
"Sayang," panggil David menatap dingin ke arah Tari seolah mengatakan jangan berdebat dengan Ella.
"Iya-iya darling, aku tidak akan memperpanjang masalah ini karena aku menganggap gadis itu masih kecil," balas Tari tersenyum paksa menunjuk ke arah Ella.
"Kau ..."
"Tari, David ayo kita sarapan," ajak Margaret tersenyum di meja makan yang telah di siapkan khusus oleh pihak hotel untuk keluarga James.
"Baik ma," balas Tari tersenyum manis berjalan menujunya ke arah Margaret tanpa menoleh ke arah David yang menatap kesal ke arahnya.
"Kakak, Ella rindu sama kakak," ujar Ella bergelayut manja di lengan David.
"Kita sarapan dulu El," ajak David tersenyum kecil mengelus kepala Ella.
"Heum," balas Ella tersenyum manis berjalan menuju meja makan dengan tangan yang masih melekat di lengan Tari.
David menatap kesal ke arah Tari yang seolah acuh kepadanya. apa dia tidak cemburu batin David kesal. Akhirnya David memilih duduk di tengah-tengah antara Tari dan Ella.
"Sayang David, Tari setelah ini kalian tinggal di mension selama 3 bulan ya, setelah itu baru kalian pindah," ujar Nana di sela-sela sarapan.
"Tapi ma, David dan Tari ingin tinggal di rumah David yang di kota B," tolak David karena ia tak mungkin tinggal bersama orang tuanya karena takut sandiwaranya akan tercium.
"No Dav, mama tidak mau tahu pokoknya mama ingin kalian tinggal di mension, tanpa ada penolakan," tegas Margaret membuat David mendengus kesal.
Baiklah, cuma 3 bulan Dav batinnya.
"Baiklah ma," balas David pasrah.
"Ella juga akan tinggal di rumah aunty," timpal Ella yang sedari tadi asyik memandang wajah tampan David.
Tari yang mendengarnya pun tersenyum sinis, dirinya mengenal betul bagaimana karakter gadis seperti Ella. Bau bau pelakor batin Tari tersenyum licik.
"Terserah kamu saja El, asalkan kamu harus ingat bahwa kak David mu itu sudah memiliki istri," tegas Margaret tersenyum penuh arti menatap Ella.
"Tentu aunty," balas Ella membalas senyum Margaret.
Mereka semua pun melanjutkan sarapan mereka dengan lancar tanpa adanya pembicaraan lagi. Setelah selesai mereka langsung pulang dari hotel tersebut, David masuk kedalam mobilnya bersama Tari.
"Pak, saya minta gajinya dibayar di muka apa boleh," tanya Tari tersenyum manis bergelayut manja di lengan David.
"Tidak," balas David datar tanpa menoleh ke arah Tari yang cemberut.
__ADS_1
"Ish bapak, kok pelit banget sih ... pliss dong pak, saya mau dibayar di muka ...," rengek Tari menggoyangkan lengan David kencang.
"Iya-iya ... nanti aku kirim ke rekening mu," sentak David menatap tajam ke arah Tari.
"Ish bapak ganteng deh kalau marah-marah begitu, mukanya merah mirip angry bird," goda Tari mencolek dagu David tanpa takut akan tatapan elang suami kontraknya itu.
"Diam lah sebelum aku memakan mu di dalam mobil," ancam David menatap ke arah belahan dada Tari yang tampak menggoda.
"Hehe, jangan pak ... tubuh saya tulang semua, enggak enak kalau dimakan," balas Tari tersenyum kaku menjauhkan tubuhnya dari David, karena ia merasa ngeri melihat tatapan David yang seperti singa kelaparan menatap dadanya.
"Kau harus bersikap baik pada Ella, karena dia adik perempuan ku satu-satunya," tegas David menatap datar ke arah Tari.
"Saya tidak bisa pak," balas Tari santai.
"Harus bisa," titah David mendekatkan wajahnya dengan Tari.
"Baik saya bisa bersikap baik kepada Ella," balas Tari tersenyum kecil menatap dalam mata David.
"Tapi, sekali dia jahat dengan saya maka akan saya balas sepuluh kali lipat," lanjut Tari tersenyum lebar membelai jambang David.
"Siapa yang mengizinkan mu membalas nya," tanya David menahan tekuk Tari seolah ingin berciuman, bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.
"Aku tidak mengizinkan mu untuk membalasnya," sentak David membelai bibir ranum Tari.
"Bapak tidak berhak."
"Apa kau lupa perjanjian nya Tara Utara," tanya David tersenyum sinis.
"Saya ingat pak, tapi bukan berarti dengan adanya surat perjanjian itu anda bisa mengatur perilaku saya ke orang lain," sergah Tari mengelus dada bidang David.
"Kenapa kamu sangat keras kepala dan tidak takut-takutnya sih," tanya David kesal.
"Bukan keras kepala pak tetapi keras pada prinsip saya ... dan prinsip saya hanya bisa baik pada orang baik dan jahat pada orang jahat, begitu juga bukan tidak takut pak, tapi lebih tepatnya saya takut ditindas, oleh sebab itu saya berani seperti ini," jelas Tari membuat David bungkam.
Kesedihan, penyesalan, amarah dan rasa sakit yang terpancar di matanya ... apakah sesulit itu hidup nya batin David penasaran.
"Aku tidak peduli, yang jelas kau harus bersikap baik padanya," balas David pura-pura acuh mendorong kasar wajah Tari.
"Kita lihat saja nanti," balas Tari menatap lurus kedepan.
***
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, terlihat seorang wanita cantik dan seksi mengobrol dengan seorang gadis cantik dan imut di sebuah restoran mewah.
"Bagaimana menurut mu tentang wanita itu," tanya Nesya pada gadis imut itu.
"Dia seperti siluman," balasnya seraya tersenyum kecil mengaduk-aduk minumannya.
"Apa kamu bisa menyingkirkannya, sama seperti Lucy dulu," tanya Nesya serius.
"Pasti, karena aku akan bermain cantik dengannya, sama seperti dulu aku yang merecoki Lucy sehingga dia kabur dari sisi kak David," balas gadis itu membuat Nesya tersenyum senang.
"Ya, aku sangat senang melihat si Lucy itu pergi dari kehidupan David, karena adanya dia cuma memberikan pengaruh buruk pada David," balas Nesya tersenyum kecil namun tulus.
"Tapi mungkin tak lama lagi dia akan kembali lagi ke sisi kak David," balas gadis itu asal membuat Nesya tersentak.
"Aku tidak akan tinggal diam bila itu terjadi," tukas Nesya dengan mata yang memerah memendam amarah yang besar.
"Hey ... rileks saja, kita tidak usah khawatir karena ada istri kak David yang melawannya, aku yakin perseteruan mereka nantinya akan sangat seru," ujar gadis tersebut terkekeh geli melihat ekspresi Nesya.
"Ya, kau ada benarnya juga ... aku yakin itu pasti sangat seru nantinya," balas Nesya tertawa lepas.
***
"Siapkan aku air hangat," titah David pada Tari yang sedang mengecat kuku kakinya.
"Sebentar lagi pak, ini belum siap," balas Tari tanpa menoleh ke arah David.
"Jangan buat aku marah Tara, karena nanti kau tidak akan sanggup menahan kemarahan ku," sentak David dengan nada tinggi membuat Tari kaget.
"Eh ayam, ayam ... ah, bapak kenapa teriak-teriak sih, bikin cat nya berantakan aja deh," sungut Tari mengerucutkan bibirnya.
"Kau benar-benar menguji ku Tara Utara," ujar David dingin berjalan menuju ke arah Tari dengan tatapan yang sangat dingin.
"Bapak," balas Tari tergagap melihat tatapan David.
**Bersambung
Mohon maaf kemarin gak upπππ
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah..
Salem Aneuk Nanggroe Aceh β€οΈππ₯°**
__ADS_1