
Raven masuk ke ruang kepala sekolah. Disana ia di ajak bicara oleh kepala sekolah perihal prestasi Nolan yang bukannya membaik justru semakin menurun.
Nolan memang sedikit memberontak, namun hasil ulangannya selalu bagus, namun akhir-akhir ini prestasinya mulai turun dan membuat kepala sekolah menyayangkan itu. Terlebih beberapa bulan terakhir, Nolan sering sekali bolos dan sering membuat gaduh karena berseteru dengan siswa lain sekolah yang akhirnya berimbas kesekolahanya.
"Baik Pak, saya sebagai walinya akan semakin memperhatikannya. Dan saya akan berusaha membuat Nolan lebih giat belajar dan disiplin."
Usai berbicara dengan pihak sekolah, Raven keluar dan ingin menemui Nolan. Namun sekali lagi ia melihat seorang siswi yang sempat bertemu dengannya di depan sekolahan. Ya, siswi tersebut adalah Mandalika. Ternyata gadis itu satu kelas dengan Nolan, itulah yang pertama kali Raven pikirkan didalam benaknya.
Ada satu pemandangan yang membuatnya tidak langsung masuk kedalam kelas Nolan. Saat itu seorang siswi dengan sengaja menjulurkan kakinya hingga membuat siswi yang ia temui terjatuh. Didalam hatinya, Raven ingin menasehati siswi yang satunya. namun Raven mengurungkan niatnya karena Nolan berdiri disebelah siswi yang menurut Raven tidak mempunyai sopan santun sama sekali.
Dan yang membuat Raven terkejut adalah ketika Nolan justru membela seorang siswi yang bersalah, Nolan bahkan ikut mengatai dan menyebut siswi yang satunya tersebut dengan Sirkuit. Raven sendiri tidak tau alasannya kenapa keponakannya memanggil siswi tersebut dengan panggilan sirkuit. Hingga akhirnya Arlan menyebut siswi tersebut dengan nama Mandalika.
'Jadi namanya Mandalika? Dan hal itu yang membuat Nolan memanggilnya dengan sebutan sirkuit'
Brakkk
Suara benturan meja dengan sesuatu berhasil membuat lamunan Raven buyar. Bahkan saat itu Raven justru menyunggingkan senyumannya. Dengan berani Mandalika memiting salah satu teman Nolan dan badannya ia benturkan dengan meja hingga membungkuk.
"Kalian gak berhak melakukan tindakan kayak gini sama gue. Gue tau gue anak baru, tapi bukan berarti gue takut sama kalian! Dan ya, kalian mungkin berhasil bikin gue jadi babunya Scorpions, tapi kalian gak bisa bertindak lebih lagi di sini!"
"Okey lo nantangin kita. Kalo gitu lusa kita tanding skate board, yang kalah harus jadi babu"
Siapa siswi itu, ada hubungan apa dengan Nolan sehingga ia berani menempel seperti perangko dengan Nolan. Lagi-lagi Raven bertanya didalam hatinya.
"Kalian nggak bisa curang sama gue. Kalian tau gue nggak bisa main skate bLooard, mana mungkin gue bisa menang."
"Bilang aja lo takut kan?"
"Oke, kasih gue waktu satu minggu. Jadi minggu depan kita tanding. Dan siap-siap aja kalian bakal kalah"
" jangan gegabah Manda"
"Gak papa Syahwa,. Gue pasti bisa"
melihat kejadian tersebut membuat Raven mengurungkan niatnya untuk menemui Nolan dan memilih untuk kembali pulang.
Raven terus memikirkan Nolan di sepanjang jalan hingga ia tengah sampai di rumahnya. Arumi yang melihat kegelisahan itu di wajah suaminya pun merasa kasihan dengan Raven.
Tidak tahan melihat suaminya yang terus melamun, Arumi pun mendekati suaminya dengan secangkir teh di tangannya. Mereka mulai berbincang hingga suatu ketika Arumi bertanya perihal kegelisahan yang ada di wajah Raven semenjak pulang dari sekolahan Nolan.
__ADS_1
Nolan menatap kedua netra sang istri. Ditariknya nafas panjang, dan kini Raven mulai mengatakan tentang pertemuannya dengan seorang siswi yang menurutnya bisa membuat Raven berubah. Hal itu pun di dengarkan dengan antusiasme yang tinggi oleh Arumi.
Arumi pun menanyakan, apa alasan suaminya sehingga berpendapat seperti itu. Raven punentakan jika sepertinya gadis itu baik dan sedikit pemberontak, hingga berani melawan Nolan seorang ke gua geng Eagles yang sudah terkenal.
"Eum sayang, aku harus pergi menemui kak Galen"
"Aku juga akan kembali ke rumah sakit Raven, ada pasien yang harus operasi hari ini"
Raven mengecup puncak kepala Arumi dengan lembut. Dan setelah itu seperti yang dia bicarakan, Raven bergegas untuk menemui Galen yang sibuk di kantor dengan pekerjaan-pekerjaannya.
Perjalanan menuju kantor cukup lama. Ya beginilah perkotaan, meskipun jarak yang tidak terlalu jauh akan memakan waktu cukup lama, karena kemacetan yang tidak terelakan.
Setelah berhasil melewati jalur kemacetan, Raven melajukan kendaraanya dengan cepat. Sesampainya di sana Raven melihat Galen yang berbincang dengan Ginga. Entah apa yang mereka bahas, yang jelas keduanya terlihat serius.
"Siang kak" Sapanya, membuat Ginga dan Galen menoleh dan mencari sumber suara. Setelah mengetahui itu Raven, keduanya segera mendekat dan langsung menanyakan tentang perihal apa yang di bahas oleh kepala sekolah.
Seperti yang di sampaikan oleh sang jepala sekolah, Raven pun memberitahu Galen dan Ginga dengan apa yang dilakukan oleh Nolan. Dan hal itu membuat keduanya menarik nafas dalam dan bergidik.
"Sepertinya apa yang kita bicarakan tadi hrus kita lakukan"
Ucapan itu sedikit menggelitik rasa penasaran Raven. Hal apa yang Galen maksud. Akhirnya karena penasaran, Raven oh menanyakan hal tersebut.
Nolan akan sangat benci, kalian akan membuat Nolan semakin memberontak. itulah yang yang di sampaikan oleh Raven kepada keduanya hingga membuat Galen dan Ginga terlihat berpikir tentang keputusan mereka.
"Aku punya solusi untuk itu, jadi kalian tidak perlu untuk mengirim Nolan ke asrama"
"Apa yang kamu pikirkan Raven, tidak ada satu orangpun yang bisa menanganinya" Galen begitu yakin dengan ucapannya.
"Kalau kalian mau tau, minggu depan kalian luangkan waktu dan ikut aku. Kita lihat apa yang kita butuhkan" Raven tersenyum smirk.
_
Sepulang sekolah, seperti biasa. Mandalika di jemput oleh Vero untuk menjadi pelayan bagi geng Scorpions. Disana Rexy sudah menunggu dengan tangan bersedekah.
Semuanya bersiap untuk berlatih skate board. Dan seperti yang sudah dilakukan eh Mandalika setiap menemani mereka, Mandalika bertugas untuk membuatkan mereka minuman dan camilan.
Penat? Tentu saja. Itulah yang dirasakan eh Mandalika. Tetapi ada baiknya dia dihukum sebagai pembantu geng Scorpions. Mandalika bisa mengamati gerakan mereka dan diam-diam mempelajarinya untuk menghadapi Mandalika nantinya.
"Astaga aku lupa" Mandalika mengedarkan pandangannya, namun ia tidak menemukan seseorang yang sudah ia cari.
__ADS_1
Akhirnya Mandalika mencari kesulitan lain, dan akhirnya ia menemukan seseorang yang tengah berbaring di sofa. Ya, orang itu adalah Oky yang tengah bermain gawainya.
"Ini buat tangan lo"
Tangan Oky perlahan terulur untuk meraih salep yang diberikan eh Mandalika untuknya. Ia letakkan gawainya dan melihat salep yang diberikan oleh Mandalika.
Matanya menelisik Mandalika dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. "Napak, berarti lu bukan setan"
"Kenapa? Kenapa lo bisa bilang kek gitu? "
"Karna tumben lo baik sama gue"
"Itu buat tangan lo, salep itu bisa mengurangi rasa sakitnya"
"Ya udah ni"
Dahi Mandalika berkerut indah. Ia tidak paham dengan Oky yang justru memberi salep itu kembali kepada dirinya.
"Lo nggak mau? "
"Olesin"
"Ogah"
"Ya udah berarti lo utang budi sama gue"
Karena Mandalika tidak ingin mempunyai utang budi kepada siapapun, akhirnya Mandalika yang mengoleskannya ke lengan Oky yang terlihat memar kebiruan.
"Ssshhh"
Oky mendesis karena lengannya terasa sangat sakit sehingga membuat Mandalika ikut meringis.
Usai mengoleskan salep dari lengan Oky, ia memutuskan untuk kembali keluar dan melihat proses latihan Scorpions, Vero menariknya dan mengajak Mandalika berbicara di sudut yang tidak terlihat. Karena kebetulan sudut itu arah toilet yang jarang sekali di datangi eh anggota Scorpions.
Vero menanyakan tentang kedekatan antara Mandalika dan Oky. Kenapa Mandalika bisa seperhatian itu? Dan hal itu membuat Vero tidak suka da melarang Mandalika menjauhi Oky yang notabene nya adalah seorang playboy. Ia tidak ingin Mandalika juga menjadi korbannya.
"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Oky, Ver. Percaya sama gue!" Mandalika mengguncang lengan Vero.
"Terus apa urusannya sama Vero? " Tanya seseorang yang baru datang dan membuat Mandalika dan Vero terperanjat kaget.
__ADS_1
. Bersambung