
Kecemasan terlihat jelas di wajah ketiga pria yang ada di apartemen tersebut. bagaimana tidak cemas jika seseorang yang mereka kasihi terbaring lemas tak sadarkan diri dengan rona wajah yang pucat pasi.
selain ketiga pria itu, Intan yang masih dalam keadaan mata sembab begitu sibuk mengurusi Aileen dengan mengompres pipi nya yang terkena pukulan dari Galen dan juga Ginga.
namun ada yang menyita perhatian dari Intan, yaitu Adrian yang begitu khawatir hingga bejalan mondar mandir sembari melihat ke arah pintu.
'aku nggak pernah lihat Adrian secemas ini? dia bisanya berusaha tenang walaupun saat perusahaannya mengalami sesuatu yang tidak di inginkan! tapi ini? Adrian begitu mencemaskan Aileen.apa dia khawatir karna dia sahabatku atau apa? ' Intan tidak berhenti bermonolog di dalam benaknya.
ting tung
"sepertinya dokter sudah sampai" Intan hendak membuka pintu, namun Adrian sudah membukanya terlebih dulu.
"dokter tolong segera tangani dia. dia terkena pukulan dari disisi kiri dan kanan wajahnya dok"
"baik, tolong tenang. saya akan memeriksanya sekarang"
Dokter langsung memeriksa keadaan Aileen. setelah ia selesai memeriksa semuanya Dokter mencatat resep obat untuk Aileen.
"tolong tebus obat ini secepatnya, ini akan mengatasi demam yang nona Aileen alami sekarang."
"baik dok, akan saya tebus" ucap Adrian yang hendak meraih catatan resep. namun Ginga meraihnya lebih dulu.
"aku saja yang membelinya, karena Aileen adalah calon istriku. jadi aku yang akan mengurusnya. sekalian Aileen juga akan ku bawa pulang sekarang"
"biarkan dia disini Ginga, aku mohon" ujar Intan yang menatap Ginga dengan mata sembab yang berkaca-kaca.
melihat keadaan Intan, akhirnya Ginga menurutinya dan segera pergi untuk membeli obat yang dokter resepkan.
"Intan, tolong jaga Aileen. selain kau, tidak ada orang yang bisa ku percaya" ucap Ginga dan melirik tajam ke arah Galen dan juga Adrian.
sejak Ginga mengetahui apa yang sebenarnya tentang Aileen, ia menjadi sangat protektif terhadap Aileen. terlebih Ginga tau jika saat ini Galen menginginkan Aileen dan juga Nolan kembali kedalam kehidupannya.
"baiklah, aku akan menebus obatnya sekarang." sesaat selesai dengan ucapannya, Ginga segera meninggalkan apartemen tersebut.
Galen yang begitu cemas segera duduk ditepian ranjang dan menggenggam kedua tangan Aileen yang masih terpejam. Adrian yang melihat hal tersebut ingin sekali menarik Galen, namun keberadaan Intan tidak membiarkan bersikap lebih jauh lagi.
"Aileen, maafkan aku. karena aku kau jadi seperti ini! "
"emm sebelumnya maaf tuan Galen, sebenarnya kenapa kau bisa tiba-tiba berada disini dan berkelahi dengan Ginga? "selorohan Intan menjabarkan apa yang ada didalam pikiran Adrian yang juga ingin tau penyebab Galen datang ke apartemen miliknya.
"aku ingin berbicara dengan suamimu Intan. dan ini sangat penting"
__ADS_1
"apa yang begitu penting sehingga membuatmu datang sepagi ini tuan Galen? "
"aku tidak bisa mengatakannya Intan. yang bisa mengatakannya adalah suamimu nanti. tapi aku tidak ingin menanyakannya saat ini, karena keadaan Aileen seperti ini"
ucapan Galen membuat hati Intan tidak menentu. ia merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang suaminya. banyak hal yang disembunyikan darinya. mulai dari wanita, hingga perusahaan nya saat ini.
melihat Intan yang terdiam membuat Galen menyentuh pundak Intan. "ada apa Intan, apa kamu sakit? "
"huh, tidak tuan Galen. aku baik-baik saja." serah Intan yang kemudian kembali mengompres Aileen.
"kau istirahat saja Intan, biar aku yang melakukannya." dan Intan pun menyerahkan alat kompres kepada Galen. setelah itu ia memutuskan untuk duduk disebelah Aileen. sementara Adrian, ia menatap Intan yang tidak pernah menatapnya sedikitpun.
"Intan, aku ingin berbicara" Intan memgangguki ucapan Adrian dan mengikuti Adrian keluar kamarnya dan berbicara di ruangan lain.
saat ini Galen terus mengusap lembut tangan Aileen dan menyesali perbuatannya yang sudah tidak sengaja memukulnya sehingga membuat Aileen seperti saat ini.
"auh.. " suara Aileen membuat Galen tersadae dari lamunanya. Aileen memegangi wajahnya yang terlihat sedikit brngkat dan berwarna kemerahan.
"akhirnya kamu sadar Aileen"
"huh kak Galen.. emm maaf maksudku tuan Galen kenapa kau ada disini?"
seketika Aileen teringat ketika Galen berkelahi dengan Ginga sehingga menyasar pada wajahnya.
"aku tidak pa-pa tuan Galen kau tidak perlin memegangiku terus seperti ini" Aileen berusaha melepas genggaman Galen, namun Galen mengeratkan genggaman nya dan menatap lekat manik mata Aileen.
"dengar Aileen, aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi lima tahun lalu Aileen"
"tolong jangan bahas itu disini tuan Galen, ini bukan saatnya! dan dimana Intan? tadi dia sedang tidur! "
"baiklah aku tidak akan membahasnya sekarang, lebih baik kau sekarang istirahat karena kau sedang demam. dan Intan, Intan sedang berbicara dengan Adrian."
mendadak wajah Aileen terlihat cemas. ia khawatir Adrian akan mengatakan sesuatu yang sudah ia sembunyikan dari Intan sejak ia tau Adrian adalah seseorang yang sangat dicintai oleh Intan.
-
Adrian memperhatikan wajah Intan dengan lekat. ia menyadari mata Intan yang terlihat sembab. perlahan ia mengusapnya dengan lembut.
"apa kau menangis Intan?"
Intan masih belum mengatakan apapun ia hanya tertunduk dan tidak menatap Adrian yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"maafkan aku Intan. tolong jangan diam seperti ini"
"akun yang harus meminta maaf padamu Adrian. aku tidak bisa menjadi seorang istri yang kamu inginkan"
Sontak Adrian menarik dagu Intan dan membuat Intan menatapnya. "tidak seperti itu Intan. aku memang sangat lelah dan belum bisa melakukannya, jadi ini salahku bukan salahmu."
'lagi-lagi itu alasan kamu Adrian.'
batin Intan.
"jadi tolong jangan merasa bersalah seperti ini Intan"
"aku merasa sangat buruk Adrian. aku berpikir kau memiliki wanita idaman lain sehingga kau tidak sudi untuk menyentuhku"
'apa yang kamu duga memang benar Intan. aku memiliki wanita lain yang sangat aku cintai. dan orang itu adalah sahabatmu sendiri'
Adrian masih terdiam dan menunggu Intan untuk menyelesaikan ucapannya.
"bahkan aku sempat mengira kalau kau memiliki perasaan terhadap Aileen. karena aku melihat kamu sangat cemas melihat keadaan Aileen barusan"
Adrian justru terkekeh mendengar ucapan dari Intan. dan hal itu membuat Intan mengernyitkan dahinya.
"kenapa kau terkekeh seperti itu Adrian? "
"dengar Intan, jika aku memiliki perasaan dengan Aileen sudah pasti aku menikahinya, bukan menikahimu. karena aku mengenal Aileen lebih dulu dari pada kamu kan? "
mendengar ucapan Adrian Intan menjadi berpikir bahwa ucapan Adrian memang benar. dan kekhawatirannya sudah berlebihan.
"dan aku tau dulu Aileen istri dari Galen, jadi mana mungkin aku menyukainya Intan"
Intan mengangguki ucapan Adrian.
"jadi tolong jangan berpikir yang tidak-tidak Intan. aku hanya benar-benar lelah akhir-akhir ini karena masalah kantor. jadi tolong percaya denganku" Adrian kemudian menarik Intan kedalam pelukannya.
'aku harap sementara ini kau tidak akan curiga Intan' batin Adrian sembari mengusap lembut Rambut Intan
.
. bersambung
readers yang tersayang mampir di karya baru aku yang berjudul Viksi siapa tau kalian suka dan bisa buat tambahan koleksi rak buku kalian.
__ADS_1