
"bunda, ada apa sama paman suaminya tante intan?" ucap nolan yang baru keluar setelah mendengar seseorang terjatuh.
"emm...." aileen mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan,nolan. pasalnya nolan adalah anak yang cerdas, tidak mudah untuk aileen menutupi sesuatu dari anaknya.
"begini sayang, tadi om adrian sedang berjalan di depan rumah kita. dan ia ingin menyapa, namun sepertinya om adrian sedang sakit makanya ia jatuh pingsan sayang." ucap aileen menjelaskan, meskipun itu hanya karanganannya.
saat itu benar dugaannya, nolan sempat mengamati adrian dengan intens. lalu pandangannya beralih menatap aileen.
"apa kau tidak kasihan dengan om ini,bunda? kenapa kau biarkan dia pingsan disini dan tidak membawanya kedalam? bukankah sama saja dia itu temanmu jika dia adalah suami dari tante intan,bunda?!"
mendengar ucapan,nolan. aileen mencelos tidak menyangka itu yang keluar dari anak seusianya.
"emh.. ini bunda juga akan membawanya masuk sayang" aileen mengusap lembut pipi nolan. dan kini ia beralih menatap satpam yang saat itu juga berada di tempat itu.
"mang tolong bawa adrian kedalam ya.." baik non..
▪▪▪▪
"darimana kau tau nolan adalah anak aileen, raven?" itulah yang sejak tadi ada di qenak galen. dan kini ia mengutarakannya setelah semalam menahan untuk tidak menanyakan hal itu.
hal itupun sontak membuat raven menoleh ke arah galen yang masih berdiri di tangga paling bawah. sedangkan raven tengah menyantap sarapanya.
"oh itu, aku tidak sengaja bertemu dengan mereka di sebuah restoran. dan akupun sama terkejutnya denganmu.."
raven pun bercerita tenta pertemuannya sembari membayangkan raut wajah aileen saat itu yang seprtinya tidak suka bertemu dengannya.
__ADS_1
"tapi kenapa kau tidak mengatakannya, raven. kamu tau kan aku mencarinya sejak saat itu" tambah galen
"aku ragu.." raven lalu menjedan ucapannya sejenak memperhatilan mimik muka yang di tunjukkan oleh galen. "aku tidak yakin kau bisa menerima bahwa aileen sekarang sudah mempunyak kehidupan baru tanpa melibatkan kita kak,galen."
"lalu, apa kau mengenal suaminya?"
pertanyaan galen hanya dibalas dengan gelengan kepala tanda raven tidak mengenal seseorang ayahnya nolan.
dan disisi lain..
kini aileen mengompres
adrian untuk menurunkan suhu badannya yang kini 38°C . semburat kecemasan kini tertera jelas di wajah aileen.
"iya sayang, ada apa?"
"bunda aku harus belajar dengan guru privatku, jadi bunda aku tinggal di atas dulu ya".
"iya sayang.. yang pinter ya, jangan bikin bu guru nya susah"
"siap bund..."
ya, aileen memang memilih untuk menempuh pendidikan homeschooling untuk nolan. bukan karena apa-apa, aileen hanya tidak ingin seseorang terlalu banyak menanyakan keberadaan ayah nolan yang sering mengusik pikiran nolan hingga sakit.
nolan memang memiliki seorang ayah, namun karena keesibukannya, ayah nolan tidal bisa sering berada di sisi nolan sehingga membuat nolan merasakan rindu yang sering tidak terkontrol sehingga mempengaruhi kesehatannya.
__ADS_1
lamunan aileen pun buyar setelah seseorang meraih lengannya. seketika saat itu aileen menoleh ke arah adeian yang saat itu sudah sadar, dan kini tengah menatap lekat aileen.
"syukurlah kau sudah sadar tuan adrian, labih baik sekarang anda pergi ke rumah sakit"
"aku tidak ingin ke rumah sakit aileen, aku hanya ingin kau memaafkanku atas apa yang pernah aku lakukan tempo hari." adeian menatap lekat manik mata aileen yang menatapnya tegas.
aileen memang berubah menjadi wanita yang mandiri dan lebih kuat sejak ia merasa di oermainkan oleh orang9orang yang ia percayai.
"jangan bertindak seperti ini tuan adrian. atau kau mau aku menelfon intan untuk menjemputmu?"
"baiklah, aku akan pergi aileen..."
ucapammn adrian pun berhasil membuat aileen menarik sudut bibirnya. "itu pasti yang akan kau katakan. karna aku tau, dari dulu hanya propertilah yang kau utamakan. seperti apa yang kau lakukan dengan galen dulu"
entah kenapa aileen mengucapkan hal itu, padahal ia sendiri yang melarang orang-orang supaya tidak membahas masalalunya. namu kali ini bahkan dia sendiri yang memulainya.
"apa yang di lakukan oleh adrian dan galen?" kalimat itu keluar dari seseorang yang kini berada di ambang pintu ruang tamu.
.
.
.bersambung
.
__ADS_1