
"Kamu jahat Al," ucap Nisa di sela sela tangisnya. "Apa kamu benar benar melupakan malam itu di mana kamu menyentuhku dan membawa ke dalam dekapan kamu, dan menyatukan tubuh kita?" tanya Nisa dan menangis kembali.
"Terus saja menangis, apa kamu kira aku akan simpati dengan cara kamu ini? Oh tidak, karena aku jahat, seperti yang kamu katakan barusan!"
"Al, aku bersumpah anak ini anak kamu," ucap Nisa lagi di sela sela tangisnya.
"Aku juga bersumpah jika bayi itu bukanlah anakku, kamu kira aku bisa di bodohi dengan kata kata kamu Nis, tidak bisa!" sambung Al yang benar benar tidak peduli dengan tangisan Nisa. "Jika kamu tidak ingin mengatakan ayah dari bayi yang kamu kandung siapa? Maka aku akan mencari tahu sendiri,"
Mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Al, Nisa yang masih menangis kini bersimpuh dan langsung memeluk ke dua kaki Al yang berdiri di hadapannya.
"Al percaya lah padaku, bayi ini anak kamu Al, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya dengan apa yang aku katakan Al, bicaralah, apa aku harus melakukan tes DNA untuk meyakinkan kamu?" tanya Nisa yang masih bersimpuh, dan juga menangis untuk meyakinkan Al.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah percaya padamu Nis, dan lepaskan!" perintah Al lalu melepas ke dua kakinya yang masih di peluk oleh Nisa. "Dan aku ingatkan padamu, setelah aku mendapat bukti jika bayi itu bukanlah anakku, aku akan membuat kamu menderita seumur hidupmu!" ancam Al lalu pergi keluar dari kamar meninggalkan Nisa.
Selepas kepergian Al, Nisa langsung menghapus air mata sandiwara nya, dan beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Jangan sampai Al mengetahui semuanya, dan aku tidak akan membiarkan ini terjadi," ucap Nisa yang langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Kevin sang kekasih.
Nisa mendengus kesal saat sudah beberapa kali menghubungi kevin namun ponselnya tidak di angkat.
"Sayang kamu ke mana?" tanya Nisa lalu menghubungi kevin lagi, namun lagi lagi ponselnya tidak di angkat.
Membuat Nisa yang penasaran langsung menuju ruang ganti untuk mengambil tas miliknya dan berniat untuk menemui Kevin.
Sementara itu papa Zack tidak mengatakan apa pun lagi, setelah bertanya pada sang istri, mengetahui apa yang di alami oleh sang putra atau tidak, dan mama Beca menjawab sudah mengetahui semuanya.
"Jika papa mengatakan dari dulu bagaimana sifat Al yang sebenarnya pada mama, dan jika papa mengatakan pada mama, Al sudah lama tinggal bersama Nessa, tentu ini tidak akan pernah terjadi," ucap Mama Beca setelah sang suami mengatakan padanya jika sang putra adalah pecinta hubungan satu malam.
"Papa juga belum lama mengetahuinya Ma," jelas papa Zack yang memang belum lama mengetahui kelakuan buruk sang putra.
"Apa ada hal lain yang masih papa sembunyikan dari mama tentang Al?" tanya mama Beca lagi yang masih mengingat percakapan Al dan juga sang suami tempo hari.
__ADS_1
"Tidak," jawab singkat papa Zack yang tidak ingin sang istri tahu masalah lain dari sang putra. "Sekarang apa yang harus kita lakukan Ma?" tanya papa Zack pada sang istri.
"Mama tidak akan melakukan apa pun, mama menyerahkan semua ini pada Al. Karena mama yakin Al mencintai Nessa," jawab mama Beca dan dirinya juga tidak ingin memberi tahu keberadaan Nessa pada sang suami yang terlihat tidak suka dengan Nessa.
"Apa kamu sudah gila Ma, bagaimana dengan Nisa, apa kamu lebih memilih wanita jallang itu dari pada Nisa menantu kita yang baik hati itu?"
"Jika dia jallang bagaimana dengan anak kita Pa?" tanya mama Beca balik tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
Kemudian mama Beca turun dari tempat tidur.
"Mama akan menunggu bukti dari Al, dan mama baru bisa mengambil keputusan, tapi tetap saja anak yang di kadung oleh Nessa adalah cucu kita, mau papa suka atau tidak," ujar mama Beca yang langsung menuju pintu ingin keluar dadi kamar.
Mana Beca menautkan ke dua alisnya ketika baru saja keluar dari kamar dan melihat Nisa keluar dari rumah.
"Nisa, mau ke mana jam segini keluar rumah?"
__ADS_1
Bersambung.........................