
"hei intan, kau rupanya? dan ini?" Ginga sedikit memperlambat intonasi kalimat terakhir untuk menanyakan siapa seorang pria yang ada di samping intan.
"dia adalah suamiku Ginga, apa kau tidak mengenalnya, adrian azzarion!"
"oh maaf aku tidak mengenalimu tuan Adrian, Ginga!' Ginga mengulurkan tangannya, dan hal itylu di sambut oleh Adrian.
"kau bisa memanggilku Adrian tuan Ginga!"
"jika seperti itu, kaupun sebaliknya." ucap Ginga menimpali Adrian.
"Ai, dimana Nolan?" Ginga menatap Aileen yang senantiasa tersenyum saat Ginga menatapnya.
"dia ada di atas, biar aku panggilkan!"
"tidak peelu Aileen aku yang akan kesana, kau temani dulu Intan dan suaminya. permisi!" Ginga menatap Adrian dan Intan seraya berjalan menuju ruangan dimana Nolan berada.
"emm Aileen, sepeetinya aku harus segera pergi, aku harus mengantar Adrian untuk ke rumah sakit" ujar Intan yang terlihat mencemaskan suaminya.
"ya itu lebih baik Intan, sepertinya suamimu memang harus di bawa ke rumah sakit" sahut Aileen yang melirik Adrian tidak suka.
Intan pun menggandeng Adrian meninggalkan kediaman Aileen. saat itu terjadi kini aileen menghembuskan nafas lega.
dan ketika Adrian dengan Intan sedang di jalan menuju rumah sakit, Adrian tiba-tiba meraih tangan Intan. "Intan, lebih baik kita pulang ke rumah saja. aku hanya perlu istirahat."
"kau yakin?" Intan menatap nanar Adrian yang saat itu terlihat letih.
"iya Intan, itu akan lebih efektif untuk kesehatanku."
"baiklah Adrian" kini Intan menyandarkan kepalanya di bahu depan Adrian, sementara sang pemilik pundak kini memilih menatap ke arah jendela dengan semua kegundahannya.
'Apa mungkin Nolan memang anak dari Ginga? kenapa bisa Aileen mengenal Ginga?' Adrian kembali meraup wajahnya menunjukkan kefrustasiannya.
selang beberapa menit kini Adrian dan Intan telah sampai di rumah orang tua Intan. hari ini Adrian sudah merencanakan untuk kembali ke rumahnya bersama dengab Intan.
"Adrian, lebih baik kamu beristirahat dulu disini. kita kembali ke rumah nanti sore saja"
"lebih cepat lebih bagus Intan, jika kita bisa sekarang, kenapa harus di tunda?"
"baiklah aku tidak akan memaksamu, tapi nanyi setelah kita sampai di sana kau harys istirahat!" tutur Intan sembari mengusap lengan Adrian lembut.
▪▪▪▪
Siang itu Galen dan Raven begitu sibuk berkutat dengan laptop mereka masing-masing di ruangan milik Galen. namun bukannya fokus dengan pekerjaan, kini Galen sibuk memikirkan tentang Aileen.
__ADS_1
'aku harus menemui Aileen, aku harus mempertanyakannya! kenapa dia bisa begitu saja menikahi orang lain, dan punya anak.'
Galen mengepalkan tangannya dan, brak..
Raven pun terkejut saat tiba-tiba Galen memukul mejanya.
"hei, ada apa kak?"
"tidak, aku hanya kesal dengan klien ini."Galen lalu bangkit dari duduknya dsn melangkah keluar. "aku akan mengurus ini dulu, kau kerjakan dulu sendiri Rav" sejenak sebelum ia benar-benar keluar dsri ruangannya.
Dan hal itu hanya di angguki oleh Raven. namun Raven sedikit bingung dengan sikap Galen yang tidak seperti biasanya saat ia menggadapi klien yang seperti itu.
Galen melajukan mobilnya cukup kencang membelah jalanan dan menyusuri hiruk pikuk perkotaan. hingga ia berhenti di sebuah komplek perumahan mewah.
"sepertinya ini adalah rumahnya."
Galen mengambil ponsel dari saku jas nya dan segera menghubungi seseorang.
"halo, sapertinya hari ini waktu yang tepat untuk membicarakannya tuan"
"apa anda yakin?" seseorang di seberang sana menanggapi ucapan Galen.
"*saya sangat yakin, bisa kita bertemu?"
"sangat bisa*!"
klik.
pembicaraan itu pun berhenti. kini Galen segera mendatangi rumah seseorang yang telah ia telfon barusan. Galen berjalan menuju pintu ruang tamu, ia oun tak luoa membawa sebuah buah tangan yang sudah ia siapakan.
ting tung..
ceklek
seseorang membuka pintu rumah tersebut, seulas senyum yang mengembang membuat Galen terpagut tanpa mengucapkan apapun, hingga.
"tuan Galen?"
"eu..iya." Galen sedikit terkejut dengan suara yang menyebut namanya. "Aileen"
"ada urusan apa anda datang ke rumah ini? aku sudah bilang, tolong jangan bertindak seperti ini!"
"siapa Aileen?" tanya Ginga yang baru saja datang dan kini berdiri di samping Aileen. "oh tuan Galen. silahkan masuk!" tambahnya lagi sebelum Aileen menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"kau mengenalnya?" Aileen menatap Ginga yang masih tersenyum menyambut kedatangan Galen.
"tentu saja, tuan Galen ini adalah mitra kerjaku yang belum lama ini terjalin."
"mari masuk."
Kini Galen duduk di sebuah sofa yang ada di ruamgan itu di seberang Aileen dan juga Ginga. seseorang dari dalam menyuguhkan minuman dan juga camilannya.
"silahkan di cicipi tuan Galen, saya harus ke ruangan kerja saya untuk mengambil berkas yang akan kita bahas"
"baik, saya akan menunggu" sahut Galen dengan anggukannya.
Saat ini tinggal mereka berdua yang ada di ruang tamu tersebut.
"kenapa kau diam Aileen!"Galen membuka suaranya dan kini menatap Aileen dengan tatapan tajamnya .
"aku tidak ada urusan denganmu tuan Galen. saat ini kau mitra kerja Ginga, maka dari itu aku ada disini sekarang."ucap Aileen sarkas.
"oh begitu rupanya, lalu kenapa kau memanggil suamimu dengan sebutan Ginga? kenapa tidak seperti waktu dulu kau memanggilku?"
Aileen yang mendengar ucapan Galen ia seketika menatap Galen dengan dahi yang berkerut indah. 'Jadi, kak Galen mengira kalau aku sudah menikah dengan Ginga? tapi biarlah, mungkin ini lebih baik!'
"kenapa kau tidak menjawab hmm? apa karna cintamu lebih dalam saat bersamaku hingga kau begitu hormat?"
Lagi-lagi Aileen sibuk bermonolog tanpa menghiraukan Galen yang sudah mulai geram, karena pertanyaannya tidak kunjung mendapat jawaban.
'ada apa dengan kak Galen? waktu pertama bertemu ia sangat menghormatiku, tapi kenapa? kenapa sekarang menjadi seseorang yang menyebalkan macam ini'
Karena tidak kunjung mendapat balasan, Galen pun mendekat kan posisinya dan menarik tangan dari Aileen. "jawab aku!" tegasnya.
"aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari orang yang suka mempermainkanku, jadi lepaskan tanganku!" Aileen menghempaskan tangan Galen hingga lepas dari cekalannya.
"aku tau aku dulu pernah berbuat salah terhadapmu Aileen! tapi kau, kai begitu midahnya mencari suami lagi. aku yakin kau menggodanya hingga kalian memiliki Nolan!"
byur..
aileen menyiram Galen dengan tehnya, yang untung saja tidak terlalu panas. "jaga ucapanmu tuan Galen. kau tidak tau apa-apa soal Nolan, lebih baik kau tidak banyak bicara!" Aileen begitu marah, dan kini ia meninggalkan Galen dengan keadaan kemeja yang basah.
"maaf menunggu lama" namun ia terkejut dengan keadaan Galen saat ini. "ada apa tuan Galen, kenapa bajumu menjadi basah? dan dimana Aileen?" tanya Ginga yang baru saja dstang dengan berkas-berkasnya.
"emm begini tuan Ginga, tadi aku tidak sengaja menumpahkannya. sementara Nona Aileen, dia sepertinya menemui anak kalian." Galen beralasan, ia tidak ingin Ginga mengetahui apa yang terjadi barusan.
dan ketika Ginga duduk di tempatnya dia memperhatikan sesuatu yang dianggapnya janggal. "jika kau menumpahkan minumanmu, kenapa itu masih penuh? dan justru milik Aileen yang sudah habis?"
__ADS_1
Entah jawaban apa yang akan di berikan oleh Galen, kini ia sedikit panik dengan pertanyaan yang Ginga lontarkan.