
Raven masih belum menghentikan ucapannya. karena rasa khawatirnya terhadap Nolan, Raven lupa jika ucapannya akan menyakiti perasaan Aileen.
"apa kau tau Aileen kau membahayakan hidup Nolan. jika saja kak Galen tidak datang tepat waktu, mungkin saja-"
Aileen mengangkat tangannya untuk menghentikan Raven berbicara. mata yang merah dengan tatapan tegas membuat semuanya terdiam.
"apa kau tidak salah mengatakan hal itu kak Raven? apa kau ingat siapa yang tidak ada untuk Nolan sejak dia lahir? aku tau tadi aku sangat kalap, tapi aku juga tau bahwa tuan Galen melakukan hal itu karena merasa bersalah."
"dan jangan sekali-kali meragukan rasa sayangku terhadap Nolan. karna Nolan adalah anakku hanya anakku!" Aileen menekankan ucapannya. dan disaat itulah Raven sadar akan yang ia katakan menyakiti hati Aileen.
'aku.. apa yang aku lakukan. rasa sakit Aileen memanglah sangat besar. kenapa aku mengatakan hal seperti itu tadi? ' Raven begitu menyesalinya.
"tenangkan dirimu Aileen. yang perlu kita lakukan saat ini adalah berdoa untuk Nolan. semoga saja tidak terjadi Apa-apa setelah tranfusinya. semoga Nolan segera sadar. "
ucapan Aileen bagai sebuah tamparan diwajah Raven. ia teringat apa alasan Aileen yang pergi dari rumah. dimana saat itu kakaknya dan juga Adrianlah yang bersalah sehingga wajar jika Aileen tidak ingin Galen mengakui anaknya sekarang.
"keluarga pasien, kalian bisa menemui pasien. dia baru saja sadar."
ketika dokter memberitahu, Aileen dan Ginga segera masuk untuk menemui Nolan dan disusul oleh Galen bersama Raven.
"Bunda.. " lirih Nolan sembari melihat kedatangan Aileen.
"Nolan, maafkan bunda. bunda sudah membuatmu seperti sayang. bunda tidak bisa menjagamu dengan baik"
Nolan lalu menggerakkan jari-jari mungilnya mengusap air mata yang menganak sungai diwajah Aileen.
"aku seperti tidak mengenalmu nona, apa kau tau? bundaku itu wanita kuat. dia tidak akan menangis seperti ini! "
seketika Aileen mengulas senyum meskipun air matanya terus mengalir.
"ayah, tolong buat bunda menghentikan air matanya. karna dia sangat jelek jika menangis seperti itu."
"iya Nolan, nanti ayah akan mencubit bundamu biar dia berhenti menangis okey? "
"hei ayah.. jangan jadi seperti anak kecil. dewasalah sedikit. untuk membuat bundaku berhenti menangis, kau harus menyenangkan kan? "
kini Aileen dan Ginga saling menatap dan terkekeh dengan ucapan Nolan. bukannya memberi saran, tapi ia hanya menginginkan ayahnya melakukan sesuatu untuknya sendiri.
__ADS_1
melihat keharmonisan antara Aileen, Ginga dan Nolan membuat hatinya terasa teriris-iris. Galen perlahan memutar badannya, dan di ikuti oleh Raven bergegas untuk keluar ruangan.
perlahan Nolan mengedarkan pandangannya menelisik tiap sudut ruangan. dimana ia menemukan sosok yang sempat membuatnya syok karena sesuatu yang belum ia tau kebenarannya.
"paman Galen, paman Raven. kalian ada disini? "
Galen lalu berbalik dan tersenyum tipis melihat Nolan yang memanggilnya.
"Hai Nolan, paman tadi mendengarmu masuk rumah sakit. jadi paman kesini mau menjengukmu"
"paman lihatkan, ayah dan bundaku slalu ada bersamaku. jadi aku tidak akan kenapa-kenapa! "
"iya Nolan, dan paman bangga karena kamu sudah menjadi anak yang kuat" ucap Galen tersenyum getir.
Ia sangat senang Nolan bisa selamat, tetapi disisi lain Galen juga bersedih karena anaknya sendiri menyebut orang lain sebagai ayahnya. dan hal itu dirasakan oleh Raven. ia merasa tidak tega dengan kakaknyakakaknya yang harus menyaksikan keharmonisan dari anak dan seseorang yang ia cintai bersama orang lain.
"emm Nolan.. paman Raven dan paman Galen pulang dulu ya, besok kami kesini lagi buat jemput Nolan. Nolan mau dibawain apa besok?" ucap Raven untuk memecah keheningan.
_
"argghhh.. " Adrian memukul kemudinya karena kesal. ia tidak menyangka jika Intan akan mengetahui tentang masalalu nya bersama dengan Aileen.
"aku semakin kagum denganmu Aileen. biasanya seorang wanita akan memilih jalan pintas untuk mendapat uang yang banyak. tapi kamu, kamu berusaha dari nol hingga usahamu menjadi sangat besar seperti saat ini Aileen"
saat itu Adrian berhenti di sebuah kafe, seperti biasa ia mendatangi salah satu sahabatnya pemilik dari kafe tersebut. kemudian Adrian memesan beberapa makanan ringan sembari menikmati lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi kafe.
"Adrian.. " sapa sang pemilik kafe.
"Hai story, apa kabarmu? "
"aku baik, dan aku yakin saat ini kau sedang ada masalahkan? "
"kau selalu bisa menegakkan Stev" balas Adrian sembari terkekeh.
"ada apa? apa ini masalah Intan? "
"itu salah satunya"
__ADS_1
Steve menautkan kedua alisnya, ia merasa bingung. pasalnya Adrian selalu mengeluhkan tentang Intan. namun kali ini justru ada masalah lain? itu benar-benar pertanyaan besar bagi Stevy.
"lalu apa yang lebih membuatmu pusing dari pada anak manja itu Adrian? "
"kau ingat dengan seseorang yang aku cintai tapi aku jadikan dia pion untuk perusahaanku dulu Stevy? "
Stevy berusaha mengingat tentang klu yang diberikan oleh Adrian, seketika wajah cantik yang pernah ia lihat diponsel Adrian muncul dipikirannya.
"emm apa yang kamu maksud itu adalah Aileen? ah tapi itu tidak mungkin kan Adrian? Aileen sudah lama sekali tidak muncul, mana mungkin ku datang kemari hanya karna merindukannya! "
"apa yang kamu katakan benar Stevy, Aileen kembali muncul didalam kehidupanku Stevy. dan dia adalah sahabat dari Intan"
keduanya begitu serius tanpa menyadari disana Adrian di ikuti oleh istrinya. Intan sengaja pergi lebih dulu hanya untuk mengikuti Adrian. dan benar saja, Adrian akan membahas tentang apa yang ia duga.
'jadi aku orang yang membuatmu pusing Adrian?' Intan menyeka airmatanya yang ada dipelupuk matanya.
'aku akan tetap diam disini dan mendengar apa saja yang kamu sembunyikan dari aku Adrian. dan satu lagi yang membuatku sedih Adrian, ternyata selama ini aku bukan sumber kebahagiaanmu. bahkan temanmu mengatakan kalau aku selalu membuatmu pusing Adrian? '
"tunggu Adrian kau belum mengatakan bagaimana bisa Aileen muncul kembali setelah lima tahun dia menghilang? "
"dia muncul sebagai tunangan dari pengusaha terkenal, yaitu Ginga."
"apa, Ginga? "
Stevy begitu terkejut mendengar tunangan Aileen adalah Ginga. dan keterkejutan Stevy justru membuat Adrian memikirkan hal yang lainnya.
"ada apa Stevy? apa kau mengenalnya? "
"aku sangat membencinya Adrian, dari dulu aku ingin menghancurkannya sejak dulu. hanya saja aku belum bisa karena aku tidak tau caranya apa yang membuatnya lemah"
"tapi Stevy, apa yang membuatmu begitu membencinya?"
"aku belum bisa mengatakannya Adrian! "
Kini Adrian terdiam setelah apa yang diucapkan oleh Stevy. ia begitu penasaran kenapa Stevy begitu membenci Ginga.
.
__ADS_1
.bersambung