
"Anisa," ucap mama Beca lagi untuk memastikan apa yang di lihatnya tidak salah.
"Beca," ucap dokter wanita yang usianya sebaya dengan mama Beca. Yang sekarang beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah mama Beca yang juga mendekat ke arahnya.
"Ya ampun Anis," mama Beca langsung memeluk wanita paruh baya yang di panggil Anisa oleh mama Beca dan wanita tersebut adalah dokter kandungan. Yang ternyata adalah sahabat mama Beca dari kecil.
Begitu pun dengan Anisa yang memeluk balik mama Beca dengan erat.
Setelah beberapa saat keduanya berpelukan, kini ke duanya melepas pelukannya.
"Ya ampun Beca, sudah berapa abad kita tidak bertemu," ujar Anisa sambil menggenggam ke dua telapak tangan mama Beca.
"Ya ampun kamu kalau bicara tidak di saring, umur kita saja belum ada seabad Nis," sambung mama Beca sambil menepuk lengannya.
"Lagian kamu itu hilang dari peradaban setelah menikah,"
"Aku atau kamu, bukannya kamu dulu yang menghilang, dengan dalih ingin kuliah di luar negeri,"
"Bec, aku selalu menghubungi kamu ya, tapi kami seperti hilang dari radar satelit aku,"
"Kamu pikir aku pesawat," sambung mama Beca, dan tujuan awalnya masuk ke dalam ruangan tersebut tidak lagi terlintas di pikirannya.
Ketika Anisa mengajak mama Beca, ke sofa yang ada di ruangan tersebut. Dan keduanya langsung bernostalgia mengingat dulu ke duanya sangatlah dekat, sebelum mama Beca ikut sang suami tinggal di luar negeri setelah menikah, dan Anisa sibuk dengan profesinya sebagai dokter.
Anisa menautkan ke dua alisnya dan menatap wajah mama Beca sang sahabat, setelah ke duanya selesai bernostalgia.
__ADS_1
"Nis, kenapa kamu menatapku seperti itu, aku memang sudah tua jadi maklum jika banyak keriput di wajahku," ujar mama Beca saat menyadari jika Anisa sedang menatap nya dengan intens.
"Aku juga tahu, kita sudah tidak muda lagi,"
"Terus kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya mama Beca penasaran.
"Apa di usia kamu yang tidak muda lagi ini, kamu sedang hamil lagi? Doyan sekali suami kamu?" tanya balik Anisa.
"Ya ampun, bisa bisanya kamu bertanya seperti itu, ada ada saja,"
"Terus untuk apa kamu mendatangi dokter kandungan?"
Mendengar apa yang di tanyakan oleh Anisa, mama Beca mengingat lagi apa tujuannya awalnya masuk ke ruangan tersebut.
"Oh iya aku lupa, ada yang ingin aku tanyakan pada kamu,"
"Kamu tahu wanita muda yang belum lama keluar dari ruangan ini?"
"Iya, dia pasien aku. Ada apa memangnya?" tanya Anisa penasaran.
"Apa yang dia lakukan?"
"Apa kamu mengenal dia?" tanya Anisa balik tanpa menjawab pertanyaan mama Beca yang di tunjukkan untuknya.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja,"
__ADS_1
"Maaf Beca, aku tidak bisa memberi tahu privasi pasien aku," sambung Anisa sambil mengukir senyum.
"Nis, tolonglah beri tahu aku, apa dia sedang mengandung?"
"Jika iya, tidak ada urusannya dengan kamu kan, sudahlah kita bahas hal lain saja,"
"Nis, aku mohon beri tahu aku tentang wanita tadi,"
"Ya ampun Beca, sudah aku katakan jika pasien aku adalah privasi ku,"
Mendengar apa yang di katakan oleh Anisa, mama Beca meraih tangan Anisa, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Nis, aku mohon katakan padaku, jika dia hamil, siapa suami dia?" tanya mama Beca yang entah mengapa dirinya memiliki perasaan jika Al sang putra adalah ayah dari anak yang di kandung oleh Nessa.
Dan mama Beca terus memohon pada Anisa, hingga Anisa tidak tega untuk tidak mengatakan pada sang sahabat informasi dari Nessa.
"Baiklah aku akan mengatakan padamu, dia bernama Nessa, usianya dua puluh tujuh tahun, dia berasal dari kota M, dan usia kandungan nya sekarang sudah menginjak usia empat minggu, tapi maaf dari awal wanita itu tidak ingin menyebut nama suaminya," jelas Anisa yang menjelaskan dengan detail indentitas Nessa. "Apa sudah jelas?"
Mama Beca menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa tempatnya duduk, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah mendengar penjelasan Anisa.
Karena mama Beca begitu yakin jika ayah dari bayi yang di kandung Nessa adalah anak Al sang putra.
"Ada apa Bec?"
"Di mama dia tinggal?" tanya mama Beca balik tanpa menjawab pertanyaan Anisa yang di tunjukkan untuknya.
__ADS_1
Bersambung........................