Hear My Heart

Hear My Heart
Part 50


__ADS_3

Aileen terduduk didepan pintu kamar Nolan yang terkunci. melihat Aileen seperti itu membuat Ginga tidak tega melihatnya. seketika ia mengingat beberapa tahun kau ketika melihat Aileen yang hamil besar tengah duduk di teras toko sembari menjajakan baju buatannya untuk ia perkenalkan kepada Orang-orang. dan saat itu kebetulan Ginga berjalan bersama dengan seorang Designer hingga menawari Aileen untuk bergabung karena melihat baju buatan Aileen begitu menarik.


Mengingat saat itu perjuangan Aileen untuk berjuang menghidupi dirinya dan juga bayinya begitu sulit. jadi wajar jika seorang Aileen yang tangguh bisa serapuh ini ketika anak semata wayangnya marah dengannya.


sementara Galen mengajak Raven untuk pergi. ia tidak ingin menambah luka untuk Aileen.


"Nolan, buka pintunya Bunda ingin bicara sayang"


Aileen memanggil Nolan hingga beberapa kali, namun Nolan tidak menyahuti nya sama sekali.


"lebih baik kita buka dengan kartu akses yang lain Aileen."


bisa dikatakan rumah Ginga memang gak hotel bintang lima. akses untuk masuk saja menggunakan kartu yang sudah ia design sendiri.


tiiiittt


belum sampai Ginga mengambil kartu akses yang lain, Nolan sudah membukanya dari dalam. perlahan Nolan mendekat ke arah Aileen.


Nolan berdiri di hadapa Aileen seketika Aileen menatap putranya dengan penuh kasih sayang. tangan mungil Nolan menangkup wajah tirus ibunya yang terasa lembab.


"maaf bunda, maafin Nolan. harusnya Nolan nggak marah sama bunda."


"Nolan"


Aileen segera menarik Nolan kedalam pelukannya.


air mata mulai menggenang dipelupuk matanya, namun Aileen segera menyekanya agar Nolan tidak melihatnya menangis.


Nolan melepas pelukan ibunya dan melihat dalam-dalam kedua manik mata ibunya.

__ADS_1


"tolong jangan bersedih karena Nolan lagi ya bun, selama ini sudah banyak air mata yang bunda keluarkan gara-gara Nolan. tolong sekarang bunda harus harus bahagia"


Ginga begitu bangga dan terharu melihat kasih sayang antara kedua ibu dan anak itu. 'aku tidak menyangka anak seumuranmu sudah sedewasa ini Nolan. aku tau kau sangat cerdas, namun sikap dewasa ini memang sudah ada didarahmu karena kamu anak dari Aileen, Nolan.'


kini ketiganya sudah duduk disofa ruang tengah. Nolan berada di sebelah Aileen, sementara Ginga ada sofa sebelah mereka. dimana Ginga tak kena terus memperhatikan keduanya.


Ginga lalu berjongkok di hadapan Nolan dan Aileen. ia kemudian meraih tangan Nolan dan menatapnya dengan teduh.


"Nolan" panggil Ginga


"iya ayah"


"ayah ingin meminta izin padamu, ayah ingin menikahi bundamu. akankah mengizinkan ayah Nolan? "


Nolan melihat ayahnya dengan ketulusan yang terlihat jelas dimatanya. pandangan Nolan pun beralih melihat ke arah ibunya yang saat itu terlihat terharu melihat apa yang tengah dilakukan oleh Ginga.


"Ayah, kau dari dulu adalah ayahku, dan aku tidak keberatan jika ayah menjadi suami dari bundaku"


Nolan mengangguki ucapan Ginga. seketika semuanya menjadi bahagia.


-


Sudah sekitar satu minggu sejak Ginga meminta izin kepada Nolan, kini Ginga Dan Aileen tengah mempersiapkan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan esok hari. namun siang itu mereka kedatangan tamu yang sangat tidak diinginkan oleh mereka, yaitu Galen dan Raven.


"ada apa kau datang kemari? " tanya Ginga


"aku ingin kalian tidak melakukan pernikahan itu besok! " tegas Galen.


"apa maksudmu tuan Galen? "

__ADS_1


"apa kau tau tuan Ginga, aku dan Aileen belum bercerai secara Negara, dan aku akan mempertahankan pernikahan kami dengan mengajaknya rujuk"


kini suasana berubah menjadi tegang dengan apa yang di ungkapkan oleh Galen. ia saat ini ingin mengambil Aileen dari Ginga.


"aku tidak mau rujuk" pungkas Aileen.


"mau tidak mau kau ini masih istriku Aileen, jadi lebih baik sekarang kau dan Nolan harus ikut tinggal dirumahku"


"tidak bisa, besok kami akan menikah. kau tidak berhak mengajak Aileen dan Nolan ikut bersamamu! " Ginga mulai meradang. ia mengepalkan tangannya bersiap untuk membungkam Galen dengan tangannya.


"Nolan juga nggak mau ikut paman Galen, karna ayah Nolan adalah Ayah Ginga, bukan paman Galen."


Perlahan Raven mendekati Nolan yang berdiri didekat Aileen. Raven berlutut dan menatap lekat Nolan. "Dengar Nolan, bagaimanapun papa mu dulu, dia adalah orang yang menyelamatkanmu. Darahnya mengalir di tubuhmu, karena kamu adalah anak kandungnya Nolan"


Nolan menarik nafas dalam, ia menatap pamannya dan beralih melihat kearah Galen yang berdiri tidak jauh darinya. Nolan lalu berjalan mendekati Galen.


"aku ingin bertanya kepada paman Galen, tolong jawab semuanya dengan jujur."


Galen berlutut dan menatap wajah Nolan dari dekat. "apa yang ingin kamu tanyakan sama papa Nolan? "


"Nolan hanya ingin tau, kenapa bubda dulu pergi dari kehidupan paman. dan apa paman tidak pernah tau kalau Nolan adalah anak paman? "


wajah Galen berubah pucat ketika Galen menanyai hal itu. ia tidak mungkin mengatakan jika ibunya pergi karena sudah dipermainkan oleh ayah dan tunangan ibunya. ia tidak bisa mengatakan hal kejam itu kepada anak sekecil Nolan.


"kenapa paman, kenapa paman diam? "


"sebenernya..waktu itu.. " Galen begitu Ragu untuk mengatakan segalanya. namun ia sedikit banyak sudah mengenal Nolan. Nolan tidak akan mudah dibohongi, karena memang Nolan adalah anak yang cerdas dan lebih dewasa dari umurnya.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2