
Aileen tersadar dari pingsannya ia melihat sekeliling ruangan yang begitu asing baginya, bahkan ruangan itu terlihat sangat kotor.
'aku ada dimana, kenapa tanganku di ikat?' aileen berusaha melepas ikatannya, namun penculiknya sudah datang terlebih dulu sebelum ia berhasil.
aileen memilih untuk berpura-pura pingsan. namun kedua pria itu mengguncang tubuh aileen sehingga aileen terpaksa membuka kedua matanya.
"bagus, akhirnya bangun juga. cepat tulis nomor keluarga lu cepet"
"enggak, aku gak akan menulisnya. aku gak akam membuat mereka repot hanya karna kalian!" aileen berusaha memberanikan diri untuk melawan kedua pria itu
plak..plak..
pria itu terus menyiksa aileen hingga membuat wajah aileen terluka dengan bekas tamparan yang mereka lakukan.
"lakukan saja semau kalian, jika aku tiada kalian tidak akan mendapatkan apapun!" aileen sudah pasrah jika ia harus tiada.
'papa mama kak galen kak raven, maaf aileen belum bisa membalas kebaikan kalian. jika hari ini memang hari terakhirku, aku berjanji si kwhidupanku yang akan datang aku akan membahagiakan kalian.' airmata yang mengalir membasahi pipi aileen yang terluka.
selain wajah badannya pun di penuhi luka pukulan dari pria itu.
"kalo lu gak kasih nomor ponsel keluarga lu, lebih baik kita bersenang-senang saja."
"jangan berani-beraninya kalian menyentuhku!" aileen berontak namun pria otu kembali memukul aileen hingga pingsan kembali.
pria itu mulai melepas tali yang mengikat aileen saat salah satu pria ingin membuka baju aileen tiba-tiba bugh..bugh..
__ADS_1
adrian san galen menghajar kedua pria itu. selang beberapa menit polisi datang menangkap kedua orang yang menculik aileen.
"aileen bangun.."ucap galen yang sangat cemas dengan keadaan aileen. galen melihat luka yang ada di badan aileen dan membuatnya meradang.
"aku harus membalas orang-orang itu" galen hendak menyusul ingin menghajar kembali orang tersebut, namun adrulian melarangnya.
"jangan terbawa emosi galen, lebih baik kita bawa aileen ke rumah sakit"
Galen dan Adrian pun membawa aileen ke rumaj sakit, namun di pertengahan jalan aileen tersadar. "kak galen ayo kita ke gedung, kak galen hari ini harus menikah dengan ersya kan?"
mendngar ucapan aileen galen menatap nanar aileen yang tengah terbaring lemah di pangkuannya.
"kenapa kamu masih mikirin itu ai, yang terpenying adalah merawat luka kamu."
"tapi kak aku gak mau bikin pernikahan kak galen batal!"
"tolong antar aku pulang ke rumah tuan adrian"
"apa yang kamu katakan ai kita harus ke rumah sakit" sahut galen
"please kak aku mau pulang"
tanpa ada pilihan akhirnya adrian membawa galen san aileen pulang ke rumah mereka.
▪▪▪▪▪
__ADS_1
Raven bolak balik dan terus menatap pintu gedung berharap kakanya segera muncul, namun harapannya hanya sekedar harapan.
"raven, dimana galen? dari tadi aku menelfonnya dia tidak mengangkatnya."
"aku juga menunggunya ersya, tadi kak galen bilang dia mau menjenguk aileen terlebih dulu sebelum ia menikah."
"hiihh.. ini semua pasti gara-gara aileen"
"aileen itu koma ersya, jangan kamu salahkan aileen!"
"berbicara denganmu itu sama saja" ersya mendengus kesal dan meninggalkan raven sendirian.
sudah lama mereka menunggu kedatangan galen, namun galen tidak muncul hingga petang.
akhirnya semua tamu pergi tanpa menunggu prnikahan eraya terlaksana. ersya menangis bombai dan bersumpah pada dirinya sendiri, jika memang penyebab pernikahannya batal adalah aileen, dia akan membuat pelajaran untuk aileen.
saat ersya tengah duduk sendiri raven datang menemui dengan rasa rikuh, namun dalam hati terdalam raven sangat senang kakaknya tidak jadi menikahi ersya.
"sorry ersya aku harus pergi untuk mencari kak galen, aku takut sesuatu terjadi padanya"
tanpa sepatah katapun ersya tidak membalas ucapan raven. dan hal itu tidak raven peesulikan dan langsung pergi meninggalkan eraya sendiri sengan hati yang menggebu menelan kekecewaan.
.
.
__ADS_1
.bersambung
.