
"Nessa, di mana?" tanya mama Beca penasaran sambil mengedarkan pandangannya, begitu pun dengan papa Zack.
Namun Al tidak menjawab pertanyaan mama Beca, karena dirinya langsung berlari menuju seorang wanita yang sedari tadi menjadi objek pandangannya.
"Nessa!" panggil Al yang langsung menarik tangan wanita yang di yakini Al adalah Nessa.
Namun Al langsung melepas tangannya yang baru saja memegang tangan wanita yang Al pikir adalah Nessa. "Maaf,"
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tersebut yang ternyata bukanlah Nessa. Yang ingin masuk ke dalam mobil.
"Oh tidak, maaf aku salah orang," jawab Al yang langsung meninggalkan wanita tersebut.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Al, saat ingin kembali ke arah ke dua orang tuanya yang sedang menatapnya sambil menggelengkan kepalanya, saat mama Beca dan juga papa Zack dari kejauhan juga sudah tahu jika wanita yang tadi di panggil Al Nessa bukanlah Nessa.
"Ya Tuhan, pertemukan aku dengan Nessa sekarang juga, aku tidak tahu perasaan apa yang sedang aku rasakan ini. Apa ini perasaan cinta? Jika benar ini perasaan cinta, biarkan aku mencintai Nessa dengan sepenuh hati, tapi aku mohon padamu Tuhan, segera pertemukan aku dengan Nessa," gumam Al dalam hati, dan terus berjalan gontai mendekati ke dua orang tuanya.
Papa Zack langsung memeluk bahu sang putra saat Al sudah mendekat ke arahnya.
"Tenang saja Al, papa yakin tidak lama lagi, kamu akan bertemu dengan Nessa," ujar papa Zack untuk menyemangati sang putra.
__ADS_1
*
*
*
Nisa keluar dari kamar tepat jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, dan ini untuk pertama kalinya Nisa keluar kamar sepagi ini, selama tinggal di rumah mama Beca.
Saat hari ini Nisa berniat untuk membantu asisten rumah tangga mama Beca memasak sarapan.
Namun saat sudah berada di dapur, dapur tersebut masih sepi dan tidak ada aktifitas.
"Apa mereka tuli, jika aku yang menjadi bosnya sudah aku pecat mereka semua," ucap Nisa kesal, lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar tidur asisten rumah tangga mama Beca.
Sementara itu di halaman belakang, tiga asisten rumah tangga mama Beca, dan juga Pak Edi sedang menikmati sarapan bubur ayam bersama.
"Siti, sudah sana masuk, nona Nisa memanggil," ujar pak Edi yang baru selesai menyantap bubur ayam.
"Biarkan dia masak sendiri, dia kan bukan siapa siapa lagi di sini, jika Pak Al nanti menceraikannya, lagian jadi wanita tidak tahu diri sekali, hamil dengan pria lain, ngaku ngaku anak pak Al, dasar wanita tidak tahu malu, dari awal dia masuk ke rumah ini juga aku sudah tidak menyukainya," sambung Siti sambil menyantap bubur ayam yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Betul itu, aku juga tidak menyukainya," sambung Imah membenarkan perkataan Siti, begitu pun dengan Wati yang juga sepemikiran dengan ke dua rekannya tersebut. Saat semuanya sudah tahu jika Nisa hamil anak orang lain, dan Al sedang mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan.
"Tapi tidak begitu juga kali, dia kan tamu Ibu Beca, kita harus menghormati nya, sudah sana jika kalian sudah selesai makan buatkan sarapan untuknya," perintah pak Edi.
"Iya Pak Edi," ucap Siti, Wati dan Imah bersamaan.
Setelah tidak menemukan keberadaan asisten rumah tangga mama Beca, Nisa akhirnya memesan makanan untuk sarapan lewat aplikasi online.
Dan tatapan tajam Nisa tertuju ke arah ke tiga asisten rumah tangga mama Beca yang menghampirinya, saat Nisa sedang duduk di ruang tamu untuk menunggu makanan yang belum lama di pesannya.
"Apa kalian sudah bosan bekerja di sini? Kenapa aku panggil, dari kalian tidak ada yang datang? Apa kalian juga tuli?"
"Maaf nona," jawab Siti.
"Oh iya ke mana mama dan juga papa? Kenapa dia belum keluar dari kamar?"
"Ibu, Bapak dan juga Pak Al sedang ke luar kota untuk menjemput calon istri pak Al,"
"Calon istri?"
__ADS_1
Bersambung....................