Hear My Heart

Hear My Heart
Part 37


__ADS_3

Tok tok


pintu ruang tamu segera dibuka oleh Galen, karna ka tau Adrian malam ini datang kerumahnya. Entah dengan maksud dan tujuan apa Adrian datang selarut ini, namun Galen tidak berpikir terlalu jauh.


klek


bug


Galen tersungkur karena ketika membukakan pintu, ia langsung disambut oleh tinjuan yang begitu keras mendarap tepat di sudut bibirnya dari Adrian.


"hei ada apa ini Adrian.."


Bug


Bug


Bug


Adrian terus menghujani Galen dengan pukulannya. Hingg Raven lah yang berhasil menghentikan Adrian untuk tidak memukuli Galen.


"ada apa ini sebenernya, kenapa pak Adrian memukuli kak Raven?"


"jangan hentikan aku Raven, aku harus memeberi ganjaran untuk orang sepertinya" Adrian terlihat begitu marah dan menunjuk Galen dengan tatapan yang setajam pedang.


"apa yang kau maksud Adrian?" ucap Galen sembari mengusap darah disudut bibirnya.


"apa maksudku kau bilang Galen? Kau sudah mengkhianatiku saat aku mengizinkan Aileen menjadi tunangan pura-pura mu!"

__ADS_1


Mendengar ucapan Adrian, Galen bersamaan dengan Raven mengerutkan dahinya.


"kau sudah menrenggut apa yang harusnya tidak menjadi kewajibanmu, karna saat itu Aileen sudah berpisah denganmu dan menjadi tunanganku Galen"


"darimana kau tau itu Adrian? Dan soal itu, itu aku benar-benar-"


"benar-benar menginginkan calon istriku kan Galen? Kau ini benar-benar munafik. Kau bilang kau tidak tertarik dengannya, tapi kai justru melakukan hal itu!"


"ya, memang aku melakukannya dengan sadar. Karna aku memang sangat mencintainya dan aku menyesal melepas wanita seperti Aileen. Tapi semua itu sudah lama sekali Adrian."


"dan dengan biad*b kamu tidak mencari keberadaan Aileen yang saat itu mengandung anakmu Galen. Kau ini benar-benar tidak tau malu."


"jadi maksud pak Adrian saat itu Aileen mengandung anak kak Raven? Apa itu berarti Nolan adalah anak kak Raven?"


Saat itu Adrian hanya terdiam. 'kenapa aki malah kelepasan, bisa-bisa Galen mengejarnya lagi dan ingin merebut Aileen lagi'


"tapi aku sudah tanyakan hal itu kepada Aileen, dan bahkan tuam Ginga mengatakan Nolan adalah anaknya!" sergah Galen.


"apa? Baru tunangan? Itu berarti Nolan benar-benar anakmu kak" sahut Raven.


'jika itu benar aku sangat bahagia, dan aku masih berkesempatan untuk mendapatkanmu kembali bersama anak kita Aileen'


Galen begitu gembira mengetahui kenyataan bahwa memang Nolan adalah darah dagingnya. Tetapi saat itu Adrian terlihat sangat marah.


"emm pak Adrian, lebih baik bapak pulang. jangan bertengkar seperti ini! Karena itu sudah sangat lama dan nasi sudah menjadi bubur pak."


"baiklah, aku akan pergi. Tapi urusan kita belum selesai Galen!"

__ADS_1


Setelah kepergian Adrian Galen masih termangu mencerna semua kenyataan yang baru ia ketahui setelah sekian lama.


"kak, apa yang akan kak Galen lakukan?"


Galen tersentak ketika Raven menanyakan hal itu. Ia lalu beranjak dsri tempatnya dan duduk di sofa ruang tamu.


"aku akan berusaha memperbaiki semuanya Raven. Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa tuan Ginga mengatakan mereka sudah menikah lalu memiliki Nolan?" hal itupun saat ini berhasil membuat keduanya menjadi memikirkan sesuatu.


sementara ditempat lain, saat ini Aileen begitu terkejut mendapati Ginga yang berada dikamarmya. Pasalnya saat ini ia hanya mengenakan jubah mandi, meskipun Ginga biasa masuk ke kamarnya, namun baru kali ini Ginga melihatnya mengenakan jubah mandi sehingga membuat Aileen canggung.


Aileen lalu mendekat ke arah Ginga yang terus menatapnya. "Ginga, ada apa?"


"kenapa kau pergi sebelum aku mau pulang denganmu" suara Ginga parau, terdengar jelas saat ini dirinya tengah terpengaruh oleh minuman.


"emm Ginga, kita bicarakan itu nanti. tolong kau keluar dari kamarku, karna aku harus mengganti pakaian!"


Ginga tersenyum smirk, ia mulai melangkahkan kakinya ke arah Aileen. Ia menatap Aileen dengan tatapan yamg sulit diartikan. Tidak biasanya Ginga sedekat ini, karena memang Ginga samgat menghormati Aileen. Dia tidak akan melakukan apapun diluar batas meskipun mereka sudah lama tinggal bersama.


"Ginga.. Kau mabuk! Cepat keluar dari kamarku Ginga" tanpa perduli dengan ucapan Aileen, Ginga justru semakin mendekat.


"Ginga apa yang mau kau lakukan?" Aileen begitu takut, ia teringat ketika Galen melakukannya dengan cukup kasar saat itu dan yang penting saat itu Galen juga memaksa Aileen.


Brug


Aileen terjatuh di atas ranjangnya, iapun berusaha untuk duduk. Namun Ginga sudah berada diatasnya, dan mengekangnya dengan tatapan memburu.


"Ginga.. Jangan"

__ADS_1


.


.bersambung


__ADS_2