Hanya PEMUAS

Hanya PEMUAS
Aku Akan Selalu Ada Untukmu


__ADS_3

Setelah menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang di katakan oleh Ado, kini Nessa membalik tubuh untuk menatap pria yang dulu pernah mengisi seluruh hatinya.


"Namun aku akan pastikan pada mu, jika aku akan selalu bahagia dengan pria yang sangat aku cintai,"


"Jika itu benar aku akan ikut bahagia atas kebahagiaan kamu Nes, tapi jika tidak, aku akan selalu ada untukmu sampai kapan pun Nes," sambung Ado sambil mengukir senyum. "Aku pergi dulu, dan selalu jaga kesehatan kamu Nes, makan lah tepat waktu agar kamu tidak sakit," ujar Ado mengingat kembali jika Nessa dulu sering jatuh sakit karena telat makan, kemudian Ado melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Nessa.


"Aku bukanlah Nessa yang dulu Do, jadi kamu tidak perlu cemas," ucap Nessa menghentikan langkah Ado yang akan keluar dari pintu rumahnya, kemudian Ado menoleh ke arah Nessa, dan tak lupa senyum terukir dari bibirnya, lalu Ado segera keluar dari rumah Nessa.


Nessa tidak peduli dengan apa pun yang di katakan oleh Ado. Saat rasa cinta yang pernah ada untuk Ado dulu, sudah hilang dengan menghilangnya Ado dari hidupnya tujuh tahun lalu.


Apa lagi saat ini Nessa hanya mencintai Al, dan cinta yang sangat besar pada pria yang setahun belakangan selalu bersamanya.


Kemudian Nessa kembali ke dalam kamar untuk melihat ponselnya apakah Al sudah membalas pesan yang tadi dirinya kirim atau belum.


Namun saat dirinya sudah masuk ke dalam kamar dan memeriksa ponselnya Nessa terlihat kecewa saat pesannya belum di balas, jangankan di balas di baca juga belum oleh Al.


Kemudian Nessa meletakan ponselnya di atas meja tidak ingin mengirim pesan lagi pada Al, saat dirinya mengingat apa yang pernah Al katakan padanya, jika Al menyuruhnya untuk tidak mengirim pesan lagi, sebelum pesan yang pertama di balas.


"Nak, apa nak Ado sudah pulang?" tanya ibu Sumi yang masuk ke dalam kamar sang putri.

__ADS_1


"Sudah bu," jawab Nessa lalu menghampiri sang ibu yang masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi satu gelas teh hangat.


"Ibu, aku bisa mengambil sendiri, aku bukan putri raja yang harus di layani tahu," ujar Nessa dan mengambil alih nampan yang di bawa sang ibu.


"Tapi ibu akan selalu melayani mu nak, karena ibu selalu merasa bersalah melihat kamu menjadi tulang punggung keluarga, semenjak ayah kamu meninggalkan kita setelah kejadian waktu itu,"


"Bu jangan di bahas lagi, itu masa lalu," ucap Nessa sambil mengukir senyum. "Aku senang bisa menjadi tulang punggung keluarga, dan itu artinya aku tidak menjadi beban keluarga," ucap Nessa lagi dan terus mengukir senyum, padahal di dalam hatinya menangis mengingat lagi uang yang membiayai kehidupan sang ibu adalah uang yang di hasilkan dengan cara tidak benar, yang sungguh susah untuk Nessa tinggalkan saat dirinya sangat mencintai Al, pria yang mampu memberikan semua yang di inginkan nya.


"Kamu ada ada saja," sambung ibu Sumi lalu memeluk sang putri. "Terima kasih nak, untuk semuanya,"


"Terima kasih juga, ibu sudah melahirkan aku," balas Nessa lalu memeluk balik sang ibu menggunakan tangan kiri saat tangan kanannya masih memegang nampan.


"Ada apa lagi nak?" tanya ibu Sumi dan kembali menghampiri Nessa.


"Besok aku akan kembali ke ibu kota, bu,"


"Ibu tidak mengijinkan kamu,"


"Tapi ibu bilang aku harus–"

__ADS_1


"Ibu tahu, dan ibu yakin padamu. Kamu akan membawa kekasih kamu itu dan mengenalkan pada ibu meskipun tidak sekarang," sambung ibu Sumi memotong perkataan Nessa. "Dan jangan ada alasan lagi, kamu ingin cepat ke ibu kota karena pekerjaan, bilang sama atasan kamu, ambil cuti selama seminggu. Masa setiap pulang kampung paling lama hanya tiga hari di rumah,"


"Tapi bu–"


"Tidak ada tapi tapian, ibu lihat di televisi jika perusahaan memberikan cuti tahunan untuk semua karyawannya, dan itu bisa di ambil kapan saja, dan sekarang kamu ambil cuti tahunan itu," sambung ibu Sumi memotong perkataan sang putri, mengingat kembali Nessa selalu mengatakan pada sang ibu jika dirinya bekerja di sebuah perusahaan.


"Tidak bisa begitu dong bu, aku harus bekerja dengan profesional, dan tidak mengambil cuti sembarangan," ujar Nessa mengingat lagi jika dirinya berjanji pada Al hanya tiga hari di kampung halaman.


"Ya sudah sini ibu yang telepon atasan kamu, untuk meminta izin,"


"Mana bisa begitu," sambung Nessa.


"Tentu saja bisa,"


"Baiklah, kalau begitu aku akan tinggal satu minggu," akhirnya Nessa mengikuti keinginan sang ibu.


"Bagus, terima kasih nak," ujar ibu Sumi sambil tersenyum.


Bersambung..........................

__ADS_1


__ADS_2