
"Dih!" Liara mencebik, sang gadis menatap sinis pada pria yang terlihat tidak mengerti kenapa kedua mata itu menatap penuh ancaman padanya.
"Apa?" tanyanya heran.
Liara tidak menjawab, gadis itu kembali mencebik dan memejamkan kedua matanya. Ucapan yang di lontarkan oleh Lionel terdengar ambigu di kedua telinganya.
"Tetaplah di tempat mu! aku akan segera kembali." setelah mengatakan hal itu Lionel segera membuka pintu pembatas balkon, pria itu menatap kesemua area kediaman Gentala.
Lionel tidak melepaskan pistol dari tangannya, kedua matanya terus saja menatap tajam pada satu titik. Dia tahu kalau dari arah sanalah peluru yang menembus balkon Liara berasal.
Sekian lama Lionel menunggu, tidak ada lagi pergerakan dari pelaku- pria itu menyandarkan dirinya di pilar- ekor matanya terus saja tertuju pada Liara yang sudah meringkuk di bawah selimutnya.
Sebenarnya Lionel berniat untuk turun dan mencari pelaku penembakan misterius itu, tapi entah kenapa hatinya menyuruh dia diam dan tetap di area kamar Liara. Firasatnya mengatakan kalau Liara akan menjadi target untuk memancingnya.
"Aku akan disini sampai besok. Berdoa saja Tuan Besar rumah ini tidak mengetahui kedatangan ku." gumamnya.
Lionel berjalan menjauhi pilar, kedua kakinya kembali melangkah masuk kedalam kamar Liara. Pria itu mendekat ke arah sofa, mendudukkan tubuh lemahnya di sana. Kedua mata Elangnya tidak terpejam sedikit pun, netra tajam itu terus saja mengarah pada Liara. Tapi entah kenapa dia merasa tidak nyaman duduk disana, Lionel kembali bangkit dan berjalan mendekat pada Liara.
Pria itu mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur, kedua matanya tidak lepas dari wajah tenang sang gadis yang tengah terlelap di dekatnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu. Bila perlu aku akan membawamu pergi, tapi itu tidak mungkin karena Tuan Albarack pasti akan memburuku." gumamnya lagi.
🌸
🌼
🌺
Fajar menyingsing, Liara masih terlelap dalam tidurnya. Deru napasnya masih begitu teratur, gadis itu sudah bergerak tidak karuan sejak semalam membuat pria yang sepanjang malam menemaninya tersingkir dari ranjang.
Lionel melirik jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 4 dini hari. Dia harus segera keluar dari kediaman Gentala Prayoga, karena kalau dirinya berlama lama ditempat ini bisa saja Gentala memergokinya cepat atau lambat.
Lionel bangkit, pria itu meraih hoodienya lalu memakainya dengan cepat. Pria itu segera meninggalkan kamar Liara tanpa berpaminat dengan sang gadis.
Lionel menuruni lantai kamar Liara dengan mudah, tidak lama pria itu sudah berada di area pagar pembatas dan siap melompatinya. Tanpa Lionel ketahui, selepas pria itu keluar dari kamar Liara- sang pemilik sudah terbangun tanpa ingin mengatakan apa pun.
__ADS_1
Liara menunggu apa yang akan dilakukan oleh Lionel padanya sebelum pergi. Menghampirinya, lalu memberikan kecupan selamat pagi baru pria itu pergi.
Pluk!
Liara memukul kepalanya sendiri saat pikirannya mulai ngelantur jauh. Kenapa dia berharap hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang Lionel.
Lagian memangnya dia siapanya pria itu sampai mengharapkan ciuman selamat pagi.
"Dasar gila! pasti gara gara semalam. Apa bener Simba suka sama aku? tapi kan-,"
Liara kembali menenggelamkan wajahnya di bantal, gadis itu berteriak tapi suaranya tertahan oleh benda yang ada di bawah wajahnya. Helaan napas panjangnya terdengar kasar, dia menggeleng berkali kali untuk menghilangkan pikiran anehnya.
"Awas aja kalo dia cuma gabut pas ngomong suka kemaren, aku gak bakalan lepasin dia lagi. Bakalan aku gundulin bulu si singa tua itu!"
BANG SIMBA BULU MU AMANIN😂😂
__ADS_1
AWAS AJA, KU GUNDULIN DIA
SEE YOU TOMORROW MUUUAAACCHHH😘😘