
Toni menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi tempatnya sekarang duduk, lalu meraup wajahnya, setelah mendengar semua penjelasan dari papa Zack sang sahabat.
Bukan hanya dari papa Zack saja namun juga dari Al, yang sekarang sedang berdiri tidak jauh dari Toni, tentu saja sambil memeluk sang istri.
Setelah Al menjelaskan jika saat ini ada darah daging nya yang berada di rahim sang istri.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Toni yang sekarang menatap ke arah papa Zack.
"Apa yang harus aku lalukan sekarang Zack? Dan bagaimana dengan Nisa? Aku tidak habis pikir kenapa putriku bisa seperti itu," ujar Toni sambil menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sang putri yang tidak mengatakan sejujurnya meskipun Al sudah menceraikan nya.
"Nisa pernah berkata, jika dirinya takut kamu akan menghabisi anak yang berada di kandungan nya," jelas papa Zack.
"Aku ini memang jahat Zack, tapi mana mungkin aku akan menghabisi cucuku sendiri, meskipun ayahnya adalah pria yang sangat tidak aku suka," sambung Toni yang sekarang beranjak dari duduknya. "Aku akan mencari pria itu, dan aku–"
"Ingin menghabisi nya?" tanya papa Zack memotong perkataan Toni. "Ingat kamu sudah menghabisi ibunya hanya untuk keserakahan kamu. Dan kamu terbebas dari hukum itu sebuah keberuntungan, tapi jika kamu juga ingin menghabisi putranya tidak menutup kemungkinan keberuntungan itu tidak lagi berpihak padamu. Apa kamu ingin menghabiskan masa tua kamu di penjara, tidak kan Ton?"
Mendengar apa yang di katakan oleh papa Zack, Toni berfikir kembali apa yang sudah terlintas di benaknya untuk menghabisi Kevin.
"Apa aku harus membiarkan cucuku lahir tanpa ayah?"
__ADS_1
Papa Zack tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya tersebut, lalu beranjak dari duduknya dan menepuk pundak Toni.
"Kamu yang akan menjadi ayah untuk cucu kamu, dan tenang saja suatu saat nanti pasti Nisa akan bertemu dengan pria yang mencintainya bukan karena hartanya tapi pria yang mencintainya dengan tulus, dan menerima semuanya,"
"Terima kasih Zack," sambung Toni yang sekarang memeluk papa Zack. "Jika tidak ada kamu mungkin aku sudah hilang kendali," ujar Toni sambil melepas pelukannya.
Kemudian Toni berjalan mendekati Al yang masih setia memeluk sang istri.
"Maafkan Om Al, atas tidak ketahuan Om, dan selamat untuk pernikahan kamu, semoga kamu dan juga istri kamu selalu di beri kebagian,"
"Amin," sambung Al sambil menjabat tangan Toni.
Al yang masih berada di tempatnya menoleh ke arah pintu kamar yang baru saja di buka.
Dan memperlihatkan Nessa yang hanya menggunakan daster dan juga handuk yang melilit di kepalanya, saat baru saja kembali dari kamar mandi.
Senyum terukir dari bibir Nessa, saat tahu Al sedang menatapnya. Dan Al pun langsung beranjak dari tidurnya.
"Jangan tersenyum seperti itu, tanpa minuman keras aku sudah mabuk di buatnya Nes,"
__ADS_1
"Jangan ber–"
Nessa tidak jadi meneruskan ucapannya saat Al tiba tiba menarik tangannya, hingga dirinya jatuh tepat di pangkuan Al.
"Aku sungguh merindukan aroma tubuhmu Nes," ujar Al sambil menciumi bahu Nessa.
"Oh jadi kamu hanya merindukan aroma tubuhku, bukan Aku?" tanya Nessa sedikit kesal dan coba melepas tangan Al yang memeluknya dari belakang.
"Tentu saja tidak, karena aku merindukan semuanya yang ada padamu Nes, cintamu, kasihmu dan semua yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu,"
"Sudahlah jangan merayu, aku tahu persis apa yang kamu inginkan,"
"Kalau itu kebutuhan Nes, dan juga ingin memberi nutrisi untuk anak kita,"
"Jangan banyak bicara hari ini aku sungguh lelah, lebih baik kamu mandi sana,"
"Sebenarnya tadi aku ingin mandi dan berendam bersama dengan kamu seperti biasa Nes,"
"Jangan mengada ada, apa kamu mau berendam di ember?"
__ADS_1
Bersambung........................