Guardian Flower

Guardian Flower
Dendam Dan Amarah


__ADS_3

Brukk!


Lionel berhasil mendarat diatas kapal dengan baik, napas pria itu terengah- kedua mata tajamnya menelisik setiap sudut tempat yang dia masuki saat ini.


Sepi!


Tidak ada satu orang pun yang berjaga di tempat ini. Hal itu tidak lantas membuat Lionel berlega hati, justru dia terlihat waspada dan curiga kenapa dibagian kapal ini tidak ada satu penjaga pun. Padahal akses yang sedang Lionel lewati cukup strategis dan mudah dimasuki oleh penyusup, salah satunya dirinya sendiri.


Tap Tap Tap


Suara langkah kian mendekat, bukan hanya satu orang tapi ada beberapa orang yang berjalan cepat menuju lokasi Lionel berada sekarang. Pria berkaos hitam itu terlihat menggulirkan bola matanya, dia melangkah tanpa suara dan memepet ke dinding kapal.


"Cari dia sampai dapat! jangan biarkan dia bertemu dengan gadis itu atau pun gadis lain yang ada di kapal ini. Aku yakin dia tidak jauh dari sini, berpencar!"


Kedua telinga Lionel berkedut, dia masih tetap pada posisinya tapi kewaspadaannya kian diasah. Punggungnya masih menempel di dinding kapal, satu tangannya perlahan merogoh sesuatu dari balik celana- sayangnya bukan pistol.


Tapi sebuah belati.


Untung saja Liara tidak ada didekatnya, kalau saja gadis itu ada pasti akan terlontar pertanyaan bodoh seperti sebelumnya.


Belati perak yang tidak terlalu besar, walaupun Lionel ingin mengeluarkan pistolnya, dia masih berpikir panjang. Benda itu pasti akan mengeluarkan suara bising dan membuat kacau ditempat ini.


Perlahan Lionel keluar dari tempat persembunyiannya, kedua kaki yang berbalut sepatu basah itu melangkah pelan tanpa suara. Kedua mata tajamnya menyorot punggung seseorang yang tidak jauh darinya, orang yang memakai pakaian sejenis seragam itu tidak menyadari kehadiran Lionel, hingga akhirnya-


Blaass!


Lionel mendapatkan batang lehernya, memutarnya dengan cepat hingga orang yang berjenis kelamin laki laki itu terkulai lemah tanpa suara didalam dekapannya. Lionel terlihat tenang, bola matanya bergulir untuk memastikan kalau tempat yang dia injak sekarang tidak ada kamera pengintai.


Tempat ini masih aman, tapi dia tidak tahu dengan tempat lainnya. Lionel terlihat menyeret tubuh lemah tak berdaya itu ke arah sudut yang sepi, mata tajamnya menemukan sebuah pintu kecil. Entah apa yang ada didalam pikiran Lionel saat ini, yang jelas dia menyeret pria itu kedalam ruangan yang ternyata sebuah toilet tak terpakai.


"Sepertinya pria ini salah satu anak buah kapal yang bekerja pada orang itu," gumamnya.


Tanpa pikir panjang Lionel segera membuka kaos yang dipakainya, lalu membuka seragam yang dipakai oleh si ABK. Lionel tidak membunuh pria itu, dia hanya membuat sang pria tidak sadar dalam jangka waktu yang lama.


Tanpa memakaikan kaos yang tadi dilepasnya, Lionel membiarkan pria itu hanya memakai boxer bergambar Superman, terlihat menggelikan tapi lucu juga.

__ADS_1


"Aku harap kau tidak akan bangun, karena kalau sampai kau bangun dan berteriak, aku tidak yakin kalau rasa malu mu itu bisa kau bendung. Aku pinjam seragam mu dulu, jangan nakal dan tidurlah!"


Lionel berjongkok dan menepuk pipi pria yang tidak sadarkan diri itu, Sang Singa Tua terlihat seperti orang depresi yang berbicara dengan pria tidak yang tidak sadar.


Setelah puas berbincang, Lionel kembali fokus- dia melangkah pelan dan keluar dari toilet dengan tampilan yang berbeda.


Di sisi lain di tempat yang sama, Liara masih belum sadarkan diri. Gadis itu terikat disalah satu kursi dan di dekatnya banyak sekali gadis malang yang sedang meratapi nasib mereka.


Sementara di tempat berbeda dan nyaman, seorang pria berwajah sangar juga ada goresan luka di salah satu pipinya terlihat tenang dan begitu menikmati perjalanan.


Tidak jauh dari pria itu, ada seorang pria lain yang juga terdiam. Bukan karena menikmati perjalanan, melainkan sedang berpikir- apakah yang dia lakukan sudah benar atau malah salah besar.


"Kau terlalu banyak berpikir. Bukankah kau sendiri yang menawarkan kerjasama ini? kau ikut dengan ku agar bisa membalas mantan ajudan putri semata wayangmu bukan. Kau merasa kalau dia sudah menyia nyiakan putrimu dengan gadis yang kau tawarkan padaku, benarkan?"


Pria berwajah sangar itu menyeringai, ekor matanya menatap pada pria yang sedari tadi terlihat bimbang namun enggan untuk mengungkapkan.


"Sudahlah, Nona Hyena pasti senang saat tahu kalau gadis yang tidak dia sukai, serta mantan ajudan tidak tahu diri itu sudah berada di tanganku. Sekarang nikmati saja perjalanan mu Tuan Bramono, kita akan mengarungi lautan bersama para gadis yang akan menjadi ladang uang kita di Macau nanti!" pria itu tertawa penuh kemenangan, dia mengangkat botol vodka yang ada didekatnya lalu meneguknya dengan rakus.


"Dia sudah berada di kapal ini?" tanya Bramono atau Ayah dari Hyena.


Tawa pria itu kembali terdengar, bahkan lebih keras dari pada yang sebelumnya. Sementara Bramono hanya mengangguk, walaupun ada perasaan tidak tenang tapi dia berusaha mengenyahkannya.


🦁


🦁


🦁


"Haaaahh!" Liara tersadar dari pingsanya secara tiba tiba, bahkan gadis itu terengah dan berkeringat saat kedua matanya terbuka lebar.


Kesadarannya semakin bisa dia kendalikan, namun detak jantungnya justru kian menggila saat dia mengingat mimpi atau hanya bayangan yang melintas dipikirannya.


"Simba," gumamnya pelan.


Kedua matanya kembali terpejam, pergelangan tangannya terasa sakit tapi Liara berusaha untuk tidak merasakannya. Dia diam, tidak bersuara sedikit pun- bahkan saat beberapa penjaga menginstruksikan para gadis yang menjadi tawanan untuk berdiri dan berbaris, Liara hanya menurut.

__ADS_1


Dia sama seperti gadis lain, berbaris. Entah apa yang akan mereka terima nanti, yang jelas Liara berharap tidak akan ada penyiksaan fisik dan mental di sini.


"Berbaris yang benar! Tuan Scar akan melihat kalian semua dan memilih barang bagus dan tentunya akan mahal harganya!"


Para penjaga itu tertawa, mereka menertawakan wajah wajah khawatir dan takut para gadis yang ada dihadapan mereka saat ini. Terlihat tidak memiliki prikemanusiaan, atau bahkan lebih kejam dari pada penjaga segerombolan domba yang siap di jual ke negara orang.


Kedua tangan Liara mengepal, matanya menatap satu persatu orang yang saat ini tengah menertawakan nasibnnya dan nasib para gadis malang yang ada di dekatnya.


'Awas aja kalo aku bisa bebas, aku tendangin latto latto nya satu persatu!' ancamnya dalam hati.


Suara riuh tawa itu tiba tiba terhenti saat ada suara derap sepatu mendekat kearah mereka. Beberapa penjaga memilih mundur dan membiarkan orang yang baru saja memasuki ruang tawanan mendekat dan bergabung bersama mereka.


"Hello ladies, kalaian baik baik saja kan? jangan dengarkan apa yang mereka ucapkan oke. Aku akan menjamin hidup kalian akan lebih baik lagi saat sampai disana." cetusnya.


Bola mata itu bergerak liar, hingga akhirnya tertuju pada satu titik dan itu adalah Liara. Sudut bibirnya terangkat saat melihat wajah tenang namun menyimpan kekhawatiran yang sedang Liara tunjukan sekarang.


"Tapi sepertinya aku belum pernah menjual sesuatu yang begitu berharga sebelumnya, apa lagi ini lebih dari sebuah berlian- sangat langka. Aku harap dia bisa diajak kerjasama nantinya." imbuhnya lagi.


Tangan Liara semakin mengepal erat, dia menelan salivanya susah payah. Ingin rasanya Liara berteriak dan meludahi wajah buruk pria yang tengah tersenyum nakal padanya itu.


Tawa yang pria itu keluarkan kian membuat gendang telinga sakit, bukan hanya Liara dan para gadis tawanan lainnya, tapi juga seorang pria yang sudah bergabung didalam rombongan penjaga atau anak buah kapal yang memakai seragam sama dengannya.


'Sepertinya aku pernah melihat pria itu, tapi dimana?' gumamnya dalam hati.


'Tunggulah sebentar lagi Princess, aku sudah ada disini untukmu.' lanjutnya.


"BAWA MEREKA KERUANG YANG SUDAH DISEDIAKAN! PARA PENJAGA BAWA MEREKA!" titahnya tidak ingin dibantah.


Tanpa menyia nyiakan kesempatan, salah satu dari penjaga itu segera mendekat pada Liara, dan menggiring gadis itu agar segera berjalan tanpa bersuara sedikit pun.




AKU MENUNGGU MOMENT INI 🏃🏃🏃🏃

__ADS_1


__ADS_2