
Nisa masih tidak percaya dengan perkataan yang di ucapkan oleh asisten rumah tangga mama Beca, jika Al dan keluarganya sedang ke luar kota ingin menjemput calon istri Al.
Tentu saja dirinya tidak percaya, karena dirinya masih ingin berada di rumah mama Beca, untuk meminta maaf pada Al atas perbuatannya, karena Nisa yakin di balik sikap acuh Al, terdapat sisi baik di dalamnya.
Meskipun Nisa tahu jika Al akan menceraikan nya, namun bagi dirinya tidak ada salahnya berhubungan baik dengan Al.
Yang Nisa pikir dari hubungan baik tersebut Al bisa lebih dekat dengannya.
"Nona, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Siti yang masih berada di tempatnya saat melihat Nisa hanya diam setelah tadi mendengar apa yang di katakan nya.
"Tidak ada, kamu tunggu makanan pesanan aku, dan setelah itu bawa ke kamar," perintah Nisa lalu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ingin menuju kamar.
"Males banget, siapa dia nyuruh nyuruh," ucap Siti pelan namun masih terdengar di telinga Nisa yang langsung menghentikan langkah nya, lalu membalik tubuhnya untuk menatap asisten rumah tangga mama Beca dan mendekatinya.
"Apa yang baru kamu katakan?" tanya Nisa dengan nada yang tidak bersahabat. "Apa kamu sudah bosan bekerja di rumah ini?" ucap Nisa dengan nada ancaman.
"Apa Nona sendang mengancam ku?" tanya balik Siti yang memang tidak menyukai Nisa yang selalu bertingkah seperti tuan rumah.
__ADS_1
"Ya ampun berani sekali kamu, kamu tidak tahu siapa aku? Aku bisa memecat mu kapan saja aku mau,"
"Kami di sini bekerja untuk keluarga pak Zack, bukan anda Nona, karena sebentar lagi Nona bukan siapa siapa lagi di rumah ini, dan ada Nona baru yang akan menggantikan anda, dan kami tidak takut dengan ancaman Nona ini. Dan permisi," ujar Siti yang langsung meninggalkan Nisa bersama dengan ke dua rekan kerjanya.
"Sialan kalian!" teriak Nisa dengan kesal dan terus mengumpat untuk memaki ke tiga asisten rumah tangga mama Beca.
*
*
*
Al yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nessa langsung keluar dari dalam mobil, lalu menuju pintu rumah yang terlihat lebih bagus dari sekeliling nya. Tentu saja mama Beca dan juga papa Zack segera mengikuti sang putra.
"Al, apa yang kamu lakukan?" tanya mama Beca sambil menahan tangan Al yang terus mengetuk pintu rumah Nessa tanpa ada jeda dan terkesan tidak sopan.
"Ma, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nessa," jawab Al lagi dan melepas tangannya yang masih di pegang mama Beca, dan mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Namun sudah sekian banyak Al mengetuk pintu rumah tersebut, tidak ada tanda tanda jika pintu tersebut akan di buka dari dalam.
"Ma, kenapa tidak di buka pintunya?" tanya Al yang benar benar tidak sabar ingin segera menemui Nessa.
"Sabar Al," hanya itu yang bisa di katakan oleh mama Beca, lalu mama Beca menghampiri wanita paruh baya yang baru keluar dari rumah tepat di samping rumah Nessa. "Permisi bu,"
"Oh iya Bu, ada apa ya?" tanya wanita paruh baya pada mama Beca. "Sepertinya saya baru melihat kalian. Kalian ini siapa ya? Kenapa berada di depan rumah bu Sumi?"
"Apa benar ini rumah Nessa?" tanya balik mama Beca sebelum menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut, untuk meyakinkan jika dirinya tidak salah rumah.
"Iya betul, dan kalian siapa?" tanya wanita paruh baya tersebut lagi.
"Aku calon ibu mertua Nessa," jawab mama Beca sambil mengukir senyum.
Dan wanita paruh baya tersebut pun langsung bersikap ramah dan menyalami mama Beca, papa Zack dan juga Al bergantian.
"Oh iya ibu Sumi sedang keluar tadi bersama dengan anaknya, tapi tidak tahu ke mana," jelas wanita paruh baya tersebut setelah mama Beca menanyakan pemilik rumah tersebut. "Oh itu Bu Sumi sudah pulang," ujar wanita paruh baya sambil menunjuk ke arah ibu Sumi yang berjalan menuju ke rumahnya.
__ADS_1
Al, mama Beca dan papa Zack pun langsung menoleh ke arah yang di tunjuk wanita paruh baya tersebut.
Bersambung................................