
Keesokan harinya diistana terlihat beberapa pelayan melaksanakan tugasnya masing"
saat hari mulai siang nampak keluarga Bin sudah siap untuk meninggalkan istana.
Bin dan putri menemani mereka untuk berpamitan pada Raja Kim.
Di aula istana sudah nampak Raja ,pangeran dan bibi han.nenek dan yang lain memberi hormat pada raja dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Kami mohon pamit Yang Mulia,sekali lagi terima kasih untuk segala kebaikan anda,,dan maaf kan atas segala kelancangan kami selama berada diistana." ujar nenek pada sang raja.
"kau tidak perlu meminta maaf nek....dan jangan sungkan.kalian sudah menjadi keluarga kami..baiklah kalau begitu,selamat jalan...semoga lancar sampai desa anda nek....dan semoga kita bisa secepatnya bertemu lagii untuk membicarakan kelanjutan hubungan putraku dan cucumu nek...."
"baik Yang Mulia,,,kalau begitu kami berangkat dulu..."
sebelum meninggalkan aula, nenek dan keluarga memberi salam perpisahan unutuk Raja dan yang lain.mereka pun berjalan keluar istana.tak lupa Bin dan putri menemani mereka sampai halaman luar istana yang sudah terlihat ada dua mobil sedan hitam yang sudah siap mengantarkan keluarga bin pulang.
Tiba tiba muncul pangeran yang juga ingin mengantarkan wanita yang ia cintai.
"nona Yurin bisa kita bicara sebentar saja disana..." ucap pangeran pada yurin sambio menunjuk ke sudut koridor luar istana.Yurin pun mengangguk menyetujui permintaan pangeran.pangeran dengan cepat merengkuuh tangan yurin dan menariknya mengikuti derap langkahnya.Yurin merasa terkejut begitu juga dengan nenek dan yang lainnya.sampailah keduanya berada disudut luar istana agak menjauh dari nenek dan yang lain.
"pangeran....tolong jangan seperti ini...saya merasa tidak enak dengan yang lain....ada apa pangeran mengajakku kemari?"
pangeran terseyum sambil menatap kedua bola mata yurin.
"apa kau tidak merasa sedih pergi dari sini,,?"
pertanyaan pangeran membuat hati tertegun.pastilah dia merasa sedih didalam hatinya tp dia tak bisa menunjukkan semua perasaannya pada orang lain.
"apa yang pangeran katakan....tentu aku merasa sedih...."
__ADS_1
"jika saja bisa aku akan menahan mu untuk tetap tinggal disini...."
Yurin terseyum mendengar kata kata pria didepannya itu sungguh membuat dia bahagia.dengan spontan yurin langsung memeluk pangeran.pelukan yang begitu hangat hingga ia merasa begitu nyaman.begitu juga sebaliknya aroma tubuh yurin membuat pangeran begitu tenang,pelukan ini membuat dia sedikit merasa lega.
"ini hanya sementara pangeran...hanya Tiga bulan...bersabarlah....aku harus menyelesaikan sekolahku dulu dan kau juga harus trus melaksanakan tugas dan tanggung jawabmu....jaga diri pangeran baik".. makan dan istirahat yang ckup...''
" hehh kenapa kau yang khawathir padaku,,harusnya aku yang bilang itu....hemmm semoga waktu berjalan dengan cepat..jika aku sudah tak bisa menahan rinduku..aku akan mengunjungimu di Daegu..dan satu hal lagi jangan coba coba melirik pria lain....ok....!"
Yurin mengangguk sambil masih berpelukan.
"itu tak akan mungkin aku lakukan.....kalau begitu aku pergi dulu...."
Pangeran semakin mempererat pelukannya.dan sekali mencium tengkuk leher yurin dari samping.membuat yurin merasakan sentuhan lembut itu.tak lama pangeran yang melepaskan pelukan itu dan menggandeng tangan yurin menuju ketempat nenek dan yang lain berkumpul.
putri yang melihat keduanya mendekat pun sengaja meledek kakaknya.
"bersabarlah kakak...ini hanya sebentar...anggap saja ini ujian buat kalian berdua...masak seorang pangeran tidak bisa melewatinya... iyakan yurin....??"
pangeran meledek putri sambil melirik kearah Bin yang terseyum simpul setelah tahu betapa cengengnya istinya ini saat ia tinggal.
''sudah diamlah kakak...jangan membuatku malu,,,"
Semua orang ikut tertawa melihat kedua kakak adik ini saling meledek.
"kalau begitu kami berangkat dulu...jaga diri pangeran dan putri baik''....dan kau Bin jaga dan lindungi istrimu...."
pangeran,putri dan Bin memberi hormat sebelum keluarga Bin menaiki kedua mobil tersebut.
nenek masuk kedalam mobil yang didepan diikuti yurin yang sudah melepaskan genggaman tangannya pada pangeran.sedangkan orang tua yurin masuk kedalam mobil yang kedua.
__ADS_1
Kedua mobil itu pun mulai berjalan keluar dari area halaman istana dan mulai menghilang.
Bin dan putri segera kembali kekamar.sementara pangeran masih berdiri mematung memandangi kearah mobil tadi menjauh.dalam hatinya terasa sangat sedih.
Sementara didalam mobil,,yurin sudah terlihat menitikan air mata sambil menghadap kearah luar jendela.nenek yang mengetahui hal itu langsung menggenggam hangat kedua tangan cucunya itu.
"bersabarlah yurin...nenek tahu ini berat untukmu...tapi percayalah semua akan berlalu dengan cepat,,dan ini akan membuat hubunganmu dengan pangeran semakin erat kedepannya..."
Mendengar perkataan neneknya,yurin merasa sedikit tenang.meskipun raut wajahnya masih begitu menunjukkan gurat kesedihan.
Sementara disisi lain Bin yang berjalan sambil tangannya mengenggam tangan putri berusaha meledek istrinya itu.
"apa saat aku pergi dulu itu,,kau sangat tersiksa sayang...wahhhh begitu hebatnya aku bisa membuat seorang putri tak mau makan dan mengurung diri dikamar.....hahaha..."
"jangan kePD an......aku tidak secengeng itu...."
"benarkah.....baik kalo begitu besok aku akan pergi dalam waktu yang lama..bagaimana??haaa!!!
" awasya kalau kau coba berani melakukan itu...kau tidak usah bertemu denganku lagi*...."
putri mencubit pinggang suamiya itu dengan wajah yang terlihat sebal.lalu berjalan cepat meninggalkan Bin dibelakang dibelakang.Bin yang menyadari kalau istrinya ini marah langsung mengejarnya.
"heyyyy sayang jangan marah oke....aku hanya bercanda.....mana mungkin aku akan pergi lama...."
sambil terus berjalan cepat putri menoleh kebelakang.
"tapi bercandamu kelewatan....jangan harap nanti malam kau dapat jattahmu...."
"heeeee kenapa kau jadi setega ini sayang....jangan menyikaku malam ini...aku mohon*..."
__ADS_1
Tanpa mendengarkan ucapan Bin,putri berjalan cepat menuju kamarnya hingga sudah tak terlihat oleh Bin.
Bin yang melihat istrinya sudah tak terlihat lagi hanya bisa pasrah saat istrinya itu ngambek.Bin hanya mengacak acak dan menggaruk kepalanya.merasa menyesel sudah meledak istrinya itu.dia lantas berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sebal.