
"Al. Lepaskan!" teriak Nisa dan mulutnya langsung di bekap oleh Al, saat seluruh keluarga yang berada di ruang tamu menoleh ke arahnya.
"Ya ampun mereka sudah tidak sabar adik ipar," ucap paman Zaki pada mama Beca sambil mengukir senyum dan menggelengkan kepalanya, ketika melihat Al yang sedang membekap mulut Nisa dari belakang dan di pikir sedang memeluknya.
"Ya begitu lah, bilangnya tidak mau di jodohkan, tapi langsung nempel seperti lem," sambung mama Beca dan membiarkan Al membawa Nisa entah ke mana.
"Benar, malu malu tapi mau," ucap Toni. "Oh ya Beca, bagaimana jika acara pernikahan anak kita di adakan secara sederhana saja, dan hanya mengundang kerabat dan juga rekan bisnis kita saja," usul Toni.
"Memangnya kenapa Ton, kamu tahu aku ingin sekali pernikahan putraku di adakan secara megah,"
"Tapi putriku mau di jodohkan dengan syarat ya itu tadi, menikah secara sederhana,"
"Tidak apa apa Beca, kita ikuti kemauan putri Toni, lagian kamu bisa mengadakan resepsi kapan saja kamu mau, yang terpenting kan mereka sudah menikah dan sah secara agama dan juga negara," usul paman Zaki.
"Baiklah, aku ikuti permintaan putri kamu," ucap mama Beca menyetujui apa yang di ingin kan oleh putri dari sahabatnya tersebut, kemudian semua yang ada di ruang tamu mrlanjutkan membahas hari pernikahan yang tiga hari lagi di adakan.
Sementara itu, Al yang sudah masuk ke dalam kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari ruang makan, melepas tangannya saat masih membekap mulut Nisa.
"Kurang ajar!" kesal Nisa menatap kesal ke arah Al. "Pria yang kasar dan tidak punya sopan santun, dasar menjijikkan,"
__ADS_1
"Terserah kamu mau bilang apa," sambung Al lalu duduk di pinggiran tempat tidur.
Membuat Nisa yang tidak ingin dekat dekat dengan Al, apa lagi satu kamar depannya, melangkahkan kakinya ingin menuju pintu kamar tersebut.
"Apa yang kamu inginkan dari ku? Sehingga kamu menerima perjodohan ini?" tanya Al menghentikan langkah Nisa yang ingin keluar dari dalam kamar, kemudian membalik tubuhnya untuk menatap Al. "Pasti kamu menginginkan uang bukan? Dan katakan berapa uang yang kamu inginkan. Setelah itu bilang pada ke dua orang tuamu untuk membatalkan perjodohan ini,"
Mendengar apa yang di katakan Al, Nisa melangkahkan kakinya mendekati Al, tak lupa senyum sinis tersungging dari sebelah sudut bibirnya.
"Apa kamu kira aku semiskin itu?" tanya Nisa saat sudah berdiri di depan Al sambil melipat ke dua tangannya. "Asal kamu tahu, kekayaan yang keluarga kamu miliki tidak ada separuhnya dengan kekayaan yang keluargaku miliki. Jadi jangan pernah menghina aku, kamu paham! Aku yang harusnya bertanya, berapa uang yang kamu inginkan hingga kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya Nisa balik sambil tersenyum sinis.
Mendengarkan semua apa yang di katakan oleh Nisa, Al beranjak dari duduknya dan mendekati Nisa.
"Aku sombong, karena aku memiliki semua yang tidak kamu memiliki," sambung Nisa.
"Aku pastikan kamu akan menyesali kesombongan kamu ini," ucap Al, kemudian menarik tangan Nisa keluar dari dalam kamar tersebut.
"Al, sakit! Lepaskan tanganku!" teriak Nisa, namun tidak di di hiraukan oleh Al, yang sekarang menarik tangan Nisa menuju ruang tamu.
"Ya ampun kalian so sweet sekali, di dalam rumah juga saling bergandengan tangan," ujar mama Beca saat mendapati putra dan juga Nisa sudah berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Bagus bukan, jadi kita tidak perlu mengajari mereka lagi caranya so sweet so sweet tan," sambung Nia, mama dari Nisa.
"Benar juga ya," mama Beca lalu menatap sang putra. "Kalian pergilah berkencan, mumpung hari libur," perintah mama Beca.
Namun tidak mendapat tanggapan dari Al, yang sekarang melepas genggaman tangannya beralih memeluk pinggang Nisa dengan erat agar Nisa tidak memberontak.
"Aku ingin hari pernikahan di adakan besok,"
"Apa!" ucap bersamaan semua orang yang berada di ruang tamu, tidak terkecuali dengan Nisa yang sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh Al.
Al mendekatkan wajahnya ke telinga Nisa, saat semua orang masih terkejut dengan apa yang di katakan oleh Al.
"Dan sebentar lagi, aku pastikan, kamu akan menyesal dengan kesombongan kamu itu!" bisik Al di telinga Nisa.
Mendengar apa yang di katakan oleh Al, Nisa menoleh ke arahnya sambil tersenyum sinis.
"Apa kamu yakin?" tanya Nisa dengan nada mengejek. "Karena aku yang akan membuat kamu menyesal dengan apa yang akan kamu lakukan padaku Al!" tegas Nisa yang tahu jika Al memajukan hari pernikahannya, karena ada niat tersendiri.
Bersambung..........................
__ADS_1