
Kini Stevy dan Adrian tengah tertawa bersama setelah mengirim sesuatu di ponsel milik Aileen.
"aku yakin dengan begini Aileen akan mulai meragukan Ginga. dan ketika mereka berpisah, keinginanku akan segera terwujud begitupun dengan balas dendammu Stevy"
"itu memang tujuan hidupku setelah aku melihat penderitaan adikku Adrian"
"baiklah, aku harus pergi ke suatu tempat. aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik" ucap Adrian yang kemudian meninggalkan Stevy sendiri.
Adrian melakukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. selang beberapa saat Adrian tengah sampai di tempat tujuannya.
Adrian kemudian mencari seseorang yang ingin ia ajak bicara.
"Intan, aku ingin berbicara"
Intan menoleh dan menarik sebelah ujung bibirnya. "apa yang ingin kau bicarakan Adrian? "
perlahan Adrian mendekati Intan yang tengah duduk menatap luar jendela kamar apartemennya. Adrian meraih tangan Intan dan mengusapnya dengan lembut.
"tolong maafkan aku Intan, aku salah karna aku tidak jujur denganmu" Adrian terlihat begitu menyesal.
Awalnya Intan enggan menatap mata Adrian, namun mendengar suara Adrian yang terdengar sangat sedih membuat dirinya tidak bisa mengabaikan nya.
"tolong maafkan aku"
Intan tanpa sadar mengingat masa-masa manis diantara dirinya dan Adrian.
'aku mungkin sudah tau jika kamu selamat ini hanya menganggapku menyusahkan Adrian, ya, ku akui itu memang benar. awalnya aku mau meninggalkan kamu Adrian, tapi aku tidak rela jika kamu mengejar Aileen. aku pastikan aku akan lebih baik darinya Adrian. dan aku akan berpura-pura untuk tidak tau tentang apa yang kau bicarakan dengan temanmu di kafe itu.'
Entah sejak kapan kebencian mulai timbul di hatinya. Intan merasa dikhianati oleh sahabatnya. ia berpikir, mungkin saja Adrian berbohong karna ingin melindungi perasaannya, tetapi Aileen, kenapa Aileen juga harus membohonginya dengan berpura-pura tidak mengenal Adrian sebelum ia mengenalkan Adrian di pernikahannya waktu itu.
"aku akan memaafkanmu, tapi aku ingin kamu mendukung usaha yang akan aku dirikan nanti Adrian"
Adrian mengernyit, ia sama sekali tidak pernah melihat Intan bekerja. dan mendadak Intan memintanya untuk mendukung usahanya nanti? itu benar-benar sebuah kejutan baginya.
__ADS_1
"apapun yang kamu inginkan Intan, pasti akan aku lakukan" ucap Adrian.
"Terima kasih Adrian" Intan memeluk Adrian dengan erat begitupun sebaliknya. kini mereka hanya tersenyum memikirkan apa yang ada di benakmu mereka Masing-masing.
_
Raven menghampiri Galen yang tengah duduk di kursi panjang yang ada ditepi kolam di rumahnya. saat itu Raven tau jika saat ini Kakaknya sedang terluka dan juga kecewa.
"mari kita lakukan apa yang aku bilang waktu itu kak Galen"
mendengar suara Raven, Galen mengedarkan pandangannya dan melihat ke arah Raven yang ada di kursi sebelahnya.
"apa yang kau maksud Raven? "
"apa kakak rela jika gadis kecil yang dulu kita sayangi dan kita rawat, akan menjadi milik Ginga dan kita tidak bisa sedekat dulu? apa kakak lupa dengan sikap perhatian dan manjanya? " Raven menelisik raut wajah Galen yang masih terdiam dan memikirkan sesuatu.
"jujur saja akau tidak rela kak! " sambungnya.
"lalu apa kita pantas merenggut kebahagiaan yang akan mereka rajut hanya demi kebahagiaan kita Raven? aku sudah banyak memberinya penderitaan, begitupun denganmu yang sempat meninggalkannya demi perempuan lain!"
"aku tau itu adalah kesalahan terbesarku kak. makanya sekarang aku ingin menebusnya"
"kalau begitu biarkan saja Aileen menikah dengan orang yang dia cintai Raven"pungkasnya
" apa kak Galen yakin kalau Aileen benar-benar mencintai Ginga? apa kak Galen tidak merasa kalau kemarahan yang didalam diri Aileen itu karena rasa cintanya terhadap kakak juga sangat dalam."
"tetap saja Raven, aku mencintai Aileen dan aku ingin melihatnya tersenyum"
"apa kak Galen rela jika Nolan lebih bergantung dengan Ginga yang bahkan bukan ayah kandungnya.? "
"kau ini kenapa Raven? kau dulu sangat bijak, tapi kenapa sekarang kau sepertinya ingin sekali memisahkan mereka? "
Raven terdiam, namun kini dia menatap tegas Galen. "apa kak Galen ingat sewaktu Aileen menjatuhkan ponsel miliknya?"
__ADS_1
"iya aku ingat, lalu? "
Flashback On_
melihat Aileen yang menjatuhkan ponselnya, Semuanya mendadak cemas.
"ada apa Aileen? apa ada sesuatu yang terjadi?"tidak bisa dipungkiri, Galen memang sangat cas melihat Aileen yang mendadak menjatuhkan ponselnya dan raut wajahnya yang terkejut.
Aileen masih terdiam, hingga Galen mendekatinya. " ada apa? "
Aileen menatap Ginga dan bergantian melihat Raven dan juga Galen. "aku tidak enak badan, tolong kalian pergi dari sini"
"ada apa Aileen?apa kau baik-baik saja?" Galen Lagi-lagi mengulangi pertanyaannya.
"sudahlah kan Galen, kita bahas itu nanti. aku yakin Aileen sedang memikirkannya. dan dia akan tau siapa yang terbaik untuknya dan Nolan" ujar Raven dan mengajak Galen bergegas untuk meninggalkan rumah Ginga.
Flashback Off_
"apa kau tau kak, ketika aku mengambilkan Ponsel milik Aileen dan kuberikan kepada Nolan? aku melihat dimana disana seseorang mengiriminya sebuah foto dimana Ginga dan seorang perempuan tengah menjalani foto prewedding"
"apa? kau yakin dengan ucapanmu Raven? "
"aku dangat yakin karena aku melihatnya sendiri kak!" Raven kemudian bangkit dan berdiri dihadapan Galen yang terlihat sedang memikirkan ucapan Raven
"sekarang aku tanya dengamu kak Galen! apa kau rela Nolan mendapat seorang ayah yang sudah memiliki wanita lain selain bundanya? "
Seketika Galen menatap tegas adiknya "aku akan membawa Aileen kembali dan menjadikannya seorang Agara Raven! "
Raven kemudian menarik ujung bibirnya dan menepuk pundak Galen "ini baru kakakku, kakak yang tidak pernah menyerah untuk kemenangan nnya dan kebhagaiannya! "
.
. bersambung
__ADS_1