
"Al, apa yang kamu katakan?" tanya Nisa penasaran setelah mendengar apa yang Al katakan barusan, membuat ke dua orang tua Nisa juga menunggu jawaban Al dari pertanyaan yang di lontarkan sang putri.
Berbeda dengan papa Zack yang duduk di kursi sisi sebelah kanan, dan terus menatap ke arah sang putra sambil menggertak kan rahangnya, dan juga mengepalkan satu tangannya di bawah meja, karena papa Zack tahu persis siapa mama yang baru saja Al sebutkan.
"Apa papa tahu siapa Nessa?" tanya mama Beca dalam hati ketika melihat sang suami terlihat begitu tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Al.
Kemudian tatapan mata mama Beca beralih menatap sang putra yang sekarang beranjak dari duduknya.
"Maaf, aku permisi," pamit Al tanpa menjawab pertanyaan yang Nisa lontarkan padanya.
"Sayang ada apa dengan suami kamu?" tanya papa Toni yang duduk di hadapan sang putri.
"Al akhir akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan nya, hingga akhir pekan dia juga masih bekerja, mungkin dia sedang lelah jadi bicaranya melantur, maklumi saja," sambung mama Beca sambil tersenyum, untuk menutupi apa yang baru saja Al katakan.
Dan papa Zack yang mendengar perkataan sang istri, langsung menautkan alisnya, merasa heran kenapa sang istri yang memiliki tingkat keinginan tahuan di atas rata rata, tidak ingin tahu apa yang baru saja di katakan oleh Al.
__ADS_1
"Ya ampun, suami yang bekerja keras, tidak sia sia aku menikahkan putriku dengan anakmu Bec," ujar papa Toni sambil mengukir senyum ke arah mama Beca.
Kemudian mama Beca beranjak dari duduknya. "Aku ingin ke belakang dulu, kalian teruskan saja perbincangannya," pamit mama Beca yang langsung meninggalkan ruang makan dan meninggalkan sang suami, ke dua besannya dan sang menantu, yang langsung bercengkrama.
Mama Beca yang tahu di mana keberadaan sang putra langsung menghampirinya. Dan benar saja Al sedang berada di balkon kamarnya sambil menghisap puntung rokok yang berada di sela sela jarinya.
Al yang mengetahui jika sang mama menghampirinya, hanya menolah sejak ke arah mama Beca, sebelum dirinya kembali lagi menghisap puntung rokok yang masih menyala di sela sela jarinya.
"Kondisikan ucapan kamu di hadapan semua orang Al," ujar mama Beca yang sudah menghampiri sang putra lalu mengambil puntung rokok yang ada sela sela jarinya, dan membuangnya ke sembarangan arah.
"Apa kamu mencintainya?" tanya mama Beca, membuat Al hanya melirik ke arah mama sekilas.
"Jangan katakan hal yang menjijikkan itu Ma," sahut Al lalu mengeluarkan satu puntung rokok dari bungkusnya.
"Menjijikan kamu bilang, jika menurut kamu menjijikkan kenapa kamu masih terus mengingatnya Al?"
__ADS_1
"Karena aku merindukannya," sahut Al yang kembali menghisap puntung rokok yang baru saja di nyalakan nya.
"Merindukan tapi tidak mencintainya, apa kamu sudah gila Al?" tanya mama Beca sambil menggelengkan kepalanya. "Mama tidak akan memaksa kamu untuk mencintai istri kamu Nisa, jika kamu mencintai Nessa, tapi mama akan memaksa kamu untuk mencintai Nisa istri kamu jika kamu masih bodoh seperti ini Al, dan pilihan ada di tangan kamu, karena ke dua bayi yang di kandung oleh dua wanita berbeda adalah anak kamu,"
"Ma, sudah aku katakan bayi yang di kandung Nisa bukan lah anakku!" tegas Al.
"Tunjukkan bukti tuduhan kamu, baru kamu bisa berkata seperti ini," sambung mama Beca lalu meninggalkan Al.
Al terus mengumpat selepas kepergian sang mama, tidak menyadari jika papa Zack sudah berada belakangnya.
"Kenapa kamu menyebut wanita jallang itu di depan semua orang Al?" tanya papa Zack membuat Al yang masih menghisap puntung rokok, langsung menolah ke belakang, di mana papa Zack sudah berada di belakangnya. "Sudah papa katakan padamu, jangan lagi berurusan dengan wanita jallang itu, dan jangan lagi kamu mencarinya, apa kamu tidak mengerti apa yang papa katakan?" tanya papa Zack yang terlihat begitu tidak suka.
"Bagaimana aku tidak mencarinya, ketika dia pergi meninggalkan kan aku saat dia sedang mengandung anakku Pa,"
"Apa! Mengandung?!"
__ADS_1
Bersambung...........................