Hanya PEMUAS

Hanya PEMUAS
Mengusir


__ADS_3

"Panggil saja putra kita, ada hal penting yang ingin aku sampaikan sebelum kita kembali ke London,"


"Kembali? Ke London? Kita? Oh tidak bisa, mama akan tetap di sini bersama menantu dan juga putra kita, papa saja yang kembali ke London," sambung mama Beca.


"Terus di sana papa dengan siapa Ma?"


"Kan ada pembantu," jawab mama Beca.


"Terus kalau mama mau anu juga harus dengan pembantu?"


Mendengar pertanyaan sang suami, maka Beca langsung mencubit perut papa Zack.


"Mama sakit!"


"Apa papa sudah bosan hidup?"


"Tentu saja tidak,"


"Kenapa bicara seperti tadi?"


"Makanya kamu ikut kembali dengan papa,"


"Tidak bisa, papa saja yang tetap di sini, di sana juga perusahaan ada yang pegang kan,"

__ADS_1


"Tapi–"


"Tidak ada tapi tapian papa harus tetap tinggal di sini," Mama Beca memotong perkataan sang suami.


"Papa pikirkan nanti, sekarang kamu panggil Al,"


"Nah begitu baru oke," sambung mama Beca sambil mengukir senyum lalu melangkahkan kakinya keluar kamar mengikuti perintah sang suami untuk memanggil Al.


Al dan Nisa setelah kejadian di malam itu, saling menjauh satu sama lain, dan tidak ada satu patah kata pun ucapan yang keluar dari bibir ke duanya.


Seperti sekarang ini, saat Nisa sudah berada di dalam kamar milik Al, ketika tadi mama Beca mengantar nya ke kamar sang putra untuk beristirahat.


Al yang juga berada di dalam kamar miliknya dan sedang duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya, menoleh ke arah Nisa yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil memangku laptop di ke dua pahanya, dan sedang sibuk dengan laptop tersebut.


Nisa yang mendengar perintah Al, hanya diam tanpa merespon perintah Al.


Membuat Al kesal, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Nisa.


"Apa kamu tidak mendengar perintah ku!"


Dan sekarang Nisa baru menoleh ke arah Al yang sudah berdiri di hadapannya.


"Apa kamu sedang bicara padaku?" Malah Nisa bertanya balik pada Al. Membuatnya langsung mengepalkan telapak tangan sebelah kanannya.

__ADS_1


"Tidak! Aku sedang bicara dengan batu. Dan kamu batunya!" tegas Al yang sekarang menunjukkan jari telunjuk nya ke arah Nisa.


"Jika aku batu, kamu apa?" tanya Nisa seakan meledek Al tanpa menatapnya karena matanya terus tertuju pada laptop yang berada di pangkuannya. "Aku punya nama, dan panggil namaku, dan satu lagi jangan seenak jidat menyuruh aku untuk melakukan apa yang tidak pernah aku lakukan, aku bukan pembantu mu!"


Senyum sinis tersungging dari sebelah sudut bibir Al, lalu mengambil paksa laptop milik Nisa, kemudian melemparnya ke atas tempat tidur.


"Al!" teriak Nisa dan beranjak dari duduknya. "Apa mau kamu? Kita memang suami istri, tapi aku tegaskan lagi, itu hanya status. Dan jika aku bisa, aku sudah mengajukan surat perceraian ke pengadilan, untuk menggugat cerai kamu. Aku beberapa hari ini diam, tapi kamu yang memulai ini Al," ujar Nisa mengungkapkan isi hatinya. "Jadi jangan paksa aku untuk melakukan apa yang tidak ingin aku lakukan. Aku bukan pembantu yang harus melakukan pekerjaan yang kamu suruh tadi, kamu mengerti! Jadi enyah lah dari hadapan aku," ujar Nisa lalu mendorong tubuh Al untuk menjauh.


Namun saat Nisa mendorong tubuh Al, tangannya langsung di cekal oleh Al, dan langsung memutar tubuh Nisa, membuatnya meringis kesakitan, karena Al memelintir tangannya di belakang tubuhnya.


"Ingat apa yang ingin aku katakan padamu," ujar Al tepat di belakang telinga Nisa. "Aku akan–"


"Ya ampun ini masih siang loh, kalian sudah mau anu saja," sambung mama Beca memotong perkataan Al, yang tiba tiba masuk ke dalam kamar sang putra, dan melihat Al dari belakang, yang seolah oleh sedang memeluk sang istri dari belakang, padahal Al sedang memelintir tangan Nisa.


Al melepas tangannya yang masih memelintir tangan Nisa, saat menyadari ada kehadiran mama Beca, kemudian membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah mama Beca begitu pun dengan Nisa, yang langsung mengukir senyum, meskipun tangannya terasa sakit.


"Ya ampun kalian ini, membuat jiwa muda mama kembali menggelora," ujar mama Beca sambil mengukir senyum.


Namun Al tidak menghiraukan perkataannya, dan ingin melangkahkan kakinya keluar dari kamar, namun tangannya langsung di tahan oleh mama Beca saat Al melewati.


"Cie ngambek," ledek mama Beca saat melihat wajah sang putra yang terlihat kesal. "Nanti malam teruskan lagi Al, dan jangan kasih ampun, sekarang kamu temui papa kamu, ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan kamu,"


Mendengar apa yang di katakan oleh mama Beca, Al hanya menautkan ke dua alisnya. Dan segera keluar kamar, saat pikiran negatif nya muncul, karena ini hari di mana Nessa kembali dari kampung, dan Al takut papa Zack sudah mengusir Nessa sebelum Al menemuinya.

__ADS_1


Bersambung.....................


__ADS_2