Hanya PEMUAS

Hanya PEMUAS
Membutuhkan Uang


__ADS_3

"Bodoh!" tegas Ado sambil menatap ke arah Nessa yang sekarang beranjak dari tidurnya. "Jika dia mencintaimu dia tidak akan mungkin melakukan ini padamu sebelum kalian menikah Nes!"


"Kamu tidak tahu apa apa Do, sudah lah jangan dramatis begitu, aku sangat bahagia mengandung anaknya,"


Mendengar apa yang di katakan oleh Nessa, Ado hanya menggelengkan kepalanya.


"Bahagia kamu bilang Nes? Bagaimana dengan ibumu jika dia tahu kamu sedang hamil di luar nikah seperti ini Nes?" tanya Ado sambil meraup wajahnya, yang sama sekali tidak mengerti dengan pernyataan yang baru saja Nessa katakan.


"Dan aku sudah bilang, rahasiakan ini dari ibu," sambung Nessa. "Sebentar lagi kami juga akan menikah,"


"Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan ini Nes? Kamu mau menikah dengan pria yang tidak bertanggung jawab seperti dia?" tanya Ado berturut turut. "Aku tidak habis pikir denganmu Nes, kenapa kamu jadi bodoh seperti ini,"


"Siapa bilang dia tidak tanggung jawab?" tanya Nessa balik yang tidak menyukai pernyataan Ado.


"Aku Nes, jika dia pria yang bertanggung jawab tidak mungkin dia melakukan ini padamu,"


"Sudahlah diam Do, kamu tidak tahu apa apa tentang kami, tapi akan aku katakan padamu satu hal, dia pria yang sangat aku cintai, dan dia pria yang sudah membiayai kehidupan keluargaku selama ini. Sekarang kamu bilang dia tidak bertanggung jawab, di mana letak tidak tanggung jawabnya dia, coba jelaskan di mana?" tanya Nessa untuk membantah statemen Ado tentang Al.


Namun Ado tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Nessa.


"Sekarang pergilah, aku bisa pulang sendiri," perintah Nessa.

__ADS_1


Membuat Ado langsung keluar dari raungan di mana Nessa berada tanpa mengatakan apa pun lagi.


*


*


*


Sementara itu Al yang mengunjungi unit apartemen sederhana miliknya yang di tempati Nessa, menghembuskan nafasnya lega, setelah dirinya melihat semua barang barang Nessa masih berada di dalam apartemen nya.


Dan Al memastikan apa yang tadi di katakan oleh papa Zack adalah informasi palsu, yang bisa saja di dapat dari orang suruhannya.


"Baguslah Pa, jika papa menganggap Nessa sudah keluar dari apartemen aku, setidaknya Nessa masih aman tinggal di sini dan aku masih bisa bermalam dengannya," ucap Al sambil mengukir senyum lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Setidaknya aku akan tidur pulas di sini," kemudian Al langsung memejamkan matanya.


Hampir tiga jam, Al tertidur nyenyak, dan sekarang tidur nya terusik, saat ponsel yang berada di kantong celananya berdering.


Al membuka matanya dengan enggang, lalu mengambil ponsel yang tidak berhenti berdering dari kantong celana nya. Kemudian mengangkat sambungan ponselnya, lalu meletakan nya di telinga kanannya saat dirinya masih terbaring di atas tempat tidur.


"Nis, aku membutuhkan uang sekarang juga, temui aku di tempat biasa, dan jangan sampai ke dua orang tuamu tahu," ucap seseorang dari balik sambungan ponsel, membuat Al yang tadi belum sepenuhnya membuka matanya, kini membulatkan mata mendengar suara pria dari balik sambungan ponsel yang memanggil nama Nisa sang istri, kemudian Al mematikan sambungan ponselnya, dan menatap posel yang berada di tangannya.


Lalu Al menautkan keningnya dan beranjak dari tidurnya kala melihat ponsel yang berada di tangannya, bukanlah miliknya.

__ADS_1


"Ini ponsel siapa? Apa jangan jangan ponsel Nisa, Ah bodoh amat," ucap Al dan meletakkan ponsel tersebut di atas meja nakas di samping tempat tidur.


Lalu Al kembali merebahkan tubuhnya saat masih mengantuk.


Jam sembilan malam Al baru bangun dari tidurnya, dan sekarang tubuhnya merasa sudah lebih baik.


"Baiklah sekarang saatnya bersenang senang," ucap Al, ketika dirinya berniat untuk mengunjungi klub malam menemui ke dua sahabatnya.


Al yang sudah turun dari tempat tidur, ingin menuju kamar mandi, namun langkah nya terhenti saat ponsel yang sebelumnya dirinya letakkan di atas meja nakas berdering.


"Berisik," ucap Al, lalu melangkahkan kakinya kembali menuju kamar mandi, dan tidak menghiraukan ponsel yang terus berdering.


"Berisik sekali, lama lama aku banting juga itu ponsel," kesal Al yang sudah berpakaian rapi.


Pasalnya ponsel yang masih berada di atas meja nakas tidak berhenti berdering, dari Al masuk kamar mandi, hingga sekarang dirinya sudah berpakaian rapi.


Kemudian Al berjalan mendekati ponsel tersebut, lalu mengambilnya.


"Lima belas panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama," ucap Al saat melihat layar ponsel tersebut.


Dan baru saja Al ingin meletakkan ponsel yang ada di tangannya, ponsel tersebut berdering kembali. Membuat Al langsung mengangkat sambungan ponsel tersebut.

__ADS_1


"Nisa, aku sudah hampir satu jam menunggu, cepat bawa uang seperti biasa, jangan sampai aku memberi tahu semua orang siapa kamu sebenarnya," ancam pria di balik sambungan ponsel yang Al tempelkan di telinga.


Bersambung...............................


__ADS_2