
Malam ini entah apa lagi yang di rencanakan oleh bu anggita. namun karna kejadian kemarin malam, galen dan aileen menjadi sedikit was-was.
Bukannya mereka tidak suka, namun mereka hanya takut tidak bisa mengendalikan diri mereka masing-masing. pasalnya saat ini mereka sudah resmi bercerai, mereka takut akan terjadi hal yang harusnya terjadi sebelum mereka bercerai dulu.
Galen dan aileen hanya saling memandang tanpa mengucapkan sesuatu, dan hal itupun membuat raven bertanya-tanya.
"apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya raven dengan raut wajah mengintimidasi.
"sudah habiskan saja sarapanmu, setelah ini kita akan langsung berangkat ke kantor. atau kamu mau ku pecat" ucap galen mengancam raven.
"uhuk...uhuk..."
"minum ini kak" aileen menyodorkan segelas air putih. namun saat raven ingin meraih gelas dari aileen,tiba-tiba raven mengambilnya lebih dulu.
"ambil sendiri, ini biar ku minum. aku sangat kehausan!" potong galen saat raven ingin memprotes.
▪▪▪▪▪
seperti biasa aileen bekerja dengan adrian, namun berbeda saat ini. pasalnya seisi perusahaan tau bahwa kini aileen tengah menjalin hubungan dengan ceo kantor tersebut.
"tuan adrian, aku sangat tidak nyaman saat mereka melihatku seperti itu" aileen sedikit kikuk.
adrian menyunggingkan senyum dan sedikit melirik ke arah aileen yang setia berjalan di sampingnya.
cukup lama mereka berjalan untuk menuju ruangan adrian, dan selama itupun aileen merasa risih dengan semua tatapan khususnya karyawati yang ada di kantor itu.
dulu tatapan itu adalah tatapan remeh, namun sekarang berbeda semenjak mereka tau bahwa aileen bisa berbicara. bahkan banyak bakat yang dimiliki aileen. sejak adrian mengumumkan aileen adalah calon tunangannya, tatapan itu berubah menjadi tatapan iri. dan tidak sedikit pula yang mengatai aileen menarik perhatian adrian dengan kebisuannya, ada juga yang beranggapan aileen hanya ingin menarik kekayaan dari adrian.
namun semua itu tidak membuat adrian berubah, bahkan aileen sempat merasa down. namun adrian kembali meyakinkan aileen, dan akhirnya aileen kembali menyetujui adrian.
"aileen, sebenarnya apa yang membuat galen memaksamu untuk ikut dengannya?"
"saat itu kak galen mengajakku untuk membeli oleh-oleh untuk teman bisnis papa yang datang menjenguk papa dari luar negeri tuan"
"emm okey.."
adrian terdiam sejenak dengan raut wajah yang sulit di artikan. 'aneh sekali, bukannya galen seharusnya bisa mencarinya sendiri tanpa merepotkan aileen.'
"tuan.. tuan..." aileen memanggil adrian dan seketika adrian menatapnya.
"aku hanya tidak suka dengan caramu memanggilku aileen."
"tapi apa yang salah dengan caraku memanggilmu tuan adrian, bukankah aku memang memanggilmu begitu" aileen menatap adrian dengan wajah polosnya.
"dulu itu memang benar aileen, tapi sekarang aku ini calon tunanganmu bukan?!" adrian memastikan, dan aileen mengangguki ucapan adrian.
"lalu..." tambah adrian
aileen masih menatap adrian dengan tatapannya yang polos, ia bingung harus memanggilnya bagaimana.
"panggil sayang okey?!" tawar adrian.
"itu terlalu mesra tuan, aku akan semakin tidak nyaman jika para staf tau"
"okey, panggil aku rion." masih tersirat rasa kecewa di wajah adrian karena aileen menolak memanggilnya dengan sebutan sayang, namun adrian juga paham dengan perasaan aileen. dan hal itupun di sadari oleh aileen.
__ADS_1
Aileen melangkah mendekat ke kursi dimana adrian duduk. aileen berinisiatif memegang tangan adrian, dan seketika hal itu membuat adrian sedikit terkejut.
aileen manatap adrian intens begitupun sebaliknya. "aku akan memanggilmu sayang saat kita berdua okey?!"
dan hal itupun berhasil membuat adrian mengukir senyuman di wajahnya.
Aileen pun segera berbalik dan ingin kembali ke posisinya, namun adrian segera menariknya hingga terjatuh di dalam pangkuannya.
grep...
Aileen ingin bangkit, namun adrian menahannya. "aku belum menyetujuinya aileen, lalu kenapa kau ingin segera pergi?"
"tuan, tolong jangan seperti ini. bagaimana jika ada yang melihat kita?"
"tenang saja aileen, ini kantor milikku. dan tidak ada yang berani masuk tanpa seizinku"
"baiklah tuan, apa keputusanmu sekarang?"
"baiklah, itu juga tidak terlalu buruk!"
adrian sangat suka ketika melihat aileen yang sangat malu-malu, dan hal itu membuatnya menggemaskan di mata adrian.
"emm tapi tuan, kenapa aku harus memanggilmu rion, kenapa tidak adrian?"
"karna hanya orang-orang terdekatku saja yang memanggilku rion"
aileen hanya mengangguki ucapan adrian.
"aku ingin mendengarnya aileen.."
"sayang bolehkah aku turun?" entah kenapa volume suara aileen mendadak sangat pelan sehingga hal itu di manfaatkam adrian untuk menggodanya.
"aku tidak dengar aileen" adrian pun mendekatkan wajahnya ke arah aileen.
"boleh aku turun sayang" ucap aileen dengan tergesa, dan adrian pun segera melepas aileen.
"kau sangat lucu jika seperti itu aileen."
aileen hanya tersipu malu saat adrian mengatakan hal itu.
'tuhan, tuan adrian sangat baik. aku harap ENGKAU segera hadirkan rasaku untuknya. aku tidak ingin mengecewakannya'
setelah perbincangannya cukup lama, akhirnya aileen dan adrian kembali bekerja dengan normal.
▪▪▪▪▪
"kau kanapa seharian ini sangat sulit kuhubungi aileen?"
"aku bekerja kak galen, dan mana mungkin aku bisa mengecek ponselku terus menerus"
"bekerja atau berpacaran dengan bosmu itu ha? atau kau sudah memberikan sesuatu punyamu yang sangat berhar-" aileen mendelik saat mendengar ucapan galen yang bahkan belum ia rampungkan.
"aku benar-benar kecewa dengan apa yang kak galen pikirkan, ternyata aku benar- benar tidak mengenalmu. dan aku harap di kehidupanku aku tidak akan bertemu laki-laki sepertimu lagi!" aileen berlari ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan galen yang masih berdiri mendengarkannya.
setelah beberapa menit aileen keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. sedangkan galen masih setia duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
__ADS_1
tok..tok..
aileen beranjak membuka pintu kamarnya. dan benar dugaannya, itu adalah ibunya yang sudah mengukir senyuman di balik pintu. mengetahui itu ibunya, galen segera berdiri di samping aileen.
"sayang, mama papa dan raven sudah menunggu kalian untuk makan malam. ayo sayang.." ajak bu anggita
"tidak ma, aileen tadi sudah makan di kantor. dan aileen sedikit tidak enak badan, biar kak galen yang ikut makan malam" ucap aileen.
'sejak kapan aileen sakit? apa aileen sengaja menghindar'batin galen.
"emm galen ingin menemani istri galen ma, tolong nanti mama antarkan makanan untuk galen ya" sahut galen
"emm baiklah sayang, jaga anak mama ya. nanti mama akan mengantar makanan untukmu. dan kamu sayang, cepat membaik ya sayang.." bu anggita mengusap lembut wajah aileen dan berlalu pergi.
bu anggita menuruni tangga dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"dimana mereka ma, kenapa tidak turun" tanya pak ardhan.
"mereka di atas pa, aileen sedang tidak enak badan. dan galen memutuskan untuk menemani istrinya di kamar."
"mama aneh banget si, anaknya sakit malah senyam senyum aja" seru raven sembari menyuap makanan.
"iya sebenarnya mama juga gak mau aileen sakit raven, tapi..." bu anggita menghentikan ucapannya.
"tapi kenapa ma?" timpal raven.
"itu berarti usaha mama berhasil sayang.."
Raven mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari ibunya yang terkesan seperti teka teki baginya.
"usaha apa yang mama maksud" raven terus gencar bertanya
"sudah habiskanlah makananmu raven" tutur pak ardhan
"aku tidak akan makan kalo mama tidak mengatakannya" seperti biasa, raven menggunakan jurus ngambeknya yang tidak akan di tolak oleh ibunya.
"usaha yang mama maksud.." bu anggita sempat menatap ke arah kamar galen memastika kedua anaknya itu tidak turun. "waktu itu mama masukin obat per*ngs*ng di minuman mereka. dan pasti ini gejala aileen hamil sayang"
"uhuk...uhuk.. mama, mama bener-bener." raven pergi begitu saja dari meja makan dengan kemarahannya.
"ada apa dengan raven pah"
"entahlah ma, sudah biarkan saja. kita selesaikan makan kita."
Saat itu raven tanpa mengetuk pintu kamar galen dan membukanya begitu saja.
ceklek..
"apa yang kalian lakukan?" raven seketika melebarkan kedua matanya dan tak berkedip sesikitpun.
.
.bersambung
.
__ADS_1