
"Ember, kamu pikir aku ikan di taruh ember," sambung Al dan semakin erat memeluk Nessa dari belakang, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Terus kamu mau berendam di mana?"
"Tentu saja bathtub seperti biasa,"
Nessa menoleh ke belakang untuk menatap Al, setelah mendengar apa yang di katakan nya.
"Al ini di kampung, mana ada bathtub jangan mengada ada deh," ucap Nessa sambil menggelengkan kepalanya. "Eh nanti dulu bisa sih berendam,"
"Oh iya, baiklah aku mau berendam tapi temani aku," sambung Al dengan antusias.
"Kamu saja, aku baru selesai mandi Al,"
"Ya, tidak seru kalau begitu. Aku kan ingin berendam bersama sambil ehem Nes,"
"Apa kamu mau membuat aku demam?"
"Tentu saja tidak istriku sayang," jawab Al dan ingin mencium bibir Nessa yang masih menoleh ke arahnya.
Namun Nessa langsung menjauhkan wajahnya, lalu beranjak dari pangkuan Al, saat sang suami melonggarkan pelukannya.
"Nes,"
__ADS_1
"Mandi dulu sana, aku akan menemani kamu berendam, tapi tidak ikut masuk, aku hanya membantu menggosok punggung kamu,'
"Oke istriku sayang," sambung Al sambil mengukir senyum, saat dirinya pasti nanti bisa membawa masuk Nessa berendam bersama, hal yang selalu membuat Al melayang saat berendam bersama dengan Nessa.
Kemudian Al yang masih duduk di atas tempat tidur, langsung turun dari tempat tidur.
"Oh ya Nes, di kamar mandi sebelah mana ada bathtub nya?" tanya Al penasaran, karena yang dirinya tahu di rumah sang istri hanya ada satu kamar mandi itu pun kecil.
"Siapa bilang di kamar mandi," ucap Nessa membuat Al langsung menautkan ke dua alisnya.
"Terus?"
"Di belakang rumah ada kolam lele tetangga sebelah, kalau kamu mau berendam, berendam di sana saja Al," jawab Nessa sambil menahan senyum.
"Al mandi dulu sana nanti kemalaman dan kamu kedinginan,"
"Tidak masalah karena ada kamu yang akan menghangatkan Nes," sambung Al yang masih berdiri dan mencondongkan wajahnya ke wajah sang istri yang hanya berjarak beberapa senti saja.
Nessa tidak menanggapi perkataan Al, karena sekarang dirinya mengukir senyum sambil memeluk tubuh Al yang berada di atasnya.
Tubuh yang selalu membuat Nessa nyaman bila memeluknya.
Al yang hanya di peluk oleh Nessa tidak tahan untuk melakukan yang lainnya, saat pelukan Nessa sudah membuat hasrat nya tidak bisa di kontrol, apa lagi tubuh Nessa sudah menjadi candu dan juga magnet baginya.
__ADS_1
Dan Al pun langsung mendekatkan bibirnya ke arah bibir Nessa, lalu menempelkannya dan menyesapnya pelan, hingga akhirnya ciuman yang hanya biasa saja kini menjadi ciuman penuh hasrat, apa lagi saat Nessa juga balas mencium bibirnya dengan lihai.
Al tersenyum senang saat Nessa baru saja melepaskan tautan bibirnya. Kemudian Al membelai wajah Nessa dengan satu tangannya, dan satu tangannya lagi mengangkat daster sebatas lutut yang Nessa gunakan.
"Apa kamu sengaja tidak menggunakan pembungkus, agar aku dengan mudah memainkan nya?" tanya Al yang sekarang meremas gunung kembar Nessa bergantian yang tidak di bungkus kacamata.
"Tadi aku lupa tidak membawa ke kamar mandi Al,"
"Bilang saja iya Nes, jangan malu malu, sejak kapan kamu malu malu begini, biasanya juga memang tidak pernah di bungkus kan, dan aku suka begini," sambung Al mengingat lagi dirinya selalu meminta Nessa untuk tidak menggunakan onderdil jika dirinya ingin menemui Nessa di apartemennya dulu.
"Itu kamu yang me– Al em," Nessa tidak jadi meneruskan ucapannya di gantikan desaahan saat Al tiba tiba menghisap boba merah jambu miliknya bergantian.
Dan Al pun langsung bersemangat mendengar desaahan Nessa yang sangat di rindukan nya.
Apa lagi desaahan nya sekarang semakin menjadi, saat salah satu tangan Al masuk ke dalam celana segitiga Nessa untuk mengusap danau yang mulai lembab.
Dan Al yang sudah tidak tahan lagi karena miliknya sudah tegang sempurna, akhirnya menghentikan aksinya dan naik ke atas tempat tidur.
"Nes, aku akan–"
"Nak Al, Nes," panggil ibu Sumi dari luar kamar sang putri sambil mengetuk pintu, menghentikan ucapan Al.
Bersambung.......................
__ADS_1