
Pemandangan di area perkampungan sangat lah indah. Dimana mata seorang pria bermata biru tampak kagum memandang area di perkampungan tersebut yang di hiasi oleh warna hijau pepohonan rindang serta kuning padi di area persawahan. Berulang kali pria itu memejamkan matanya sembari menghirup rakus udara bersih di sekitarnya. Tidak ada polusi dan juga tak ada terdengar suara riuh dari suara kendaraan yang berlalu-lalang seperti di kota.
Tatapan mata nya yang biasanya tajam kini berubah teduh. Tak ada lagi raut wajah sombong yang biasanya terpasang di wajah tampannya. Setelah dirinya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para penduduk di kampung yang baru dua hari ia singgahi itu bekerja keras di bawah teriknya matahari guna mencari satu lembar uang berwarna biru setiap harinya.
Hatinya merasa terenyuh ketika mengingat betapa angkuhnya di masa lalu yang begitu suka merendahkan kaum yang berasal dari kalangan bawah. Pendidikan, harta, serta good looking di jadikan penilaian nya dulu. Sungguh sudut pandang nya dulu sangatlah salah. Bagaimana bisa dirinya dulu menghina dan menghukum seorang pelayan hanya karna tak sengaja menumpahkan minuman ke jas mahalnya. Bagaimana bisa dirinya dulu begitu mudah memecat para bawahan nya hanya karena kurang teliti dalam bekerja. Bagaimana bisa?
Ah .. ketika mengingat itu semua pria itu merasa sangat menyesal. Andai duku dirinya tahu bagaimana susahnya orang kalangan bawah mencari kerja agar bisa makan untuk sehari-hari maka pasti dirinya tidak akan tega. Sekarang dirinya mengerti akan mengapa orang-orang miskin itu mau bekerja di bawa teriknya matahari padahal gaji yang mereka dapatkan itu bahkan tidak cukup untuk membeli rokoknya. Bila orang kaya bekerja agar bisa lebih kaya lagi maka orang miskin bekerja hanya untuk makam sehari-hari.
Saat dirinya sedang merenungi semua kesalahan nya itu. Sebuah tangan melingkar di perutnya. Senyuman manis terbit di wajah nya karena ia tahu siapa pemilik tangan itu yang tak lain adalah istri tercintanya.
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Tari lembut mengecup punggung David yang terlapisi baju.
"Apa dulu bunda juga bekerja seperti mereka disini?" Bukan menjawab tapi David malah bertanya karena pikirannya sedari tadi tertuju kepada masa lalu istri nya.
"Heum .. bunda bekerja disini dulu. Sudah dari waktu aku kecil bunda sudah bekerja sebagai buruh tani ditempat juragan Subroto!" Balas Tari lembut mengukir sesuatu di punggung David dengan jarinya.
"Berapa gaji yang bunda dapat?" Tanya David lagi karena rasa penasaran di hatinya masih belum terpuaskan juga.
"Paling tinggi seratus ribu dan paling kecil tiga puluh ribu. Karena semuanya tergantung juga dengan omset yang juragan Subroto dapatkan perbulan." Jelas Tari jujur menatap wajah tampan David yang kini sudah berbalik badan menatapnya.
__ADS_1
David menarik Tari ke dalam dekapannya. Laki-laki tampan itu berulang kali mengecup pucuk kepala istri tercinta nya. Dia bersyukur bisa mendapatkan istri dari kampung meski karakter Tari seperti gadis kota.
"Apa kamu serius akan mengajak mama dan papa tinggal di Indonesia? Apakah mereka tidak keberatan?" Tari bertanya lembut mengelus rahang tegas milik David yang sekarang sudah di tumbuhi bulu karena perintah Tari.
David mengingat kembali ucapan nya yang mengatakan akan mengajak orang tuanya untuk pindah ke Jakarta demi kenyamanan istri tercinta nya. Begitulah seorang David bila sudah sangat mencintai! Pria itu akan melakukan segala cara untuk membahagiakan wanita yang dicintainya. Apapun itu akan dia lakukan bahkan nyawa pun David berikan.
"Benar! Mama dan papa akan mau karena sudah dari dulu mereka ingin pindah ke Indonesia tapi tidak jadi karena masih ada aku yang sedang merintis karir ku di Amerika. Tapi sekarang karir ku sudah bagus jadi tidak masalah lagi!" Jelas David panjang lebar membelai bibir ranum milik Tari yang tampak begitu menggoda untuk di cicipi.
"Lalu bagaimana dengan Ella?" Tanya Tari yang penasaran tentang Ella. Karena seingatnya adik iparnya itu sekarang sudah lebih jinak pada nya. Itu semua semenjak kerja sama mereka berdua untuk mengusir Lucy dari kehidupan David. Bahkan saat Tari tinggal di mension Dicaprio adik iparnya itu pernah beberapa kali menelpon menanyakan keadaan dirinya dan juga baby boy meski cara bicaranya masih ketus.
"Mungkin dia akan melanjutkan kuliahnya di Australia atau akan ikut kita tinggal di Jakarta! Kasian Ella yang sering kali di tinggal pergi oleh orang tuanya untuk bekerja. Oleh sebab itu Ella sangat manja kepada ku dan Alex karena selama ini cuma kami berdua yang memberikan kasih sayang padanya!" Terang David panjang lebar membuat Tari merasa iba pada Ella. Dirinya sekarang mengerti mengapa Ella begitu menyayangi David dan juga mengapa gadis itu tak ingin bila ada orang-orang jahat di sisi David.
Tampak David terdiam beberapa saat tak lama kemudian ia pun mengangguk kepalanya menyetujui saran Tari.
Tak lama kemudian Bunda Lina menghampiri kedua sejoli itu yang sedang asik bercengkrama di tepian sawah.
"Ada apa, Bun?" Tanya Tari lembut pada wanita paruh baya yang masih cantik itu.
"Bunda mau bertanya sama pada suami kamu!" Bunda Lina berucap dengan suara yang bergetar menahan tangis membuat Tari khawatir sedangkan David terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Bunda mau tanya apa?" Tanya Tari merangkul pundak bunda Lina yang terlihat bergetar.
"Apa benar David menaikkan gaji para pekerja di sawah milik juragan Subroto?" Tanya Lina bergetar menahan tangis. Tari langsung menatap tajam ke arah David membuat pria itu mengerti apa yang harus dirinya katakan.
"Sawah itu milik bunda bukan milik juragan Subroto lagi! Aku tidak menaikkan gaji mereka tapi aku memberikan gaji mereka yang sebenarnya. Omset yang didapatkan oleh juragan Subroto perbulan itu sampai miliyaran rupiah. Gaji seratus ribu atau bahkan 30 ribu sangat tidak sesuai dengan jerih payah para pekerjanya. Itulah sebabnya aku membelikan sawah milik nya dengan harga yang fantastis dan menyuruh bunda untuk mengelolanya agar setiap kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh tani bisa mendapatkan pendapatan yang sewajarnya?!" Terang David panjang lebar membuat hati Tari sangat bahagia.
Cup
Tari mengecup bibir David di depan bunda Lina. Tubuh David seketika membeku sambil meraba bibirnya kemudian ia menatap ke arah Tari yang malah memasang wajah tanpa dosa.
Awas kamu sayang! Kalau saja tidak ada bunda maka akan aku pastikan tongkat ku masuk di pinggir sawah ini batin David kesal.
**Bersambung.
Halo-halo kakak semua author hadir lagi iniπ€π€
Like 1000 dan komentar π― author bakal triple up π₯°π₯°π₯°ππππ
jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak π₯°π₯°
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh β€οΈπ₯°β€οΈ**