Hear My Heart

Hear My Heart
Part 40


__ADS_3

Intan bangun lebih pagi hari ini. ia berkutat didalam dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.


setelah sekitar tiga puluh menit, Intan sudah menyajikan nasi goreng untuk suaminya. Adrian yang sudah siap dengan pakaian kantornya memeluk Intan dari belakang dan kemudian duduk di meja makan.


"pagi Adrian.. "


"pagi Intan, apa kau yang memasaknya? "


Intan mengangguk dengan memperlihatkan jajaran gigi putihnya menyengir kuda.


Adrian lalu mencium bau masakan dari nasi goreng buatan dari Intan.


dan Adrian mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"bagaimana? "


"hemm.. ini benar-benar lezat"


"benarkah? syukurlah.. karena ini masakan pertama ku Adrian. dan aku sangat senang karena aku berhasil membuatnya"


Adrian tersenyum namun terlihat itu seperti senyum keterpaksaan. 'kalau tau rasanya seperti ini aku akan memilih untuk sarapan di tukang bubur depan. rasanya sepuluh kali lipat lebih enak. kali ini, ini benar-benar hanya rasa garam'


"untung saja tidak seperti tukang bubur depan ya Adrian. kau sangat tidak menyukainya kan? "


"hemm iya Intan" Adrian tersenyum getir.


untung saja Intan hanya memasaknya satu piring, jadi jika sudah dihabiskan oleh Adrian, dia tidak akan tau seperti apa rasa asli dari masakannya.


'untung saja kau teman dari Aileen, Intan. dan kau bisa memberiku informasi tentangnya selama lima tahun terakhir'


Adrian memang tidak pernah berubah. sejak dulu ia akan melakukan apapun demi tujuannya. Adrian adalah seseorang yang ambisius, ia tidak akan membiarkan orang lain menang darinya begitu mudah.


'walaupun Nolan anak dari Galen, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, tidak akan! '


"yasudah Intan, aku harus segera ke kantor. jaga dirimu baik-baik dirumah"


Adrian mengecup kening Intan dan bergegas meninggalkan rumahnya.


Adrian sengaja memilih jalur lain dari jalur biasanya yang ia lalui ke kantor. ia sengaja memilih melewati rumah Ginga. namun ketika ia sampai didepan gerbang rumah Ginga, ia mendapati mobil Ganjen yang terparkir di halaman rumah Ginga.


"bukankah itu Raven? apa dia dan Galen kesini karena apa yang aku kkatakan malam itu? haisshh.. aku benar-benar bodoh. kenapa aku tidak ingat kalau Galen akan bertindak lebih jauh karna saat ini dai tau Nolan adalah darah dagingnya.


" apa lebih baik aku ikut kesana?" Adrian berpikir sejenak, namun ia segera menggelengkan kepalanya. ia lalu menginjak pedal gas kembali dan meninggalkan daerah tersebut.

__ADS_1


"tidak tidak.. aku tidak bisa ikut campur sekarang. aku akan Berpura-pura menjadi pendukung Ginga sembari aku menyusun rencanaku. "


-


"kau.. "


Ginga membulatkan matanya ketika melihat Galen dan Raven yang berdiri didepan pintu rumahnya.


"masuklah tuan Galen, tuan Raven. aku harus bersiap lebih dulu. "


"baiklah, maaf kami sudah merepotkanmu sepagi ini" ucap Galen dan kini duduk di ruang tamu bersama dengan Raven.


saat itu Aileen menuruni tangga dengan pakaian rapinya. ia menemui Raven yang ada di ruang tamu.


"tuan Galen ada apa kau ke-"


grep


Galen menghambur dan memeluk Aileen dengan erat. seketika Aileen mendorong Galen hingga terlepas dari pelukan Galen. namun Galen kembali meraihnya dan memeluknya dengan erat.


"apa yang kau lakukan tuan Galen, tolong lepaskan! " Aileen meronta, namun tenaga Galen lebih besar sehingga Aileen tidak bisa melepaskan dirinya.


Namun Galen melepas sendiri pelukannya dan dan memegang kedua pundak Aileen. Galen menatap lekat Aileen dengan wajah yang berbinar.


"ada apa denganmu tuan Galen" Aileen mendongak karena tinggi badannya yang jauh dari tinggi badan Galen.


perasaan Aileen mulai tidak tenang, ia tidak mengerti kenaoa Galen mencari keberadaan Nolan.


"aku tau Nolan adalah anak kita!"


prank


sontak semua menoleh ke arah sumber suara, dimana saat itu Nolan menjatuhkan mainan yang ada ditangannya. Nolan berjalan perlahan dengan pandangan matanya yang terus menatap ke arah Galen.


dan saat itu juga Galen melepas Aileen dan menghambur memeluk Nolan. "anak papa.. " ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Nolan melepas pelukan Galen dan mundur perlahan dengan kepala yang menggeleng. "ayahku adalah Ginga, dan paman Galen, kau adalah kerabat bundaku sama seperti paman Raven!"


"iya aku tau kau masih sulit menerimanya. tapi aku adalah ayah kandungmu Nolan."


"hentikan tuan Galen!" pekik Aileen dengan mengangkat tangannya. dengan segera Nolan berlari dan menghambur memeluk ibunya.


"bunda, apa benar yang dikatakan oleh paman Galen? "

__ADS_1


Aileen berjongkok dan menangkup wajah putranya yang terlihat bingung. "dengar sayang, ayahmu adalah ayah Ginga. dan yang dikatakan paman Galen itu hanya bercanda sayang"


"apa yang kamu katakan Aileen. tolong jujur dengan anak kita."


"hentikan omong kosongmu tuan Galen. siapa yang memberi taumu kalau anakku adalah anakmu tuan Galen? "


"aku tau dari sumber yang terpercaya tuan Ginga."


"suster, tolong temani Nolan ke kamarnya"


"baik buk Aileen"


semuanya menunggu hingga Nolan masuki kamarnya. dan setelah Nolan tidak terlihat lagi, Ginga menghampiri Galen yang masih berdiri didekat Aileen.


"katakan siapa yang mengatakan kalau anakku Nolan adalah darah daging kuda tuan Galen? dan aku sangat tidak suka akan hal itu" suara Ginga yang bariton begitu terdengar dingin dan menusuk. terlebih tatapan matanya yang menghusnus bagai sebilah pedang.


"ada seseorang yang sangat bisa dipercaya yang mengatakan hal itu kepadaku. dan setelah aku melihat Nolan, aku yakin bahwa dia memang anakku."


"aku tidak mengizinkanmu mengakui anakku sebagai anakmu tuan Galen! " sarkas Aileen dengan matanya yang nyaman menatap Galen.


"Aileen, sekuat apapun kamu menutupinya,. tapi kenyataan nya Nolan itu anak kak Galen Aileen. dia keponakan ku."


"dengar kak Raven, memang benar Nolan adalah keponakanmu, entah itu anak atau bukan anak tuan Galen, karna aku ini adikmu."


pungkas Aileen.


"tolong jangan berkata seperti itu Ai, kenapa kau tidak mengijinkanku mengakui anakku sendiri?"


"karna kau menangis bukan ayah Nolan tuan Galen"


"please jangan tolak aku sebagai ayahnya Nolan. dan jangan panggil aku seperti itu Ai. ingat Aileen dulu aku kakakmu, bahkan aku adalah suami mu. karna sewaktu kaubmenjadi tunangan Adrian, kau sudah menikah lagi denganku waktu itu. "


"aku tidak pernah lupa itu tuan Galen, tapi kau sendiri yang membuangku dengan mengatakan kau tidak akan menyentuhku sekalipun dalam keadaan mabuk. padahal waktu itu kau menyentuhku dalam keadaan sadar! " suara Aileen yang bergetar membuat Gingha merengkuh pundaknya.


"kami tidak ingin memperdebatkan hal seperti ini. lebih baik kalian pergi dari sini! " titah Ginga sembari menunjuk arah pintu.


"tapi tuan Ginga, sekeras apapun kau menyangkalnya, kau tidak akan bisa menghapus sebuah ikatan darah" ujar Raven.


"kak Raven, tolong.. tolong jangan membela tuan Galen. karna apa yang dia lakukan dulu aku benar-benar tidak bisa menerimanya. dengan tidak mengurangi rasa hormat kau sebagai adikmu, tolong bawa dia keluar dari rumah ini" Aileen menyatukan tangannya memohon kepada Raven.


mau tidak mau akhirnya Raven mengajak Galen untuk pergi dari rumah Ginga dan Aileen.


kecewa, itulah yang dirasakan Galen. namun ia tidak akan menyerah untuk mendapat pengakuan bahwa dirinya adalah ayah dari Nolan.

__ADS_1


.


. bersambung


__ADS_2