Hear My Heart

Hear My Heart
Part 45


__ADS_3

Galen menangkup wajah Aileen yang terlihat cemas. Galen memang selalu tau jika suasana hati Aileen tidak baik-baik saja. sejak mereka kecil meskipun Aileen sangat dekat dengan Raven, namun Galen selalu tau kapan Aileen membutuhkannya.


"ada apa Ai, apa kamu memikirkan sesuatu?"


Pandangan mata Galen tidak bisa berbohong bahwa ia masih sangat mengkhawatirkan Aileen. Galen memang sangat tau ketika Aileen merasa gelisah.


sesaat Aileen tersadar jika seseorang yang saat ini bersamanya adalah orang yang sangat ia hindari.


"tolong anda pergilah tuan Galen, aku tidak ingin orang lain akan salah paham jika melihat kta berdua seperti saat ini"


"aku tidak perduli Aileen, aku sangat mencemaskammu. dan mulai sekarang aku akan menebus kesalahanku. walaupun itu tidak cukup karena kau mengurus Nolan sendirian tanpa aku Ai"


"stop, jangan bicarakan hal itu tuan Galen. karena aku merawat Nolan dengan ayahnya, yaitu Ginga. aku tidak pernah sendirian selama ini meskipun orang-orang yang selama ini aku percayai adalah orang-orang yang hanya mempermainkan kehidupanku. dan Ginga tidak pernah seperti itu!" Aileen menatap Galen tegas.


dan tanpa mereka tau bahwa saat ini seseorang mendengar pembicaraan mereka di balik pintu kamar. ya, siapa lagi jika bukan Ginga.


Awalnya Ginga cemas dengan kehadiran Galen yang ingin merebut Aileen dengan Nolan. namun setelah ia mendengar jawaban Aileen katika Galen mendekatinya membuat perasaannya Lega.


ceklek


pintu kamar terbuka dan membuat Aileen berhenti menjawab Galen yang masih berdiri disebelah ranjangnya.


"Aileen, kau sudah sadar? ini bagus, sekarang kau minum obat"


Aileen mengangguki ucapan Ginga. dan saat itu Ginga meraih air putih yang ada diatas nakas untuk Aileen meminum obat yang sudah ia belikan.


"Aileen, akhirnya kamu bangun" ucap Intan yang baru saja masuk kedalam kamar bersama dengan Adrian


saat itu selain Intan yang mengkhawatirkannya, Adrian pun sama. ia tidak pernah mencintai wanita lain selain Aileen. hanya saja keputusannya saat itu bersama Galen memang salah.


"Intan, apa kau baik-baik saja?" sorot kecemasan terlihat wajah dari mata Aileen.


melihat hal itu Ginga mengenryitkan dahinya. ia bingung kenapa Aileen mengatakan hal itu. dan ia juga ingat dengan mata sembab Intan ketika ia melihat Intan baru keluar saat meminta Aileen untuk dibawa kekamarnya.


"aku baik-baik saja Aileen. dan apa kau sudah membaik? " Aileen mengangguki ucapan Intan.


"Intan, aku harus pulang. apa kau tidak apa jika aku tinggal pulang? "

__ADS_1


"tentu saja Aileen, ada aku yang akan menjaganya" sahut Adrian yang ikut menimpali.


Aileen menatap Adrian dengan tatapan yang sulit di artikan. saat itu Adrian juga sadar dengan tatapan Aileen yang begitu tidak biasa.


"baiklah aku harus pergi. dan untukmu Adrian, kita akan bicara lain waktu" ucap Galen.


disepanjang perjalanannya, Galen memikirkan perkataan Aileen yang mengatakan bahwa Ginga adalah ayah Nolan. jujur saja hal itu membuat perih didalam sanubarinya.


"aku memang salah karna aku tidak tau saat itu kamu hamil Aileen. dan aku justru mengutamakan egoku di hadapan Adrian sehingga aku tidak mengakui jika aku memang sangat mencintaimu saat itu Aileen."


"bodoh" Galen memukul kemudinya beberapa kali karena kesal dengan dirinya sendiri. Galrn menambah kecepatan mobilnya. ia segera pergi ke kantornya untuk menemui Raven yang saat ini sudah menunggunya disana.


"kak Galen, ada apa? kenapa kau terlihat sangat kesal? "


Galen duduk kursi miliknya dan menangkup wajahnya. ia kemudian meraup wajahnya kasar. "aku sangat kesal dengan diriku sendiri Raven. kenapa aku dulu begitu bodoh menyetujui apa yang diminta Adrian dan tidak mengakui apa yang sudah akau lakukan terhadap Aileen. hingga aku sendiri tidak tau jika anakku saat itu mulai tumbuh didalam rahimnya. dan sekarang anakku sendiri menganggap orang lain sebagai ayahnya"


"ya kak Galen, kau memang salah. tapi waktu tidak bisa diputar. dan yang saat ini harus kamu lakukan adalah memperbaikinya"


"bagaimana caranya Raven. bahkan Aileen bersikeras memberitahu Nolan bahwa ayahnya adalah Ginga, bukan aku"


Raven membuang nafas kasar. "kita lakukan sesuatu tapi.. "


"mungkin ini akan sedikit menyakiti Nolan kak. tapi kalau memang kakak ingin mendapatkan pengakuan dari Nolan kak Galen harus melakukan ini"


Galen bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah adiknya. ia lalu menatap dalam Raven yang saat itu tengah memikirkan sesuatu.


"apa yang kamu pikirkan Raven? "


"aku berpikir kita harus melakukan tes DNA. dengan begitu Nolan akan tau jika kau ayahnya kak, tetapi kemungkinan terburuknya dia akan terluka. terluka karena tau kau dulu tidak merawat ibunya dengan baik kak"


Galen berada diambang dilema. ia merasa perlu melakukan apa yang disarankan oleh Raven. namun ia juga mengingat perasaan putranya yang akan terluka nantinya.


"aku tidak akan melakukan itu Raven. aku tidak ingin menambah luka di hati Aileen. aku akan mendapat pengakuan tapi dengan cara lain Raven"


"baiklah jika itu keputusan kak Galen, aku hanya bisa mendukungmu"


"emm kak Galen, apa kau tadi jadi menemui tuan Adrian? "

__ADS_1


Galen mengangguki ucapan Raven.


"lalu, apa memang dia pelakunya? "


"entahlah Raven, aku belum sempat menanyakannya. karna saat itu terjadi insiden di apartemen Adrian! "


Raven menyipitkan matanya. ia tidak mengerti insiden apa yang dimaksud oleh Galen yang terjadi sepagi itu.


"insiden apa yang kak Galen maksud? "


"apa kau tau Raven, saat aku datang di apartemen Adrian, Aileen lah yang membuka pintunya."


"apa? bagaimana bisa dia berada disitu? "


"aku tidak tau apa alasannya, yang jelas saat itu Adrian tidak ada disana. dan ketika aku tengah ingin mengajak Aileen berbicara, saat itu Ginga datang. dan akhirnya karena salah paham kami berkelahi hingga pukulan kami mengenai Aileen hingga pingsan."


"apa? " Raven begitu terkejut ketika mengetahui Aileen terkena pukulan dari Galen dan juga Ginga yang notabenenya adlaah orang-orang yang mencintai Aileen.


"lalu bagaiaman keadaan Aileen kak, apa dia terluka parah? "


"dia sudah sadar, dan kami tadi sedikit berdebat masalah Nolan Raven"


sementara itu saat ini Ginga yang bersama dengan Aileen menuju rumahnya sempat saling diam hingga Ginga yang membuka perbincangan


"Aileen, maaf aku tadi.. "


"tidak perlu dibahas Ginga. aku akan mengatakan alasannya kenapa aku ada disana. " Aileen menatap Ginga yang tengah mengemudi.


"sbenarnya aku kesana karena aku mengkhawatirkan Intan yang menelfonku dalam keadaan menangis. dia bilang Adrian pergi begitu saja. dan karena tangisannya semakin terisak aku memutuskan untuk pergi kesana. dan saat aku ingin berpamitan denganmu, kamu masih terlelap dan aku tidak bisa membangunkanmu Ginga. maaf aku membuatmu salah paham"


sontak Ginga mengusap punggung tangan Aileen dengan lembut. "maaf karena aku begitu takut orang lain merebutmu dariku" ucap Ginga sembari menatap Lekat Aileen.


brak


shiiit


Ginga memberhentikan mobilnya. "sepertinya aku menabrak sesuatu Aileen" Ginga menabrak sesuatu karena terlalu lama melihat ke arah Aileen dan tidak memperhatikan jalanan.

__ADS_1


.


. bersambung


__ADS_2