
brug
Ginga terjatuh diatas Aileen. karena pengaruh minuman, ia menjadi tidak sadarkan diri. sementara Aileen yang ingin berganti pakaian untuk tidak bisa karena Hingga berada diatas tubuhnya.
"Ginga bangunlah, aku tidak bisa mengangkatmu, kau benar-benar berat" ucap Aileen.
Aileen berusaha mengguncang tubuh Ginga agar tersadar, namun usahanya hanya sia-sia. akhirnya Aileen menyerah dan perlahan ia pun kehilangan kesadarannya. dan ketika Ginga sudah kembali pada kesadarannya ia merasa mencium harum yang sangat ia sukai.
ia masih belum membuka matanya, Ginga justru mengendus aroma favoritenya itu. dan tanpa ia sengaja ia menyusuri ceruk leher Aileen. dan ketika hidungnya sampai didekat dada Aileen, perlahan ia membuka kedua matanya.
"Aileen.. "lirihnya.
" apa yang aku lakukan? dan Aileen, dia masih belum berganti pakaian"
Ginga berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ini. dan bayangan ketika dirinya mengekang Aileen hingga Aileen berusaha membangunkannya melintasi benaknya.
Ginga lalu bangkit dan membenarkan posisi Aileen dengan benar. ia kemudian menyelimuti Aileen dengan penuh perhatian. kemudian ia duduk ditepian ranjang.
tangan besarnya menyibak helai rambut yang menutupi sebagian wajah Aileen yang sangat tirus dan halus. pandangan matanya berubah sendu.
"maaf Aileen, maafkan sikapku yang sempat kasar padamu. aku hanya terkejut ketika tau siapa ayah Nolan yang sebenarnya. dan sejujurnya aku khawatir jika Galen tau, dia akan merebut kalian dari hidupku."
kecupan lembut mendarat di puncuk kepala Aileen.
__ADS_1
"Ginga"
kedua mata Aileen terbuka, seketika pandangan keduanya bertemu. Aileen pun duduk dan memeluk Ginga yang ada dihadapannya.
"maaf Ginga, maaf" air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata. perasaannya mengelilingi ketika melihat Ginga bersama dengan banyak wanita penghibur.
"kamu memang pantas marah denganku, tapi jujur saja aku begitu terluka melihatmu dekat dengan wanita lain. dan aku baru sadar kalau saat ini aku mulai menerimamu sebagai laki-laki yang aku cintai Ginga;"
mendengar ucapan Aileen seketika Ginga melepas pelukan dari Aileen dan memegang pundak Aileen. Ginga mencari keberanian dengan menatap kedua manik mata Aileen yang terlihat sangat tulus mengatakan hal tersebut.
"aku tau, aku terlalu buruk untuk laki-laki sebaik dirimu Ginga. tapi maaf karna rasa tidak tau diriku lebih besar dari segalanya."
air mata yang sudah mengajak sungai perlahan terhapus oleh tangan besar Ginga. ia lalu menatap dalam-dalam manik mata Aileen.
nafas yang memburu membuat Ginga semakin tidak bisa mengontrol keinginannya. dan karena masih sesikit terpengaruh oleh minuman, Ginga lalu menempelkan bib*rnya di bibir ranum milik Aileen. lama semakin lama, Ginga ******* bibir mungil Aileen.
pyar
"astaga.. "
Raven berlari ketika mendengar sesuatu terjatuh. ia memeriksa kemana sumber suara itu berasal.
"ada apa kak! "
__ADS_1
"tidak ada apa-apa Raven, tadi gelasnya sangat licin makanya bisa terjatuh seperti ini. apa aku menganggu tidurmu? "
"tidak kak, aku memang sulit untuk memejamkan mataku."
Kini Raven dan Galen pun duduk bersama di meja baru yang ada dirumah mereka.
"apa kak Galen memikirkan hal yang sama dengan yang aku pikirkan? "
Galen menatap adiknya yang saat itu juga menataonya penuh selidik.
"apa kita sama-sama memikirkan tentang Aileen dan Nolan? " sambungnya lagi
"aku harap Nilam memang benar-benar anakku Raven"
"aku juga kak"
sementara itu di tempat lain ci*man yang dilakukan oleh Ginga semakin dalam. tangannya mulai bergerilya menyusuri kaki jenjang milik Aileen.
hingga kini keduanya melepas pasukannya dengan nafas yang terengah-engah. keduanya menggeleng. "kita tidak bisa melakukan ini Ginga" ucap Aileen
Ginga lalu menarik Aileen kedalam dekapannya. "maaf Ai, hampir saja aku kelepasan" masih dengan nafas yang terengah kini keduanya berusaha menetralkan diri mereka hanya saling berpelukan hingga keduanya terlelap.
.
__ADS_1
. bersambung