
Senyum tersungging dari sebelah sudut bibir Jery ketika mendengar apa yang di katakan oleh Al barusan.
"Al, Al," ujar Jery sambil menggeleng gelengkan kepalanya. "Seperti kamu tidak pernah mencintai seseorang di masa lalu," ucap Jery yang tahu persis, jika Al dulu pernah jatuh cinta pada teman sekelasnya saat masih bersekolah di sekolah menengah pertama, dan baru saja ingin mengungkapkan perasaannya, Al di tolak mentah mentah, hanya karena fisik Al tidak lah tampan dan juga keren.
Dan dari situ Al yang awalnya tinggal bersama dengan kakek dan neneknya di Indonesia, ikuti ke luar negeri bersama ke dua orang tuanya, yang sedang merintis perusahaan di sana.
Dan dari situ Al tidak lagi percaya dengan namanya cinta, meskipun sekarang fisiknya tidaklah sama seperti dulu, yang sekarang selalu menjadi incaran banyak wanita, tapi tatap saja Al tidak percaya dengan cinta yang hanya akan melukai hatinya.
"Jangan ingatkan aku dengan masa lalu sialan!"
"Jadi kamu masih ingat perasaan cinta itu apa bukan?" tanya Jery, membuat Al hanya menatap ke arah sahabatnya tersebut. "Ya seperti yang kamu rasakan sekarang, merindukan orang yang selalu membuat kamu nyaman, dan tidak ingin di tinggal olehnya, ya itulah salah satu dari rasa cinta Al, karena cinta itu bukan hanya omongan semata "aku cinta padamu" bukan itu Al. Tapi perasaan yang kamu rasakan untuk orang yang membuat kamu nyaman,"
"Jangan banyak bicara, sekarang kamu ingin membantu aku mencari dia atau tidak!"
"Oke aku akan membantu mencari wanita itu, tapi bagaimana aku bisa mencarinya jika kamu tidak pernah memberi tahu aku wanita yang selama ini bersamamu itu," ujar Jery yang belum pernah sama sekali melihat Nessa, karena Al tidak pernah mengenalkan pada Jery dan juga Tomi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jery, Al langsung mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam kantong celananya, lalu membuka galeri foto, kemudian mengirim foto Nessa ke ponsel Jery.
Jery menatap foto Nessa yang baru saja di kirim Al ke ponsel miliknya, lalu Jery menautkan ke dua alisnya melihat foto tersebut.
"Pantas saja cantik dan sempurna begini, jika kamu tidak mencintainya kamu sungguh tidak normal Al,"
"Jangan banyak bicara dia hanya milikku, bawa dia dan anakku kembali,"
Jery langsung menatap ke arah Al, setelah mendengar apa yang di katakan olehnya.
"Jadi–"
Dan Jery pun tidak mengatakan apa pun lagi, dan tatapan matanya sekarang tertuju ke arah pintu masuk apartemen yang terlihat dari ruang makan.
Begitu pun dengan Al yang menoleh ke arah pintu, di mana mama Beca baru masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
Kemudian mama Beca melangkahkan kakinya menuju ruang makan saat melihat Al berada di sana.
"Selamat siang tante," sapa Jery sambil mengukir senyum karena sudah mengenal mama Beca sejak lama.
"Jery, tinggalkan kami berdua!" perintah mama Beca tanpa membalas sapaan Jery, dan tatapan mata mama Beca terus tertuju ke arah sang putra.
Mendengar perintah mam Beca dengan segera Jery pergi dari ruang makan, ketika melihat wajah mama Beca yang tidak bersahabat seperti biasanya.
"Maaf Ma, aku belum bisa menemukan Nessa," jelas Al, karena dirinya yakin pasti mama Beca datang mengunjunginya untuk menanyakan dirinya sudah menemukan Nessa atau belum. "Tapi aku berjanji pada mama aku akan menemukan Nessa,"
"Mama kecewa padamu Al, apa yang kamu katakan pada mama ternyata hanyalah kebohongan belaka," ucap mama Beca tanpa merespon perkataan sang putra.
"Aku berbohong apa Ma?"
"Nisa hamil, jadi yang kamu katakan pada mama kemarin, kalau kamu belum pernah sama sekali menyentuh Nisa hanya kebohongan belaka,"
__ADS_1
"Apa!" Al begitu terkejut dengan apa yang baru saja dirinya dengar dari sang mama.
Bersambung.............................