
Memikirkan sesuatu yang membuat penasaran memang tidak menyenangkan, terlebih hal itu menyangkut seseorang yang kita anggap rival. seperti itulah yang dirasakan oleh Adrian. semenjak Steven mengatakan tentang kebenciannya terhadap Ginga, membuat Adrian bertanya-tanya. sebenarnya apa yang membuat Steven terlihat begitu membenci Ginga.
"aku tidak bisa terus berdiam diri, aku harus mencari tau apa penyebab Steven membenci Ginga. mungkin saja jika aku tau, aku bisa menggunakannya untuk mendapatkan Aileen kemvali." Adrian menyunggingkan senyum diwajahnya. ia bergegas untuk kembali menemui Stevy.
Cukup lama Adrian menyusuri jalanan yang cukup terhambat karena kemacetan. karena itulah biasanya Adrian hanya menghabiskan waktu dua puluh menit, justru hari ini ia harus memakan waktu hingga satu jam.
"ada apa Adrian, apa kau masih penasaran dengan perkataanku kemarin? " seakan tau niat dari Adrian, Stevy langsung menebak hal itu. dan akhirnya Adrian segera mengangguki ucapan Stevy.
"baiklah, aku akan mengatakannya sekarang! "
"sebenarnya Ginga adalah kekasih dari adikku Adrian. tapi sayang sekali saat itu sehari sebelum adikku menikah, dia memilih bun*h diri. dan itu semuanya karna Ginga! " Stevy mengeratkan giginya sembari menatap penuh dendam.
"darimana kamu tau kalau itu karena Ginga Stevy?"
Stevy menatap Adrian yang begitu antusias mendengar cerita yang ia lontarkan.
Flashback On_
"Stevy, pihak mempelai pria sudah datang. cepat kamu jemput adikmu dikamar"
"oke mi, Stevy jemput Becca dulu ya"
Stevy mengukir senyum sembari menaiki tangga untuk menjemput Rebecca ke ballroom. setelah sampi didepan pintu ruangan Rebecca, Stevy mengetuk pintu hingga beberapa kali, namun adiknya tidak menyahut sama sekali.
Stevy mulai panik, ia gelisah kenapa adiknya tidak meresponnya sekalipun. Stevy lalu hendak membuka pintunya, namun terkunci dari dalam.
"ini ada yang gak beres, labih baik aku bilang ini sama mami."
Stevy menuruni tangga dengan terburu-buru, ia mengedarkan pandangannya dan saat itu tepat Ginga lah yang menangkap pandangannya. seketika Stevy menjadi gugup hingga ia hampir terjatuh, untung saja Ginga saat itu menangkapnya.
"kau tidak pa-pa?"
"emm tidak.. tidak.. terimakasih sudah menolongku."
"ya, tidak masalah. emm apa kau temannya Rebecca? "
"emm.. tunggu sebentar aku harus mencari seseorang" tanpa menjawab pertanyaan Ginga, Stevy langsung pergi mencari ibunya untuk mengatakan tentang Rebecca.
Dan Ginga memang belum pernah melihat Stevy sehingga ia tidak tau jika Stevy adalah calon kakak iparnya. Ginga adanya mendengar soal Stevy dari cerita Rebecca tanpa bertemu langsung.
"ah itu mami"
Stevy membawa ibunya menjauh dari tamu, ia mengatakan tentang pintu kamar Rebecca yang terkunci dari dalam dan tentang Rebecca yang tidak menjawab panggilan dari Stevy. seketika saat itu ibu Stevy mendadak gelisah.
Rebecca dan Stevy memang hanya mempunyai seorang ibu, karena ayah mereka sudah meninggal sejak mereka masih kecil. namun mereka selalu hidup berkecukupan karena ibunya memiliki usaha dibidang properti.
"mi gimana ni, Rebecca gak mau buka pintunyakan? "
__ADS_1
"kalo begitu kamu minta kunci cadangannya sayang cepat"
selang beberapa saat Stevy datang dengan membawa kunci.
ceklek
"Rebecca" Stevy berteriak sehingga banyak tamu yang mendengarnya. keadaan cukup riuh karena mendengar teriakan dari lantai atas.
dan karena hal itu Ginga pun berlari ke atas. ia merasa cemas mendengar suara teriakan tersebut.
"Becca! "
Ginga berlari dan melihat Rebecca yang sudah tergelatak di pangkuan ibunya dengan nadi yang sudah terpotong sehingga mengeluarkan banyak darah.
"Becca bangun Becca.. Becca ini aku Ginga, kita kan menikah Becca, kenapa kamu harus mengakhiri hidup kamu seperti ini Becca"
"Ginga" panggil Stevy dan Ginga langsung menoleh ke arahnya.
plak
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Ginga. Ginga menatap Stevy penuh tanya, ia masih belum tau kenapa Stevy menamparnya.
"kamu lihat ini, ini semua gara-gara kamu. gara-gara kamu adikku bun*h diri! " peliknya sembari menangis histeris karena adiknya yang sudah tidak bernyawa.
Ginga lalu meraih ponsel milik Rebecca dari tangan Stevy. ia membuka ponsel tersebut dimana menampakkan sebuah obrolan via chat yang dilakukan Rebecca dengan seseorang yang dinamai R dimana disana berisi tentang ancaman kepada Rebecca. ancaman tersebut adalah jika Rebecca tidak memberinya uang satu milyar, orang itu akan mengatakan perselingkuhan Rebecca dengan seorang pria berinisial R kepada Ginga. dan disitu tertera bahwa Rebecca tengah mengandung.
"jadi disini kamu yang menyebabkan adikku meninggal. kamu benar-benar Ginga! "
Flashback Off_
Melihat Stevy menangis, Adrian mencoba untuk menenangkan nya.
"maaf Stevy, aku tidak bermaksud membuka luka lamamu Stevy."
Stevy menyeka air matanya dengan kasar. ia menatap Ginga dengan lekat.
"aku ikut bersedih dengan jalan yang diambil oleh adikmu Stevy, tapi aku bisa bantu jika kamu ingin membalas Ginga Stevy!"
"benarkah? "
"hmmm.." Adrian mengangguk dengan senyum terluas diwajahnya.
"kita bikin itu seperti Ginga yang menghamili Rebecca. dengan begitu Aileen akan menjauhinya. dan saat Aileen menjauhi Ginga, maka Ginga akan hancur. dan disitulah aku makan mendekati Aileen agar Aileen kembali denganku"
"kau memang kompetitor sejati Adrian. kau akan berbuat apapun untuk kemenanganmu. tapi akai suka, baiklah kita bekerja sama" Adrian saling berjabat tangan dengan Stevy untuk kesepakatan yang mereka buat.
'Lihat saja, kau akan kembali ke dalam pelukanku Aileen'
__ADS_1
sementara itu saat ini Galen berada dilema, disisi lain ia ingin mendapatkan Aileen kembali, namun ia juga tidak bisa membuat anaknya bersedih jika harus dipisahkan dari Ginga.
"kamu tau Nolan, orang dewasa memang bisa salah paham. dan hal itu terjadi kepada kedua orangtua mu." ucap Raven menjawab pertanyaan Nolan.
"aku tau itu pama Raven, tapi apa yang membuat mereka berdua salah paham?"
Nolan tidak menyerah, ia terus mengorek agar ia tau apa yang terjadi hingga dia dan ibunya harus berpisah dengan ayah kandungnya sendiri.
"Dulu ada yang ingin merebut bundamu dari papamu Nolan, dan orang itu membuat kesepakatan dengan papamu. tetapi bundamu tidak mendengar penjelasan dari papamu Nolan"
"hentikan Raven" ujar Galen melarang Raven untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Nolan, kamu kedalam ya biar ayah yang bicara dengan mereka" ujar Ginga.
"tidak ayah, aku harus mendengarnya"
"Kak Raven tolong hentikan. jangan pengaruhi Nolan seperti itu."
"aku tidak mempengaruhi Nolan Aileen, aku hanya meluruskannya agar kesalahpahaman lima tahun lalu berakhir"
Raven melihat Galen, saat itu Galen menggeleng, namun Raven justru mengangguk dan akan melanjutkan apa yang sudah ia ceritakan separuhnya.
"apa kau tau Nolan, papamu menggunakan kesepakatan itu beralaskan nenekmu dan saat itu mereka menikah lagi karena permintaan mereka. dengan begitu ibumu sudah kembali menjadi istri dari papamu yang dulu pernah berpisah. dan saat itu bundamu tidak paham dengan apa yang dilakukan papamu. padahal papamu melakukan itu agar dia bisa menikah lagi dengan bundamu, dan semua itu karena papamu masih sangat mencintai Bundamu Nolan"
seketika saat itu Aileen tersadar bahwa dirinya memang salah paham.
"mungkin aku salah paham soal itu kak Raven, tapi jika seperti itu kenapa Kakakmu tidak mengakui bahwa dia telah menyentuhku!? bahkan dia berujar yang membuat aku sakit kak Raven"
Galen menunduk, ia tau jika itulah kesalahannya yang membuat ia kehilangan Aileen.
"baik lama sudah cukup dengan ceritamu, dan aku sudah memutuskan aku akan mengakui paman Galen dabagai papaku, tapi aku tetap ingin adalah yang menjadi suami dari bunda. karena dari situ aku menangkap ayah saja yang orang lain bisa memahami bunda, tapi lama Galen, paman Galen tidak bisa memahami Bundaku"
deg
Galen begitu sakit mendengar anaknya sendiri memilih orang lain sebagai suami dari ibunya.
ting
ponsel Aileen berdenting, ia segera membuka notifikasi pesan yang masuk.
prak
ponselnya jatuh begitu saja dan membuat semuanya bertanya-tanya dengan apa yang Aileen lihat sehingga ponselnya terjatuh begitu saja.
.
. bersambung
__ADS_1