Guardian Flower

Guardian Flower
Apa Itu?


__ADS_3

Lionel menyesap nikotinnya penuh nikmat, pria itu bersandar di tiang listrik yang tidak jauh dari lokasi apartemennya. Kedua matanya terus saja mengedar, memperhatikan setiap gerak gerik orang orang yang lewat di dekatnya.


Wajahnya yang tertutup tudung hoodie terlihat sedikit misterius, ditambah dengan tato yang menghiasi tangannya membuat penampilan pria itu terlihat menyeramkan.


Berlangsung cukup lama, setelah rokok yang dia hisap sudah habis Lionel melemparnya kebawah lalu menginjaknya hingga hancur.


Pria itu menegakan tubuhnya, kedua kaki kokohnya melangkah santai meninggalkan lokasi. Salah satu tangannya membawa sebuah kantong plastik berisikan banyak mie instans, buah apel dan camilan.


Lionel tahu kalau kalau gadis yang saat ini tengah terlelap di atas tempat tidurnya akan meminta makan saat terbangun nanti, dan camilan serta buah adalah makanan tercepat yang bisa dia berikan.


Jarak yang Lionel tempuh tidak terlalu jauh, cukup beberapa menit pria itu sudah sampai di loby. Langkahnya sempat terhenti, pria itu menoleh dan menatap sekitar sebelum masuk kedalam lift.


Kedua matanya memicing, memperhatikan para penghuni gedung ini dengan seksama. Tidak ada yang saling bertegur sapa dengan siapa pun, mereka tak acuh dengan penghuni lainnya termasuk Lionel.


Dia bukan tipe orang yang suka berbasi, Lionel lebih suka to the poin dan tidak ingin mengurusi urusan orang lain, begitu pun dengan orang lain yang tidak akan Lionel biarkan mengurusi urusannya.


Ting!


Pintu lift terbuka, Lionel melangkah cepat- namun baru beberapa meter jarak yang dia ambil langkahnya kembali terhenti. Dahinya mengernyit, pria itu kembali menoleh seakan memastikan sesuatu.


Kedua matanya bergulir liar, kedua alisnya menukik tajam dan tidak lama senyuman samarnya terbit. Setelah puas Lionel kembali melanjutkan langkahnya, dia segera membuka pintu dengan mudah.


Lionel segera masuk kedalam kamar setelah meletakan kantong plastik yang dibawanya ke atas meja, kedua matanya mengarah pada seorang gadis yang masih terlelap padahal cukup lama dia meninggalkannya.


Pria itu perlahan mendudukkan diri di sisi tempat tidur, dengan cepat Lionel membuka hoodie hitam yang membalut tubuh sempurnanya. Rasa tidak nyaman mulai dia rasakan, panas dan gerah.


"Princess, apa kau akan terus tidur?" satu tangan Lionel terulur menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik sang gadis.

__ADS_1


Jari jemari besar itu menyusuri lekuk wajah Sang Bunga Albarack, netra tajamnya menatap lekat pada gadis yang masih berpura pura tidak mengerti dengan ungkapan perasaannya.


"Kau tidak lapar, Putri Tidur?" bisik Lionel tepat di dekat wajah Liara.


Pria itu perlahan menjauhkan diri saat melihat Liara terusik, gadis itu menggeliat dan merentangkan kedua tangannya. Tidak terbangun hanya terusik dan kembali tertidur dengan nyaman.


"Jangan! itu geli Simba," igaunya.


Lionel yang tidak melakukan apa pun hanya mengernyit mendengar kalimat yang keluar dari bibir tipis liara. Salah satu sudut bibir Lionel terangkat, bahkan pria itu terkekeh kecil dibuatnya.


"Kau bermimpi, hm? apa yang kau mimpikan? apa kau sedang menghajarku didalam mimpi mu, Princess?" Lionel kembali berbicara sendiri, dia seperti orang yang sedikit depresi karena berbicara dengan orang tidur.


"EEuungghhh," lenguh Liara, gadis itu kembali membalikan tubuhnya menghadap Lionel.


Masih dalam keadaan terlelap, bibirnya terlihat mengecap sendiri entah kenapa Liara melakukan hal itu, dan mimpi apa yang sedang dia nikmati sekarang. Bahkan Lionel di buat sedikit tidak fokus dengan gerakan bibir yang Liara buat.


Hingga sadar atau tidak Lionel perlahan merendahkan tubuhnya, pria itu semakin mendekat pada Liara yang masih berguman tidak jelas. Semakin dekat, bahkan hidung mereka hampir saja bersentuhan- namun sebelum ujung hidung mancung Lionel menyentuh bagian wajah Liara ada hal yang membuat pria itu tersentak.


PYAAARR!


Terdengar pecahan kaca cukup keras dari arah luar kamar. Lionel reflek menjauh, pria itu menoleh ke arah pintu dan hendak bangkit. Namun gerakannya tertahan saat Liara tiba tiba meraih lengannya dan memeluknya erat.


Kedua mata gadis itu sudah terbuka sempurna, bahkan terkesan melotot, sepertinya kedua telinga Liara masih berfungsi dengan baik atau mungkin karena trauma karena kejadian yang pernah menimpanya beberapa kali.


"Apa itu? kenapa kayak suara kaca pe-,''


"Ssstttt- jangan bersuara oke! tetap tenang, tarik napas hembuskan perlahan." Lionel segera menempelkan jari telunjuknya di bibit Liara.

__ADS_1


Kedua matanya menatap lembut pada gadis yang terlihat menahan napasnya bukan menghirup napas.


"Hembuskan, jangan ditahan nanti kau bisa kehabisan napas," cetus Lionel lagi, dia terlihat gemas sendiri dibuatnya.


"Huuuuffttt!" Liara membuang napasnya cukup kasar.


Pegangannya semakin erat kala Lionel hendak beranjak dan menjauh darinya.


"Diam disini!" titahnya penuh penekanan.


Liara menggeleng, gadis itu bahkan sudah melingkarkan kedua tangannya di tubuh Lionel yang terbuka sadar atau pun tidak.


"Kamu yang diam disini!" balasnya tidak mau kalah.


Helaan napas pria itu terdengar, kalau sudah seperti ini dia tidak bisa melakukan apa pun selain-


"Tetap di belakangku! jangan berteriak atau pun berlari secara tiba tiba kalau kau melihat sesuatu nanti!"


Kedua mata Liara mengerjab cepat, dia sebenarnya tidak mengerti namun dengan terpaksa mengangguk agar Lionel mengizinkannya ikut.



MAAF MATAKU TERLALU FOKUS BANG SIMBA 🏃🏃



APAAN TUH?!

__ADS_1


__ADS_2