
Mama Beca dan juga papa Zack membiarkan Nisa terus menangis saat ke duanya tidak bisa menenangkan nya.
Mungkin dengan cara menangis bisa membuat lega Nisa, itu yang terpikir oleh papa Zack dan juga mama Beca yang masih berdiri di samping ranjang perawatan Nisa.
Setelah puas menangis, Nisa menghapus sisa sisa air matanya yang masih berada di pipi.
Dan Nisa yang sedari tadi menangis sambil memiringkan tubuhnya membelakangi mama Beca dan juga papa Zack, kini Nisa membalik tubuhnya dan menatap ke arah mama Beca dan juga papa Zack yang masih berada di tempatnya.
"Maafkan aku," ucap Nisa saat tidak tahu lagi harus berkata apa pada pasangan paruh baya yang ada di sampingnya.
Mama Nisa yang sedari tadi berdiri di sisi ranjang Nisa, kini beralih duduk di pinggiran ranjang perawatan Nisa, lalu menggenggam satu tangannya.
Sebenarnya mama Beca begitu kecewa pada Nisa, namun dirinya tidak bisa melakukan apa pun saat sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan sekarang mama Beca begitu iba pada Nisa, yang menjadi korban dari kejahatan yang pernah orang tuanya lakukan.
Nisa coba untuk beranjak dari tidurnya, dan langsung menoleh ke arah papa Zack dan juga mama Beca yang berada di sisi kanan tempat tidurnya.
"Ma, Pa, aku ingin meminta tolong pada kalian," pinta Nisa membuat mama Beca dan papa Zack langsung saling pandang setelah mendengar apa yang di katakan oleh Nisa.
Kemudian mama Beca sekarang beralih menatap ke arah Nisa.
"Baiklah, katakan saja kami harus apa untuk menolong kamu," ujar mama Beca. "Dan sebisa mungkin aku akan menolong kamu,"
__ADS_1
"Terima kasih Ma, aku tidak tahu harus berkata apa pada kalian, saat aku sudah membohongi kalian, tapi kalian masih sangat baik padaku," ujar Nisa yang sekarang memeluk mama Beca, membuat mama Beca hanya menepuk punggung Nisa.
"Sekarang kami harus menolong kamu apa?" tanya mama Beca setelah Nisa melepas pelukan nya.
Mendengar pertanyaan mama Beca, Nisa sekarang menggenggam ke dua telapak tangan mama Beca dengan erat.
"Tolong rahasiakan ini dari papa dan juga mama, aku tidak ingin mereka mengetahui yang sebenarnya, dan ijinkan aku untuk tetap tinggal di rumah kalian," pinta Nisa dengan sangat tulus.
"Nis–"
"Aku mohon Ma, setidaknya sampai aku melahirkan anak ini," sambung Nisa memotong perkataan mama Beca.
Sejenak mama Beca berfikir, dan langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Nisa. Saat dirinya benar benar merasa kasihan pada Nisa.
"Sama sama," sambung mama Beca sambil mengukir senyum. "Oh iya Nis, setelah Al menceraikan kamu, Kevin berniat untuk menikahi mu untuk–"
"Maaf aku tidak ingin menikah dengannya, aku tahu tujuan dia menikahi ku hanya untuk status anakku," sambung Nisa memotong perkataan mama Beca, karena Nisa sekarang baru menyadari, jika Kevin tidak pernah mencintainya.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu dokter Anisa yang sedang beristirahat di ruang kerjanya di kejutkan dengan kehadiran Nessa, yang tidak pernah menemuinya saat dirinya sedang beristirahat, dan ini untuk pertama kalinya selama Nessa bekerja dengan nya, datang menemuinya saat jam istirahat.
"Selamat siang Dok," ujar Nessa sambil menundukkan kepalanya.
"Siang," sambung dokter Anisa yang langsung menyuruh Nessa untuk duduk. "Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya dokter Anisa, tahu jika kedatangan Nessa ke ruang kerjanya ada sesuatu yang ingin di katakan nya.
"Benar dok,"
"Katakan saja Nes, aku akan mendengarnya,"
"Sebelumnya maaf Dok, mungkin ini terakhir kali aku bekerja dengan dokter," ucap Nessa membuat dokter Anisa langsung fokus menatap ke arah Nessa.
"Kenapa kamu mengatakan itu Nes?"
"Maaf Dok, sebenarnya aku sudah menerima pekerjaan lain di sebuah butik yang lebih mudah aku pahami," jawab Nessa yang memang tidak tahu banyak dengan dunia medis mengingat lagi dirinya hanya lulusan sekolah menengah atas.
"Apa Beca tahu?"
"Belum, tapi aku mohon pada dokter jangan memberi tahu tante Beca," pinta Nessa.
__ADS_1
Bersambung............................