
"Nes, a–"
"Jangan katakan apa pun yang ingin kamu katakan Al, harusnya dari awal aku tidak pernah berharap lebih dari hanya pemuas bagimu Al," sambung Nessa memotong perkataan Al.
Kemudian Nessa melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian yang ada di dalam kamar tersebut, untuk mengambil woman winter sebatas lutut, dan memakainya untuk menutupi pakaian minim yang melekat di tubuhnya.
"Nes, kamu mau ke mana?" tanya Al saat Nessa kini mengambil tas jinjing dan memasukkan beberapa barang miliknya.
Namun Nessa tidak menjawab pertanyaan Al, karena sekarang satu tangannya menarik koper miliknya yang sudah berisi pakaian yang di bawanya ketikan pulang kampung, dan kebetulan Nessa belum mengeluarkan isinya.
Kemudian Al menarik koper yang di tarik oleh Nessa dan menghentikan nya, ketika Nessa ingin keluar dari kamar.
"Nes, jangan pergi. Tetaplah di sini,"
Mendengar apa yang di katakan oleh Al, Nessa yang memang sudah menghentikan langkahnya sekarang membalik tubuhnya untuk menatap ke arah Al.
__ADS_1
"Tetap di sini? Bersama dengan kamu? Manusia yang tidak memiliki perasaan?" tanya Nessa bertubi tubi. "Maaf Al aku tidak bisa, cari wanita lain untuk memuaskan hasrat mu. Dan jangan larang aku untuk pergi. Biarkan aku membesarkan anak ini seorang diri tanpa kamu yang tidak memiliki perasan!" ucap Nessa penuh penekanan. "Dan satu lagi, terima kasih untuk semuanya yang telah kamu berikan padaku, termasuk dengan luka di hati ini, karena aku dengan bodohnya pernah menaruh perasaan padamu, manusia yang tidak memiliki penasaran," ujar Nessa lalu menarik kopernya dengan kencang hingga lepas dari tangan Al yang masih menahannya.
Kemudian Nessa keluar dari kamar tersebut dengan terburu buru dan coba untuk tidak menangis meskipun air mata sudah membendung di ke dua pelupuk matanya. Merasakan sakit di hatinya, karena semua hal indah yang sudah dirinya bayangkan berakhir dengan kekecewaan.
"Nes tunggu jangan seperti ini Nes," ujar Al terus membuntuti Nessa dari belakang.
Namun Nessa tidak menghiraukan nya, dan langsung ke luar dari unit apartemen Al.
Nessa dan juga Al menjadi pusat perhatian penghuni lain apartemen tersebut, ketika ke duanya berjalan di lobi apartemen, dan Al yang berjalan tepat di belakang Nessa terus memohon agar Nessa jangan pergi dan tetap tinggal bersamanya, namun keputusan Nessa sudah bulat.
Nessa memanggil taksi yang kebetulan baru menurunkan penumpang tepat di depan lobi apartemen tersebut.
"Ahhhhh!" Desah Al sambil meraup wajahnya kasar mengunakan satu tangannya. "Kenapa semua jadi seperti ini," ucap Al lalu membalik tubuhnya, dan kembali masuk ke dalam apartemen ketika mengingat dirinya sudah meninggalkan Mama Beca yang sedang pingsan.
Al berjalan dengan terburu buru masuk ke dalam apartemen nya, dan menghentikan langkahnya saat melihat mama Beca sudah duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Di mana Nessa?" tanya mama Beca sambil menatap ke arah Al yang sekarang mendekati sang mama. "Al!" bentak mama Beca saat Al tidak menjawab pertanyaannya.
"Dia sudah pergi Ma,"
"Kenapa kamu tidak mencegahnya, dasar bodoh!" ucap mama Beca dengan kesal. "Bagaimana pun Nessa sedang mengandung anak kamu Al!"
"Aku tahu Ma, tapi apa mama mau menerima Nessa setelah mama tahu siapa Nessa yang sebenarnya?"
"Apa yang kamu katakan?" tanya balik mama Beca tanpa menjawab pertanyaan Al.
"Dia mantan kupu kupu malam Ma,"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Al yang di layangkan oleh mama Beca, ketika Al duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Jika dia mantan kupu kupu malam, terus kamu apa? Bajingan?" tanya mama Beca dengan kesal. "Mama tidak mau tahu, kamu harus membawa Nessa pada mama, jika kamu tidak mau bertanggung jawab biar mama yang bertanggung jawab. Bagaimana pun bayi yang ada di kandungannya adalah anak kamu dan juga cucu mama."
Bersambung............................