
Tepat di jam makan siang Al dan juga Nessa tiba di rumah mama Beca dan juga papa Zack.
Ketika Al yang sudah jauh jauh hari di beri tahu mama Beca, untuk membawa Nessa ke rumah tersebut ketika kembali dari kampung halaman.
Rumah yang begitu megah bagi Nessa, dan baru kali ini dirinya akan memasuki rumah megah tersebut.
"Ada apa?" tanya Al yang terus menggandeng tangan Nessa ingin masuk rumah, namun Nessa menghentikan langkah nya saat sudah berada di teras rumah tersebut.
"Tidak," ucap Nessa lagi sambil tersenyum.
Bukan tanpa alasan Nessa menghentikan langkah nya, dirinya merasa insecure mendapati keluar Al ternyata sangatlah kaya, tidak seperti bayangannya, karena selama ini Al tidak pernah menceritakan asal usul keluarganya.
Dan baru tadi Al menceritakan semuanya saat ke duanya berada di dalam mobil menuju rumah tersebut.
"Kenapa berhenti? Sekarang ini adalah rumahmu istri ku sayang," ujar Al yang sekarang melepas genggaman tangannya, kemudian langsung memeluk pinggang sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Mama Beca yang sudah di beri tahu sang putra, jika hari ini akan kembali, sudah menyiapkan makanan siang untuk menyambut anggota baru keluarganya.
"Siti, biar aku saja yang membuka pintu," ujar mama Beca pada asisten rumah tangga nya yang akan membuka pintu rumah, saat bel rumah nya berbunyi.
Dan mama Beca dengan antusias menuju pintu, karena dirinya yakin yang menekan bel rumahnya adalah sang putra.
Senyum terukir dari ke dua sudut bibir mama Beca saat sudah membuka pintu tersebut, dan benar saja dugaan mama Beca betul, ketika mendapati sang putra dan juga sang menantu sudah tiba.
__ADS_1
"Akhirnya kalian tiba," ucap mama Beca yang langsung menghampiri Nessa lalu memeluknya dengan erat sejenak sebelum melepas pelukannya. "Apa kamu lelah?" tanya mama Beca pada sang menantu, dan Nessa pun hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian mama Beca memeluk bahu sang menantu dan berjalan masuk ke dalam rumah bersama, meninggalkan Al yang masih di tempatnya.
"Ma, kenapa mama tidak bertanya padaku," keluh Al yang masih diam di tempatnya.
Membuat mama Beca dan juga Nessa yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan nya, langsung menghentikan langkah nya lalu membalik tubuhnya untuk menatap Al.
"Untuk apa mama bertanya padamu, pasti kamu bahagia bukan sudah bisa membawa Nessa kembali?"
"Tentu saja bahagia ma, tapi juga kesal?"
"Kesal?" tanya mama Beca sambil memicingkan ke dua matanya penasaran dengan apa yang di katakan oleh Al. "Kenapa?"
Mendengar apa yang di katakan oleh Al, mama Beca hanya bisa menahan senyum dan semakin erat memeluk bahu sang menantu.
"Itu derita kamu Al," ujar mama Beca lalu membalik tubuhnya, dan kembali mengajak Nessa masuk ke dalam rumah, meninggalkan Al yang langsung mengacak acak rambutnya.
"Kalau tahu begini mending tadi langsung menuju apartemen," gerutu Al dan berjalan menyusul sang mama dan juga sang istri.
"Sayang sekarang ini adalah rumah kamu, dan kamu akan tinggal di sini selamanya oke, jadi jangan sungkan sungkan," ucap mama Beca yang sudah berada di ruang makan, lalu menarik satu kursi untuk Nessa duduk.
"Tapi–"
__ADS_1
"Tidak ada kata tapi, mama tidak mengijinkan kamu tinggal di apartemen Al atau pun apartemen yang pernah kamu tempati oke," tegas mama beca memotong perkataan Nessa, tak lupa mengukir senyum. "Karena tempat itu tidak bagus untuk ibu hamil seperti kamu sayang," jelas mama Beca yang sekarang ikut duduk di kursi tepat di samping sang menantu.
"Jangan mengatur, Nessa istriku Ma, jadi terserah aku mau bawa dia tinggal di mana," sahut Al yang sudah sampai ruang makan.
"Jangan membantah kamu bukan anak kecil lagi, kamu akan segera menjadi ayah, jadi jangan egois, pikirkan kesehatan istri kamu dan juga calon anak kamu," ujar mama Beca sambil menatap ke arah Al. "Lagian juga rumah ini siapa yang akan menempati, jika papa dan mama akan kembali ke London, kalau bukan kalian,"
Mendengar apa yang baru saja mama Beca katakan, Al langsung menoleh ke arah sang mama.
"Maksud mama?"
"Papa mengajak kembali ke London untuk mengecek perusahaannya di sana,"
"Terus sekarang papa di mana?" tanya Al yang tidak mendapati ada sang papa,"
"Ada di kamar sedang berkemas,"
"Syukurlah tidak ada hambatan lagi," ujar Al sambil tersenyum, saat dirinya sudah was was tidak bisa mengeksplor tubuh sang istri, jika tinggal di rumah ke dua orang tuanya. "Kenapa tidak sekarang saja perginya Ma, biar aku–"
Belum juga meneruskan ucapannya, mama Beca sudah memukul lengan Al yang duduk di sampingnya dengan kencang, tahu apa yang akan Al katakan.
"Dasar, anak tidak tahu diri!"
Bersambung...............................
__ADS_1