucapan pria bertato ular itu, Liara tidak menyangka kalau dirinya menjadi satu satunya orang yang paling berharga dalam hidup Lionel.


Apa iya?


Mungkin saja pria itu hanya membual bukan, demi bisa menenangkannya dan tidak lagi berceloteh panjang. Salahkan hati sialannya yang mudah terbawa perasaan sejak dulu, hati yang sulit untuk Liara kendalikan.


"Minum dan istirahatlah. Aku yakin kau lelah, simpan dulu apa yang ada didalam otak serta hatimu sekarang. Nanti saat waktunya tepat, kau pasti akan mengetahuinya."


Liara tidak menyahut, dia masih terlarut dalam keterdiamannya. Setiap kata yang Lionel lontarkan membuat bibirnya merapat, lidahnya kelu dan suaranya tertahan di dalam tenggorokan.


Perlahan Liara memejamkan kedua matanya, dia menarik napas panjang sebelum meraih jus kotak yang Lionel berikan lalu meminumnya. Setelah merasa haus di tenggorokannya hilang, gadis itu perlahan menyandarkan tubuhnya di sofa, kedua matanya terpejam berusaha tenang dan damai.


Namun kedamaian yang Liara temukan seketika hilang kala merasakan tubuhnya melayang di udara, kedua matanya reflek terbuka- membola menatap lekat pada pria yang tengah menggendongnya.


"Kau ingin tidur bukan? tidurlah di kamar, aku akan membawamu kesana." tuturnya pelan.

__ADS_1


Liara tidak menyahut, tidak pula mengangguk mengiyakan, dia hanya terdiam sembari menatap lekat pada pria yang sejak kecil dikenalnya. Perlahan satu tangannya terangkat, mengusap pelan rahang tegas Sang Simba yang kini berubah menjadi Singa Tua.


"Sejak kapan?" tanyanya lirih.


Lionel menunduk, netra keduanya bertemu dalam satu titik. Saling mengikat, seakan tidak ingin mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apanya?" Lionel balik bertanya.


Dengan santai dia membuka pintu kamar menggunakan satu kakinya, selepas itu dia kembali melangkah membawa Liara masuk.


"Enggak tau! udah lupain aja aku mau tid-,"


"Sejak dulu, saat kau masih sering menangis, merengek, marah tidak jelas. Ya walaupun sekarang kau juga masih seperti itu, tapi dari dulu aku sudah menganggap mu adalah satu satunya hal yang paling berharga dalam hidupku. Aku tidak memiliki apa pun dan siapa pun ketika Tuan Besar memungutku dari jalanan. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang gadis kecil yang sedikit sinis saat melihatku, bahkan terkesan tidak suka. Aku mulai tahu dan mengerti apa artinya melindungi dan memiliki, walaupun pada akhirnya hal yang berharga itu pergi tanpa alasan yang jelas." Lionel terus saja berceloteh, hingga Liara sudah dia rebahkan di atas tempat tidur pun pria itu masih berbicara.


"Jangan ngomong lagi, aku mau tidur! sekarang kamu temenin aku tidur disini!" sela Liara cepat. Dia berusaha menghindar dari ungkapan demi ungkapan yang Lionel lontarkan padanya, secara langsung hatinya tertusuk benda tak kasat mata saat mendengarnya.


"Tapi kita bukan muhrim, jadi aku tidak boleh berada dalam satu ruangan sepi dengan-,"


"Kalau kamu pergi aku bakalan teriak! pokoknya diem disini. Biar aku yang ngomong sama setannya nanti buat libur dulu menggoda orang. Aku gak mau ya kalo kamu pergi tiba tiba ada peluru nyasar lagi kena kepala aku!" ocehnya panjang lebar.


Salah satu sudut bibir Lionel terangkat, pria itu terus saja menatap lekat tak berkedip pada Liara yang sudah salah tingkah.


"Ini lantai 10 Princess, tidak mungkin kalau-,"

__ADS_1


"Nurut atau aku bakalan teriak!" ancamnya lagi.


Lionel menghela napas pelan, dia akhirnya mengangguk dan bergegas naik ke atas tempat tidur. Namun gerakannya kembali terhenti saat Liara menahannya.


"Kamu mau ngapain?" tanyanya horor.


"Ya menunggumu disini," cetusnya ringan.


"Nunguin aku kan? bukan nidurin aku! udah di sofa sana jangan di sini, nanti setannya ga kuat!"


Liara berusaha menjauhkan Lionel dari sisinya, detak jantungnya kembali tidak karuan. Si Singa Tua ini memang terkadang sedikit polos atau berlagak polos. Setan saja tahu kalau mereka dekat pasti akan banyak godaannya.


"Jadi, aku harus di so-,"


"Iya buruan sana, ihh!" gemas Liara.



SOK POLOS KAU BANG, PADAHAL SUKA GAK PAKE BAJU



SIRAM AE PAKE AER SEGAYUNG NENG

__ADS_1


__ADS_2