Hear My Heart

Hear My Heart
Part 60


__ADS_3

Nolan bersikeras meminta Raven untuk mengantarkannya ke kantor polisi. karena saat ini memang Nolan tinggal bersama dengan Galen dan juga Raven.


"paman Raven, bagaimana dengan bundaku? kenapa dia tidak pulang?"


"entahlah Nolan, paman belum mendapat kabar dari ayahmu. yang penting sekarang kau harus makan karena sejak tadi kau belum makan kan? "


"aku akan makan paman, karena aku tidak ingin sakit. jika aku sakit, siapa yang akan membebaskan bunda nanti"


Tanpa susah payah Raven untuk membujuk Nolan makan, namun Nolan justru yang terlihat begitu marah dengan keadaan ibunya saat ini.


melihat keseriusan Nolan kali ini benar-benar membuat Raven bangga dengan Aileen


'secerdas apapun anak-anak, dia tidak akan seperduli ini jika orang tuanya tidak membimbingnya dengan benar. dan kamu berhasil menjadi seorang ibu yang mendidik anakmu dengan sangat baik dengan sikap peduli yang sangat besar Aileen'


"makan yang banyak Nolan, setelah ini kita ke kantor polisi" ucap Raven dengan senyum yang terukir di wajahnya.


usai menyelesaikan kegiatan makannya, Nolan dan Raven. bergegas untuk pergi ke kantor polisi. disepanjang jalan Nolan tidak berbicara apapun, ia begitu fokus dengan jalanan.


Hingga Raven menghentikan mobilnya mendadak ketika melihat keberadaan orang yang tidak di kenal tengah berbincang dengan Intan. namun karena Nolan yang tidak sabar untuk menemui ibunya, Raven kembali melakukan mobilnya agar ia segera sampai di kantor polisi.


"siapa laki-laki yang bersama dengan Intan? kenapa Intan memberinya amplop? "


"apa paman curiga dengan orang yang berbincang dengan istri paman yang menculikku itu? bahkan laki-laki itu memiliki sebuah tato dilengannya yang sepertinya itu adalah inisial kan paman? "


"sudahlah Nolan, lebih baik kita fokus untuk menemui bundamu" meskipun begitu Raven tidak ingin mengambil pusing dan langsung melakukan mobilnya semakin kencang


Ketika Raven dan Nolan sampai di kantor polisi, Keduanya berlari melihat Ginga dan juga Adrian mengikuti brankar dengan seorang yang tergeletak diatasnya.


karena tidak ingin tertinggal, Raven menggendong Nolan agar lebih cepat.


Ambulance melaju dengan sangat kencang. sementara itu Nolan dan Raven yang tidak bisa mengajak bicara Adrian dan Ginga yang sudah ikut masuk kedalam ambulance, mereka bergegas pergi ke mobil dan mengikuti ambulance tersebut.


"paman, ada apa? kenapa ayah dan paman yang menculikku mengikuti ambulance itu? " tanya Nolan yang melihat kepanikan Raven.


"entahlah Nolan, ini paman juga ingin tau makanya paman mengejar mereka. dan paman khawatir jika seseorang yang ada di brankar adalah bundamu"


"aku pun sama paman" tempat Nolan dan kembali fokus dengan jalanan yang mereka lewati.

__ADS_1


"paman, setauku di sini ada jalan pintas agar kita sampai di rumah sakit terdekat. aku yakin mereka pergi ke rumah sakit terdekat"


Ketika mendengar ucapan Nolan, Raven tersadar jika ia bersama dengan anak yang jenius. hingga bukannya merepotkan, Nolan justru banyak membantu di usianya yang masih sangat belia.


"kamu benar Nolan. kalau begitu paman akan masuk gang di depan sana"


Tidak memakan waktu lama, Raven dan Nolan tengah sampai di rumah sakit yang mereka tuju. dan benar saja, saat itu ambulance yang mereka ikuti baru saja tiba di depan mereka.


Nolan berlari mengejar dan mendapati Ginga dan Adrian mendorong brankar dimana disana adalah Aileen yang berada di atas Brankar tersebut.


Tanpa berkata apapun, Nolan mengikutinya hingga Aileen masuk kedalam ruang penanganan.


"ayah, ada apa ini sebenernya? apa paman ini yang membuat ulah lagi hingga ibuku menjadi seperti itu? " tanya Nolan yang mendongak menatap sang ayah.


Saat itu Ginga menyadari bukan hanya dirinyalah yang mengkhawatirkan Aileen, melainkan ada Nolan yang juga sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya. Ginga mengajak Nolan untuk duduk, ditatapnya kedua manik mata Nolan yang kecoklatan dengan binar kecemasan.


"ada seseorang yang tidak dikenal menembak bundamu Nolan! "


"apa? Aileen tertembak? " ucao Ra en yang baru saja tiba.


setelah menghubungi Galen, Raven tiba-tiba saja memuk*l Adrian dengan sangat keras hingga pangkal hidungnya yang berdarah


"hentikan Raven, jangan berbuat anarkis" Ginga melerai Raven yang ingin terus memukul Adrian.


"kenapa kau melarang ku? apa kau tidak memperdulikan Aileen Tuan Ginga? aku harus memeberikan pelajaran untuk orang ini" protes Raven.


"bukan dia orangnya Raven, tapi ada orang lain! " terang Ginga.


"aku tidak mungkin tega menyakiti Aileen, dia adalah wanita yang aku cintai selama ini. dan aku menculik Nolan semata-mata hanya karena aku ingin Aileen tidak menikah dengan Ginga dan kembali denganku" ujar Adrian


"jangan bersembunyi di balik kata cinta tuan Adrian. kau dan kakakku bahkan yang mengaku mencintai Aileen, dulu justru kalian membuat kesalahan yang akhirnya kalian sesali"


"hei, kau jangan menghakimiku seperti itu Raven. apa kau lupa sesuatu? dulu Aileen sempat bercerita jika ada seseorang yang dijodohkan dengannya, tapi orang itu justru membawa pulang kekasihnya dan membatalkan perjodohannya dan justru orang lainnya yang harus menikahi Aileen. dan itu adalah awal kesedihan Aileen yang sebenarnya bukan? "


"Hentikan! apa kalian tidak malu? kalian malah membicarakan hal yang tidak harus dibicarakan! " lerai Ginga sehingga membuat Raven dan juga Adrian terdiam setelah saling serang.


tap tap tap

__ADS_1


langkah kaki seseorang berhasil menyita perhatian semuanya. dan benar saja, orang tersebut adalah Galen.


"dimana Aileen, bagaimana dengan keadaannya? "


"kak Galen, Aileen masih ditangani eh dokter. kami belum tau bagaimana keadaannya sekarang" balas Raven.


Tatapan Galen menemukan seorang anak kecil yang terus berdiri didepan pintu ruangan. dengan raut wajah cemas. dan anak itu adalah Nolan yang terus mendoakan keadaan ibunya didalam di tengah pertikaian para orang dewasa.


Galen berjalan mendekati Nolan dan berlutut mensejajarkan posisinya dengan Nolan. "Nolan, kenapa kau berdiri disini sayang. duduklah"


"aku hanya mencemaskan bundaku pa, aku tidak ingin duduk" sahut Nolan dan kembali menatap pintu ruangan.


"itulah yang terus dilakukan Nolan ketika bundanya sakit. bahkan tadi aku sudah mengajaknya duduk. tapi seperti biasa ketika bundanya sakit dan diperiksa oleh dokter, makan Nolan akan terus menunggu didepan pintu seperti itu" sahut Adrian yang menjelaskan kebiasaan Nolan ketika Aileen sakit dan dibawa ke rumah sakit.


cewek


Pintu ruangan terbuka, Sang dokter mengedarkan pandangannya dan memperhatikan satu persatu laki-laki yang menunggunya.


"maaf disini siapa yang keluarga pasien? "


"saya calon suaminya dok"


"saya suaminya dok"


Galen dan Ginga menjawab bersamaan hingga membuat Sang dokter kebingungan. dokter tersebut tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Galen dan juga Ginga. bagaimana bisa seorang perempuan yang masih bersuami memiliki calon suami?


"maaf, ini maksudnya bagaimana"


"saya kakaknya dok, katakan saja bagaimana keadaannya"


Wajah Sang dokter yang kebingungan berubah menunduk dan menarik nafas dalam. "maaf Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. tapi nyawa pasien tidak bisa kami selamatkan. peluru yang mengenainya menembus hingga merusak jantungnya pak"


"dokter, kau berbohongkan? bundaku pasti akan baik-baik saja!" Racau Nolan sembari menarik baju Sang dokter


Sementara itu Adrian, Galen dan juga Ginga justru terdiam. mereka tidak percaya jika saat ini wanita yang mereka cintai meninggalkan mereka dari dunia ini.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2