Hear My Heart

Hear My Heart
Part 71


__ADS_3

Nolan mengerutkan dahinya, begitupun dengan semua yang melihat Raven yang baru saja mengajak Anevay untuk berbicara di tempat yang lumayan jauh dari semua orang.


"gue harap lo nggak setuju sama saran dari paman gue, Ne" Bisik Nolan di dekat Anevay yang baru datang.


Anevay berjalan mendekat ke arah Mandalika yang tengah berdiri bersama dengan Syahwa. "karena lo masih jadi babunya anak-anak Scorpions, gue setuju smaa saran dari paman Raven"


Kecewa, itu pasti. namun Nolan tidak bisa menolak keputusan Anevay dan akhirnya mau tidak mau Mandalika harus menerima permintaan Anevay yang lagi-lagi mengalahkannya.


Disepanjang jalan Mandalika masih tidak habis pikir dengan Anevay yang menyetujui ucapan Raven. tetapi itu sudah disepakati, Mandalika tidka bisa menolaknya.


Dengan keadaan yang masih sedikit melamun, Mandalika turun dari angkot tanpa membayarnya. sehingga sang kernet dari angkot tersebut mengejarnya hingga ke dalam basecamp Scorpions.


"aduh maaf bang, ini ya bang. kembaliannya buat abang aja"


"iya makasih neng. lain kali jangan lupa ya neng"


"eh iya bang, maaf" sahutnya sembari memperlihatkan barisan giginya.


Setelah kepergian dari sang kernet angkot, beberapa anak Scorpions datang menghampiri Mandalika.


"beuh.. guys, cewek sok jago ini akhirnya dateng" Hugo meneriaki Mandalika.


"jangan ngatain dialah Go, kesian anak orang nanti nangis" sahut Marco yang menyambung perkataan Hugo sambil tertawa.


Ketika Marco dan Hugo sedang mengejek Mandalika, saat itulah Oky datang. dan melihat Mandalika yang terlihat murung.


"Manda, lo lebih baik langsung ke dapur. Rexy udah laper, me sing lo langsung masakin kita"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Oky kembali bergabung dengan Rexy dan Vero yang tengah bermain game didalam. sementara Marci dan Hugo memutuskan keluar basecamp untuk mencari sesuatu.


"yes gua menang" Vero meletakkan ponselnya. ia melihat kedatangan Oky yang sendirian.


"dimana Hugo sama Marco Ky? "


"mereka keluar, nggak tau nyari apaan"


Vero mengangguk-angguk. setelah melihat Oky dan Rexy yang sibuk degan gawainya masing-masing, Vero memutuskan untuk ke dapur menemui Mandalika yang tengah berkutat dengan alat-alat dapur dan juga sayuran.


"Manda"


"astaga, Vero. kenapa lo kesini? bukannya lo nggak mau mereka tau kalo kita ini sodara?" tanya Mandalika dan melanjutkan kegiatannya.


"lo kenapa si pakek tanding lagi sama Anevay? mana kalah pula"


Mandalika bersungut-sungut mengatakan semua keluh kesahnya didlaam dapur kepada Vero.


-


Galen dan Ginga masih bingung dengan apa yang direncanakan oleh Raven.


Raven yang melihat kebingungan di mata Galen dan Ginga terkekeh.


"aku tau kalian bingung. baiklah, aku akan menjelaskan apa yang aku rencanakan. "


Galen lalu menggerakkan kedua alisnya ke atas mengisyaratkan untuk Raven menjelaskan rencananya.

__ADS_1


"aku pernah melihat anak yang bernama Mandalika berdebat dengan Nolan. dan aku yakin sifat pemberontakannya itu akan bisa menghadapi sikap Nolan."


"aku mulai mengerti jalan pikiranmu dan rencanamu Raven" sahut Ginga yang menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, begitupun dengan Galen yang juga mulai mengerti.


"dan asal kalian tau, ternyata gadis yang selalu di turuti Nolan, dia itu tidak semanis sikapnya kepada kita. dia bahkan dengan sengaja menyipratkan air kepada Mandalika dengan mobilnya."


"kenapa Nolan harus berteman dengan gadis seperti itu, itu akan membuatnya semakin tidak baik nantinya."


Brakkk


Suara pintu dibuka dengan kasar terdengar jelas. tatapan tajam dan kemarahan terlihat jelas di mata Nolan yang baru saja pulang. Nolan memang seperti itu. ia tidak akan langsung memprotes, namun ia akan mengatakan kemarahannya dengan sikap nya yang semakin dingin kepada orang tuanya.


.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Nolan memilih untuk langsung memasuki kamarnya. dibanting lah pintu kamarnya hingga menggema di ruangannya.


Nolan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk di kamarnya dengan penerangan yang temaram. di tatapan yang tiap sudut kamarnya, dan pergerakan cepat tangannya di atas meja berhasil membuat semua bukunya yang ada di atas meja berserakan ke seluruh ruangan.


"sekarang kalian mau nyiksa gue apa lagi setelah kalian merebut semua fasilitas gue, sekarang kalian juga nggak ngebiarin waktu gue bebas. kalian justru nyuruh cewek sirkuit itu buat ngajarin gue? gue nggak sebodoh itu sehingga gue harus di ajarin sama cewek tengil itu! "


Kemarahan membuat Nolan membombardir kamarnya menjadi seperti kapal pecah. Setelah menyalurkan semua kekesalannya, Nolan duduk bersandar di dinding sembari menatap setiap inci kamarnya.


"Oke, mungkin tujuan kalian mau bikin gue jera. tapi itu semua nggak akan berhasil! gue bakal bikin cewek sirkuit itu yang akan memutuskan dirinya angkat kaki karna nggak bisa nanganin gue! ” Nolan tersenyum miring


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2