
Pandangan mata yang saling terpaut membuat suasana menjadi tegang. Mandalika tau jika saat ini Rexy sangat marah dengannya karena ia mengatainya.
jujur saja tatapan Rexy saat ini akan membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri, termasuk dengan Mandalika. Mandalika mulai berpikir bagaimana caranya untuk lepas dari amukan Rexy yang kali ini terlihat benar-benar marah.
Sebelum Rexy semakin mendekat, Mandalika menerobos badan Rexy. Tetapi bukannya lolos begitu saja, lengannya dicekal dengan erat oleh Rexy. hingga tubuhnya terpelanting ke belakang. Karena keseimbangan Mandalika goyah, otomatis Rexy pun ikut goyah hingga ia justru menimpa Mandalika yang terjatuh kebelakang.
Brugh
Rexy menatap mata Mandalika yang terpejam. Bulu mata yang lentik solah membuat Rexy enggan untuk berpaling dan justru menikmati pandangan yang indah dihadapannya. Perlahan pandangan matanya semakin turun, hingga sesuatu di sana yang ranum menyita perhatiannya.
Dug
"Argh, anjir tu cewek. Berani-beraninya dia kabur setelah dia jedotin kepalanya ke dahi gue" Rexy menyengir sembari mengusap dahinya yang terasa pening karena terbentur dengan kepala Mandalika yang berlari keluar dari basecamp tanpa seizin Rexy.
"Fuh.." Mandalika membuang nafas panjang. Ia lega karena lolos dari Rexy.
Mandalika menaiki sebuah taksi online yang sudah ia pesan. Sesampainya di rumah, ia langsung menjatuhkan badannya di atas kasur empuknya hingga akhirnya ia masuk ke alam mimpinya.
Baru lima menit Mandalika merasakan bantal lembut yang memanjakan pipinya, sebuah ponsel yang ada di dalam tasnya berdering dan mulai mengusik alam mimpinya yang baru saja akan menghiasi tidurnya.
Di rogohnya ponsel itu dari dalam tas yang ada di sebelahnya.
"Halo, ini siapa? " Tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"Ini gue Anevay. Lu harus datang ke alamat rumah yang udah gue kirim., sekarang!”
Saat itulah Mandalika ingat dengan kekalahan yang ia alami. Iabangkit dari posisinya dan mendengus kesal menuju kamar mandi.
"Astaga, samapai kapan gue kayak gini? Perasaan gue itu pindah sekolah buat belajar, bukannya jadi babu kek sekarang"
Tetapi mau tidak mau, akhirnya Mandalika harus datang ke alamat yang sudah di kirim oleh Anevay.
Ting
Satu notifikasi masuk kedalam ponselnya. Segera ia buka dan ia baca. Dimana saat itu Anevay mengirimkan pesan untuk tidak menggoda lelakinya.
"Siapa juga yang doyan sama cowok modelan kayak Nolan, issh"
Sementara itu di tempat lain, saat ini Nolan juga menerima pesan dari Anevay yang memberitahu jika Mandalika akan datang untuk mengajarinya. Itulah Nolan, kekasihnya saja tidak tau jika Nolan tidak memerlukan guru sama sekali, karena otaknya yang cerdas Nolan bahkan lebih menguasai semua mata pelajaran dari guru-guru yang ada disekolahannya.
Nolan memang tidak pernah memberitahu siapapun tentang kelebihannya itu. Ia hanya menjadi seorang siswa badung yang sering di panggil oleh pihak sekolah karena sering membolos. Bahkan ia menjadi juara ketiga meskipun ia mengerjakan soal ulangannya hanya seenak dirinya. Bukan karena tidak mampu, Nolan hanya malas dan tidak ingin berprestasi. Ia justru hanya menebar pesonanya untuk memainkan beberapa perasaan dan membuangnya begitu saja. Sementara Anevay, Nolan memang berpacaran dan menurut dengannya hanya supaya Anevay tidak pergi dari gengnya, dimana Anevay sangat piawai di bidang Skateboard. Hanya itulah yang membuat Nolan memacarinya.
Ting
Satu lagi notifikasi masuk dan memberinya peringatan untuk tidak tergoda jika nantinya Mandalika berusaha menggodanya.
"Cih, memangnya siapa dia? Dia itu cuma cewek sirkuit. Bodi aja rata kaya papan skateboard, mana mungkin bisa godain gue. Yang ada tu orang yang tergoda sama ketampanan gue. Lihat aja nanti, gue bakal bikin dia kesel dan nggak mau datang lagi buat ngajarin gue" Nolan tersenyum smirk ketika memikirkan rencana itu untuk mengusir Mandalika yang akan menjadi guru privatnya.
Ting tung
Sekitar pukul tujuh malam, Mandalika benar-benar datang dan membawa beberapa buku untuk materi yang akan ia ajarkan kepada Nolan malam ini.
Matanya melihat setiap sudut ruangan, dimana ia begitu kagum dengan keindahan dan kemegahan tempat tinggal yang ditempati oleh Nolan.
Selama ini meskipun ia juga tinggal di sebuah rumah mewah, tetapi ini jauh lebih mewah dari rumahnya. Bisa dikatakan ini adalah sebuah Mansion.
"Silahkan duduk non, biar bibik panggilkan den Nolan nya"
"Oh iya bik"
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki yang lebih dari satu orang semakin mendapat, dan hal itu membuat Mandalika yang tadinya sibuk melihat ke sekeliling menjadi terpagut melihat dua pria tampan dan gagah, namun terlihat lebih dewasa dan berkarisma. Meskipun bisa dikatakan usia mereka mencapai paruh baya, namun ketampanannya tidak pernah berkurang semenjak dua belas tahun lalu, keduanya memang aktif menjalani olahraga kebugaran. Tidak heran jika sekarang mereka masih terlihat lebih muda dari usianya.
"Selamat datang nak Manda. Perkenalkan kami berdua adalah ayah Nolan"
Ya, orang yang di lihat oleh Mandalika dan saat ini tengah mengulurkan tangannya adalah Galen yang datang bersama dengan Ginga.
__ADS_1
"Kamu pasti bingung, biar aku jelaskan" Sahut Ginga menimpali "aku adalah Ginga ayah angkat Nolan, dan yang berdiri didepanmu ini adalah ayah kandungnya"
Jika mereka ayahnya, lalu dimana keberadaan ibunya? Apakah ibunya juga akan ada dua? Entahlah, yang jelas saat ini Mandalika hanya mengangguki ucapan Galen dan juga Ginga.
"Kami berdua berharap, semoga kamu bisa mengatasi Nolan yang sangat keras kepala."
Setelah mengatakan hal itu Galen da juga Ginga pergi. Tinggallah Mandalika seorang yang duduk di sebuah ruang tamu yang begitu besar.
Setelah itu seseorang berjalan menuruni tangga dengan baju santainya sembari menikmati cokelat hangat yang ada ditangannya.
"Ikut gue" Ajaknya dan segera diikuti oleh Mandalika.
Bukan kamar, Nolan mengajak Mandalika untuk naik ke atas rooftop yang ada di mansionnya. Dimana di atas sana terlihat sangat indah menyaksikan kelap-kelip hamparan lampu dimalam hari.
Awalnya ini akan terasa bagus untuk Mandalika, namun semakin malam udara di atas sana terasa semakin dingin. Saat itu Mandalika yang hanya mengenakan jeans kulot dengan atasan crop merasa kedinginan karena lengannya yang pendek.
"Eum, Nolan. Bisa nggak si kalo kita belajar di dalam aja?"
'Gue tau, sekarang lu pasti kedinginan. Ini baru permulaan, liat apa yang selanjutnya bakal lo alamin'
"Gue lebih suka disini, jadi cepat ajarin gue sekarang. Atau lo mau nambah masa ngajarin gue jadi 60 hari?"
"No, satu bulan itu udah cukup buat gue."
"Tapi, kalo gue nantinya belom juga nguasain materinya gimana? ".Nolan semakin membuat Mandalika resah. karena jika itu terjadi, pasti semua yang tau akan semakin merendahkannya karena tidak becus mengajari seseorang.
Akhirnya tujuan Nolan membuat Mandalika kesal dan terganggu mulai terlihat hasilnya.
Mandalika mulai menjelaskan materi pelajaran kepada Nolan. Bukannya memperhatikan, Nolan justru asik berselancar pesan dengan ponsel yang ada ditangannya.
"Nolan, lo perhatiin nggak si dari tadi? "
"Gue lagi chatingan sama temen-temen gue" Ucapnya tanpa rikuh sama sekali.
"Sini HP lo. pokoknya di saat jam gue ngajarin lo, lo nggak boleh main-main ataupun berinteraksi dengan hal lain"
"Enak aja, emang lo siapa? Bokap gue aja nggak bisa ngatur gue, apalagi lo? Huh. " Sarkastik ucapan Nolan terdengar di telinga Mandalika.
Namun siapa sangka jika Mandalika jauh lebih keras kepala dari Nolan. Ia merebut ponsel milik Nolan dan memasukkannnya kedalam tas selempang miliknya.
"Gue bakal balikin kok, asalkan lo perhatiin dulu apa yang gue ajarin sama lo"
Nolan mendengus kesal, tetapi kali ini akhirnya Nolan mulai memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Mandalika yang terus menjelaskannya.
"Oke, sekarang lo coba kerjain soal dari gue"
Ketika Mandalika menuliskan beberapa soal di buku milik Nolan, saat itulah pikiran nakal Nolan beraksi.
'Liat aja lo cewek sirkuit, lo bakal rasain segimana putus adanya guru-guru privat gue dulu'
Nolan menyunggingkan senyumnya dan mulai menulis jawaban yang ngawur.
Setelah Nolan berpura-pura mengerjakannya cukup lama, ia menyodorkan bukunya untuk di periksa oleh Mandalika.
Kedua bolak mata Mandalika membuat sempurna. Ia tidak menyangka jika Nolan seburuk ini dalam mata pekarangan yang saat ini ia ajarkan kepadanya.
"Kalo lo nggak ngerti sama sekali, mendingan lo tanya sama gue." Ucapnya sembari menelisik buku yang ada di hadapannya.
"Emang jawaban gue nggak ada yang bener apa?" Tanya Nolan sok polos.
"Emm" Anggukan Mandalika bahkan tidak menunjukkan kekesalannya. Ia justru terlihat mengasihani Nolan karena tidak bisa mengerjakan satupun sola darinya yang menurutnya itu soal yang sangat mudah.
"Permisi den, non. Silahkan ini minumannya dan ini camilannya" Seorang asisten rumah tangga yang lumayan tua menyuguhkannya.
"Iya makasih bik, bibik bisa balik lagi"jawab Nolan yang mendadak bersuara lembut.
Hal itu sontak membuat Mandalika melihat sisi lain dari Nolan yang sangat sopan kepada asisten rumah tangga di rumahnya.
" Ngapin lo liatin gue? "
"Ya gue heran aja, orang sekasar lo bisa selembut itu sama orang"
__ADS_1
"Huh, jangan bilang lo tertarik sama gua. Sorry aja ya lu bukan tipe gue. Body tipis kayak lu nggak masuk ke kriteria gue dan nggak akan bisa godain gue"
Ya, dibanding dengan Anevay. Mandalika memang jauh lebih kurus. Tetapi sebenarnya Mandalika memiliki tubuh yang lumayan bagus, hanya saja bagian da*a nya yang tidak terlalu berisi. Ya memang seperti ini postur anak SMA.
Kalau Anevay justru lebih seperti model iklan yang mempunyai postur tinggi dan lebih berisi di bagian tertentu sehingga membuat banyak laki-laki menyukainya. Meskipun Anevay tidak terlalu padat dari dalam hal pelajaran.
'Gue yakin sebentar lagi lo bakal kayak orang kesurupan karna gue katain. Ya meskipun dia nggak setipis yang bilang si'
Bukannya kesal, Mandalika justru terkekeh mendengar semua celotehan yang keluar dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Ngapain lo ketawa? "
"Ga papa si lucu aja. Lagian yang kesini mau bikin lo tergoda itu siapa? Dan gue juga gak minat buat masuk kedalam kriteria cewek idaman lo, okey. Jadi sekarang, dari pada lo ngomongin hal yang gak penting. Mending perhatiin apa yang gue ajarin."
Mandalika sekali lagi mengahati Nolan dengan metode yang lebih mudah di pahami. Saat itu Nolan mulai mengerjakan kembali soal yang diberikan oleh Mandalika. Tetapi ssat itu Mandalika mulai kedinginan, dimana saat itu mulai timbul ruam di tubuhnya.
Melihat Mandalika yang terdapat bintik-bintik merah, Nolan menautkan kedua alisnya.
"Lo kenapa cewek sirkuit?"
"Gue kalo kena udara dingin malam hari terlalu lama emang kayak gini,. Makanya tadi gue ngajakin lo buat belajar di dalem"
"Ya udah belajarnya kita lanjutin besok, gue nggak mau ya nanti gue yang di tangkap polisi gegara lu mati kedinginan di sini"
Nolan memang vwrniat mengerjai Mandalika. Namun ia tidak menyangka jika akan seperti itu. Akhirnya ia menyuruh Mandalika untuk pulang.
Sesampainya di ruang tamu ketika Mandalika hendak pulang, Galen datang menghampiri dan melihat keadaan Mandalika saat ini.
"Nolan" Panggilnya ketika Nolan hendak naik untuk pergi ke kamar miliknya.
"Cepat anterin nak Manda pulang. Kami tidak kasihan? Nanti kalo kamu nganterin nak Manda, papa balikin fasilitas milik kamu"
"Oke"
Nolan awalnya enggan untuk menyetujui, namun ketika mengingat temannya yang membayar makanan mereka ketika berkumpul membuat harga diri Nolan terkoyak. Akhirnya Nolan menyetujui ucapan Galen dan mengantarkan Mandalika.
"Gak perlu om, Manda bisa pulang sendiri kok"
"Udah gak usah ngeyel, gue anterin"
Nolan menarik Mandalika keluar mansion dan mengantarnya pulang.
"Dimana rumah lo"
"Jalan xx nomor 27"
Dengan segera Nolan menginjak pedal gasnya dan melaju cukup cepat. Saat itu kelahirannya mulai timbul. Nolan justru melewati jalanan yang sedikit rusak untuk membuat Mandalika tidak nyaman.
"Bisa nggak si lo pelan-pelan Nolan? Kalo kita kecelakaan gimana? "
Mandalika mengeluh karena tadi memang Nolan hampir saja menabrak kucing yang menyeberang di jalanan dan membuatnya sedikit oleng.
"Cerewet banget si lo jadi cewek"
Mandalika tidak menjawab ucapan Nolan. Justru saat ini yang terlihat kesal adalah Nolan. Ia selalu gagal untuk membuat Mandalika kesal.
Setelah menempuh beberapa menit, Nolan menghentikan mobilnya didepan pintu gerbang rumah Mandalika. Saat itu ia terkenal melihat rumah mewah yang di tempati oleh Mandalika.
Grep
Mandalika menutupi pintunya begitu saja. Namun sebelum Nolan pergi, Nolam justru melihat seseorang yang tidak asing baginya sudah menunggu Mandalika diteras rumahnya.
_
Brugh
Nolan menjatuhkan badannya di atas king size miliknya. Ditatapnya langit-langit kamar sembari mengingat kemabli ketika dirinya bersama dengan Mandalika.
"Gue yakin, lo bersikap sok tenang dan bilang nggak mau jadi kriteria gue supaya gue mikir kalo lo itu menarik karena lo beda dari cewek-cewek lain kan, cewek sirkuit? Huh, gak mempan." Nolan bermonolog didalam kamarnya.
"Tapi tadi itu gue lihat Vero anggota Scorpions kan? Ngapain tu anak di rumah cewek sirkuit? Atau, Jangan-jangan mereka berdua pacaran? Kalo emang bener kayak gitu, gue punya rencana bagus buat bikin geng Scorpions pecah" Nolan tersenyum smirk.
__ADS_1
.
. Bersambung